<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rahim Setan</title>
	<atom:link href="http://erwinadriansyah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com</link>
	<description>Tempat karya-karya aneh, mesum, jorok, vulgar, dan brutal dikandung serta dikembangbiakkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 05:22:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='erwinadriansyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rahim Setan</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://erwinadriansyah.wordpress.com/osd.xml" title="Rahim Setan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://erwinadriansyah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MAHAKARYA</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2011/12/27/mahakarya/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2011/12/27/mahakarya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 05:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen yang diikutsertakan dalam Kontes Cerpen Vandaria Sempurna, batinku saat memasangkan batu mulia terakhir ke mahakaryaku. Dan betapa gaun putih panjang menyapu lantai ini layak disebut mahakarya. Dia dihiasi taburan kristal berikut aksen renda mewah nan elegan yang memanjang hingga ke bawah. Namun dekorasi pamungkasnya terletak di bagian atas: delima api besar berbentuk hati pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=107&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen yang diikutsertakan dalam Kontes Cerpen Vandaria</p>
<p><span id="more-107"></span></p>
<p><em>Sempurna</em>, batinku saat memasangkan batu mulia terakhir ke mahakaryaku.</p>
<p>Dan betapa gaun putih panjang menyapu lantai ini layak disebut mahakarya. Dia dihiasi taburan kristal berikut aksen renda mewah nan elegan yang memanjang hingga ke bawah. Namun dekorasi pamungkasnya terletak di bagian atas: delima api besar berbentuk hati pada pangkal belahan dada dipadu rangkaian berlian pada kerah <em>halter V-neck</em>.</p>
<p>Aku nyaris menghabiskan tabungan dan aset pribadiku demi mendapatkan permata-permata tersebut. Mereka pulalah yang mengatrol harga busana ini hingga ke luar akal sehat jika aku memutuskan menjualnya. Di benakku, cuma segelintir yang mau serta mampu membelinya. Biarlah. Aku juga tidak berniat melego atau sekadar memamerkannya. Dia akan jadi milikku saja.</p>
<p>Kontemplasiku terhenti karena bel di atas pintu depan berdenting, menandakan seseorang memasuki tokoku. Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi. Aku memang sudah memasang tanda buka, tapi jelas tak mengira ada yang berkunjung sepagi ini. Karyawanku bahkan belum tiba dan mereka selalu lewat pintu samping.</p>
<p>“Selamat datang di Carrousel Boutique yang <em>chic</em>, <em>unique</em> dan <em>magnifique</em>,” kataku saat berbelok memasuki galeri utama butikku dan menemukan seorang wanita tengah mengamati karya-karyaku.</p>
<p>Sekali lirik, aku langsung menyadari busananya santai, namun tetap modis. Celana jin cutbrai hitam, blus putih lengan panjang yang digulung, sepatu platform, dan tas <em>satchel</em>, pas dengan postur tinggi semampainya. Namun wajahnyalah yang membuatku terkesiap.</p>
<p>“Skara Brae,” aku mendengar mulutku berbisik takjub, “ratu pop.”</p>
<p>Pemilik rambut pirang bergelombang tersebut menoleh, senyuman manis kian memperindah bibir merah mudanya, “Selamat pagi, Nona Cher.”</p>
<p>Sialnya responsku malah melantur udik, “Kautahu namaku?”</p>
<p>Alis kirinya terangkat, “Setelah Majalah Vogue berbusa-busa menyanjungmu sebagai sang penyelamat mode, siapa yang tidak kenal Charity alias Cher?” entah mana yang lebih merdu, suaranya atau pujiannya.</p>
<p>Bila aku bermimpi, jangan bangunkan aku! “Ahem, ada yang bisa kubantu, Nona Brae?”</p>
<p>“Panggil aku Skara,” jawaban lugasnya otomatis memenangkan hatiku.</p>
<p>“Ada yang bisa kubantu, Skara?” kakiku melangkah riang mendekatinya.</p>
<p>Dipilah-pilahnya rancangan-rancanganku di rak baju gawang, “Aku diundang mengisi resepsi pernikahan Putri Lydian dari Syarikat Candrasa.”</p>
<p>Syarikat Candrasa, seingatku mereka telah berulang kali menyelamatkan dunia. Jika tidak salah, perkumpulan para pendekar pedang tersebut berperan besar mengalahkan Raja Tunggal saat bangkit kembali beberapa ratus tahun lalu.</p>
<p>“Pernikahan abad ini,” aku membeo cara media menyebut perkawinan Putri Lydian dengan Kaebold Algo, putra Presiden Kobold Algo dari Tenka Hexen Baru.</p>
<p>Ratu pop menengok, “Benar sekali, karena itu aku harus tampil maksimal.”</p>
<p>Memahami kondisinya, sebuah ide sekonyong-konyong melintas, dan sesopan mungkin kuulurkan lengan kananku, “Aku punya apa yang kaubutuhkan.”</p>
<p>Gayung bersambut, diterimanya tawaranku tanpa sungkan, “Sudah kuduga.”</p>
<p>Sentuhan kami serta-merta mengantarkan emosinya: antusias, semangat, penasaran, gembira. Semuanya tulus, layak dibalas sebaik-baiknya.</p>
<p>Karena itulah kutuntun dia ke ruang kerja di sayap kiri bagian belakang butik, “Skara Brae, bersiaplah untuk menyaksikan <em>pièce de résistance de la haute couture</em>!”</p>
<p>Secara dramatis, lengan kiriku mengarah ke adikaryaku pada sebuah maneken di tengah ruangan. Melihat busana yang kumaksud, sepasang mata birunya berbinar. Kulepaskan tautan kami dan bak tersihir, dihampirinya gaun teranyarku. Saking terpesonanya, kondisi atelirku yang bisa dibilang seperti kapal pecah seolah luput dari pandangannya.</p>
<p>Yakin umpan telah termakan, narasi profesionalku pun mengudara, “Bahannya satin dan sifon kualitas terbaik, diperkaya total 150 kristal kirana yang dipilih sendiri oleh Diero Severousky.”</p>
<p>Menggunakan telekinesis, kuredupkan penerangan dan kukendalikan arah pancaran lampu-lampu sorot di langit-langit. Sekarang karyatamaku bermandikan corong-corong cahaya dari beberapa penjuru. Alhasil, tampaklah sulur-sulur keemasan yang seakan mengalir ke bagian ekor gaun, lintasan mereka bagai membelah pendar samar yang melingkupi pakaian tersebut.</p>
<p>“A … aura apa ini? Sihir?” reaksinya terhadap efek visual ciptaanku sangat wajar.</p>
<p>Dan aku amat bersedia menjelaskannya, “Refraksi ganda, pembiasan sinar oleh kristal dan sihir di dalamnya. Harus kuakui, aku setengah mati memikirkannya, tapi terbukti, hasilnya luar biasa, bukan?”</p>
<p>Tamuku menganggut setuju, “Kalau yang itu?” ditunjuknya deraian-deraian keemasan pada permukaan kain.</p>
<p>“Sulaman vicuna aurum terberkati, hanya muncul jika tertimpa cahaya dari sudut-sudut tertentu.”</p>
<p>“Apa dapat terekam kamera?”</p>
<p>Anggukanku mantap, “Aku jamin.”</p>
<p>Penegasanku mendorong Skara mengalihkan perhatiannya ke hidangan utama, dimulai dari deretan permata pada kerah halter V-neck, “Sepuluh,” katanya lirih.</p>
<p>Penuh kebanggaan, kusambung ucapannya, “Berlian 25 karat dengan potongan serta kejernihan sempurna, diseleksi khusus untuk gaun ini, dilengkapi sertifikasi dari De Bears.”</p>
<p>Kekagumannya segera berpindah seiring gerak ragu jemarinya meraba aksesori utama yang terletak di pangkal belahan dada, “Delima api?”</p>
<p>“<em>Crème de la crème</em>, 130 karat, faset sempurna, bebas inklusi, dan secara resmi diakui De Bears dan Caulson sebagai delima api terbesar di dunia.”</p>
<p>“Aku bahkan tak tahu ada yang sebesar ini,” gumamnya lemah.</p>
<p>“Karena sebelumnya memang tak pernah ada. Dia hasil fusi empat delima api. Proses penyatuannya dilaksanakan di bawah pengawasan Magus Agung Gefero dan Profesor Doktor Jeonah Machem.”</p>
<p>Sang diva menyeringai “Mereka terdengar … penting.”</p>
<p>Aku tertawa tertahan, “Sebenarnya aku juga tidak kenal, tapi kupikir bisa berguna untuk promosi, jadi kusebutkan saja.”</p>
<p>Dia memetikkan jari, “Aha, taktik licik, aku suka.” Kami terkekeh, namun Skara kembali serius, “Soal ukurannya ….”</p>
<p>“Jangan khawatir,” walau berisiko dianggap kurang ajar karena menyelanya, aku harus meyakinkan calon pembeliku, “sebetulnya aku merancangnya kurang lebih berdasarkan dirimu.”</p>
<p>Bibirnya terkembang, “Wah, sungguh?”</p>
<p>Tentu saja tidak, aku merancangnya untukku sendiri! Kendati demikian, sejak kedatangannya, aku mampu menaksir bahwa tinggi serta ukuran tubuh kami mirip. Atas dasar itu pula aku berani menawarinya … juga karena dia sanggup membayar.</p>
<p>“Sungguh, segalanya lebih mudah jika membayangkan merancang untuk figur terkenal, apalagi kalau figurnya sebagus dirimu,” bualku, “tapi jujur aku tak berani berkhayal kau mau mengenakannya.”</p>
<p>“Gaun sebagus ini, siapa yang tak mau?” Dia melirik dan senyumannya mencuat, “Oh, figurmu juga bagus, kok.”</p>
<p>“Terima kasih,” aku menunduk menerima pujiannya. “Nah, ada lagi yang ingin kautanyakan? Atau apa kau mau mencoba mengenakannya?”</p>
<p>“Sayangnya tidak, aku harus berangkat satu jam lagi, tapi aku yakin dia pasti pas karena sepertinya ukuran kita sama.”</p>
<p>Ah, ternyata Skara Brae cukup jeli dan tak sedangkal dugaanku, “Baiklah, jika kau berkenan ….”</p>
<p>Memahami maksudku, si penyanyi menukas cepat, “Aku berkenan. Sebutkan hargamu.”</p>
<p>Sebuah bidang hologram terbentuk di antara kami, menampilkan detail materi, teknik pengerjaan, berikut berbagai sertifikat. Pada bagian paling bawah terdapat tujuh digit angka.</p>
<p>Ekspresinya tetap sama, “Hmm … harga yang sangat murah hati mengingat kau pasti menghabiskan begitu banyak uang demi membuatnya.”</p>
<p>Dia benar, harga patokanku cuma sekadar menutupi pembelian batu-batu berharga yang kugunakan, tapi sudahlah, “Sebagai perancang busana, tak ada yang terlalu mahal untuk sebuah pernyataan fashion.”</p>
<p>Lawan bicaraku mengerling, “Dan sebagai pembeli, harusnya aku yang bilang begitu.” Diamatinya lagi jumlah tersebut, “Aku bersedia membayar lebih mahal seandainya barangnya memang layak,” lalu ditatapnya aku lekat-lekat, “kauyakin tidak mau menaikkan harganya?”</p>
<p>Percuma, uang tak pernah menjadi pertimbanganku tatkala mendesainnya, “Bila kau benar-benar memakainya pada resepsi Putri Lydian, maka itu sebuah kehormatan besar bagiku dan promosi tak ternilai bagi bisnisku.”</p>
<p>Sang biduanita tersohor menghela napas, “Baiklah, tapi nanti kalau ada apa-apa, tolong dibantu, ya?”</p>
<p>“Dengan senang hati. Jadi, apa kita sepakat?”</p>
<p>Anggun lengan kanannya terangkat menyentuh layar digital tersebut, “Sepakat.”</p>
<p>Proyeksi tadi bersinar dan kini tampilannya berubah. Pada sisiku menunjukkan jumlah uang yang ditransfer ke rekeningku, sedangkan pada sisi Skara memberitahukan jumlah uang yang dideduksi dari rekeningnya.</p>
<p>“Terima kasih. Mau dikirim ke mana?” tanyaku.</p>
<p>“Nanti kukabari, sekarang aku harus permisi, timku pasti sudah panik mencari-cariku,” katanya sambil berbalik dan melangkah menjauh diikuti olehku, “Aku terkesan. Awalnya aku ke sini karena iseng, tapi akhirnya pulang membayar hampir sepuluh juta untuk sebuah gaun.”</p>
<p>“Aku hanya berharap layananku tak mengecewakan,” merendah selalu merupakan respons terbaik bagi orang di posisiku.</p>
<p>“Kecewa? Mustahil.” Sebelum berbelok ke galeri utama, dia berhenti dan melemparkan pandangan syahdu ke karyaku yang sekarang miliknya, “Akhirnya aku paham kenapa mereka menjulukimu sang penyelamat mode.” Ditatapnya aku lekat-lekat, “Hasil karyamu bukan sekadar busana atau tren, melainkan karya seni tingkat tinggi.”</p>
<p>“Terima kasih,” kuantar dia ke pintu depan, “semoga kau sudi berkunjung lagi.”</p>
<p>“Pasti, sampai jumpa, Nona Cher.”</p>
<p>“Anu, Cher saja.”</p>
<p>“Lancangnya aku. Sampai jumpa, Cher,” ucapnya disusul cium pipi kiri dan kanan.</p>
<p>Terus terang keramahannya membuatku kikuk, “Ah, ya, sampai jumpa.”</p>
<p>Setelah pelangganku meninggalkan butik, mendadak hawa dingin menjalari tengkukku, membuat kekuatanku bergolak bangkit. Ada penyusup! Secepat kilat aku melesat balik ke sanggar tempat sensasi ganjil tersebut bersumber. Dia pasti di sana!</p>
<p>Dan memang di sanalah dia berada, berdiri mengamati kreasi terbaruku. Seorang dewi, demikianlah deskripsi paling mendekati, setidaknya berdasarkan penglihatan tingkat tinggiku. Matanya adalah kanta nirwana, kulitnya bias pelita, busananya bara baskara, dan rambutnya gugus kartika … duh, kenapa aku jadi puitis begini tiap kali menjumpainya?</p>
<p><em>Selamat pagi</em>, suaranya pun menyerupai guntur semesta.</p>
<p>Aku memejam dan memijat kening, berupaya menenangkan indra-indraku. Saat kelopakku membuka, yang kulihat adalah seorang wanita mungil berkulit cerah, cenderung pucat. Wajahnya mulus manis dengan hidung bangir dan bibir tipis. Rambutnya pendek sebahu, hitam pekat, multi-layered, disertai poni yang menyembunyikan mata kanannya, sedangkan mata kirinya menunjukkan binar hijau sendu.</p>
<p>Selain itu penampilannya biasa saja, seperti biasa. Busananya semi formal: celana panjang dan blazer hitam yang tidak dikancing dipadu blus putih.  Riasan pun nyaris tiada.</p>
<p>“Selamat pagi, Zee,” sapaku seraya memendam emosi dalam-dalam, “tapi mungkin lain kali lewat pintu depan saja. Bagaimana jika kau teleportasi ke sini saat ada pembeli?”</p>
<p>Dia menggeleng dan kembali menjenaki karyaku, “Tidak akan,” responsnya terdengar amat halus bagi telinga normalku.</p>
<p>Aku mendesah, “Ya, ya, aku tahu kau selalu mengintipku dari jauh,” dan aku takkan mengatakannya, tapi aku menyukai atensinya.</p>
<p>“Memerhatikan,” koreksinya acuh tak acuh.</p>
<p>“Sama saja,” aku pura-pura cuek. “Omong-omong, bukannya kau seharusnya mengawal Celestia?”</p>
<p>Menyebut namanya mengingatkanku pada pertemuan pertama kami beberapa tahun lalu. Saat itu aku baru memulai karier sebagai perancang busana dan mengembangkan bisnis butik menggunakan uang warisan mendiang orang tuaku. Mereka berlima mendatangiku sebagai rombongan teraneh yang pernah kutemui: politikus terkenal Celestia Nichols dan putri badungnya Luna; pasangan pelacur-germo, Seraph dan Gemiere; serta Zee alias Zephyr yang mengaku sebagai <em>Frameless</em> atau penyihir atau <em>Homo magicus</em> terakhir.</p>
<p>Mereka menyatakan aku adalah <em>Sublimis Persona</em> dan kekuatanku dibutuhkan untuk mengalahkan <em>Sublimis Persona</em> lain bernama Deus. Awalnya aku menolak karena tidak percaya, juga lantaran yakin mereka sudah gila. Alhasil mereka nekat menculikku serta menunjukkan padaku wajah Vandaria yang sebenarnya: kacau, carut-marut dan tidak jelas. Setelahnya, aku memutuskan bergabung, bahkan sampai mendeklarasikan akan menyelamatkan dunia melalui mode. Haha, konyol sekali aku yang dulu.</p>
<p>“Celestia sedang mengikuti pertemuan tingkat kepala negara di Persatuan Bangsa-Bangsa,” jawabannya mengembalikanku ke masa kini. “Protokol keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa nomor satu, ‘Persatuan Bangsa-Bangsa melalui pasukan keamanannya bertanggung jawab penuh terhadap keamanan’. Protokol keamanan pertemuan tingkat kepala negara Persatuan Bangsa-Bangsa nomor satu ….”</p>
<p>“Aku mengerti,” potongku, “pengawal kepala negara tidak diizinkan masuk, tapi bukannya kau harus tetap siaga menunggu di sana?”</p>
<p>“Bosan,” tanggapnya pelan sementara lengan kirinya terulur menjangkau gaun Skara, “ini bagus.”</p>
<p>Kuhentikan dia dengan menepak punggung tangannya, “Jangan dipegang, sudah dibeli orang.”</p>
<p>Ditatapnya aku menggunakan pandangan menyelidik, “Kesal sekaligus gembira? Kenapa perasaanmu aneh sekali?”</p>
<p>Sialan! Aksiku menghalanginya membaca emosiku melalui gaun rancanganku malah membuatnya membaca emosiku melalui sentuhan kami. Panik, kuambil sebuah kotak kulit dari meja menggunakan telekinesis. Sesaat kemudian, sebatang rokok sudah bertengger di antara bibirku, menyala tanpa disulut.</p>
<p>“Aku kesal karena kukira ada pencuri masuk dan aku bukan gembira melainkan lega ternyata cuma kau yang datang,” aku berkelit.</p>
<p>Mata hijaunya menatapku sangsi sedangkan tangannya perlahan mengambil gulungan tembakau tipis itu dari mulutku, “Merokok merusak kesehatan.”</p>
<p>“Apa pedulimu?”</p>
<p>“Aku peduli.”</p>
<p>Boleh jadi terbebani keharusan menyembunyikan afeksi, jawabannya malah membuatku dongkol, “Tidak, kau tak peduli! Kau hanya merasa berutang budi karena aku menyelamatkan bokongmu dari serangan Deus!”</p>
<p>Meski aku langsung menyesali ucapanku barusan, aku takkan pernah menyesal telah melindunginya dalam konfrontasi terakhir melawan Deus. Seandainya harus mengulanginya lagi dan lagi, aku akan terus membuat pilihan yang sama walau akibatnya terlalu fatal bagiku.</p>
<p>Kala itu Zee dan Seraph tengah merapal sihir yang dirancang khusus untuk menandingi <em>Grand Ark</em>, serangan terkuat Deus. Matian-matian aku, Gemiere, Luna dan Celestia menghadang musuh agar tak mencapai kedua rekan kami. Pada saat penentuan, setelah kehabisan pilihan, aku melemparkan diri sebagai pagar betis terakhir bagi Zee. Pedang sang penjahat menembus tubuhku.</p>
<p>Pengorbananku memberikan cukup waktu demi menyelesaikan mantra andalan kami, <em>Ultima Ratio Reginarum</em>. Dan betapa sihir itu membuat kelompokku mengamuk laksana gerombolan dewi yang tengah dilanda nyeri menstruasi. Kawananku memelonco Deus, menjadikannya ibarat kain untuk mengepel Vandaria sebelum akhirnya mengebirinya lalu menjadikan kepalanya sebagai bola sepak.</p>
<p>“Masa lalu,” sontak aku tersadar dan mendapati Zee memegang pipiku, “seandainya aku bisa mengubahnya agar kau tak harus mengambil keputusan menyakitkan itu,” kepedihan memenuhi suaranya, “aku pasti ….”</p>
<p>Takut dia membaca lebih jauh, aku melepaskan diri, “Sudah kubilang, kau tak berutang apa pun padaku. Aku akan melakukan hal serupa untuk teman-teman kita yang lain, karena itulah yang teman lakukan, saling melindungi.”</p>
<p>“Teman?” tanyanya bimbang.</p>
<p>“Ya, teman,” <em>karena lebih dari itu, kau akan menjauhiku, mengganggapku aneh, membenciku</em>!</p>
<p>Suaranya berubah serius, “Cher.”</p>
<p>“Ya?”</p>
<p>“Aku tahu …” mendadak parasnya menegang, mata kirinya membeliak dan bersinar kehijauan sementara binar ungu memancar dari sela-sela poni yang menutupi mata kanannya.</p>
<p>Cemas, sigap kuggenggam tangannya dan sepotong suara wanita tua nan hangat merasuki pikiranku, <em>Mereka bersenjata lengkap, jumlahnya puluhan … oh, hai, Cher</em>.</p>
<p><em>Halo, Tia</em>, kusapa rekanku Celestia, <em>ada apa? Sepertinya serius sekali</em>.</p>
<p><em>Teroris mengambil alih Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa, mereka menyandera semua orang</em>, menilik ketenangannya, sepertinya dia tak terlalu khawatir.</p>
<p><em>Tuntutan mereka</em>? tanya Zee.</p>
<p><em>Belum ada, tapi terus terang, aku malas menunggu dan memberi mereka waktu berbuat macam-macam</em>, ujarnya kalem, namun aku mengenali percikan semangat di balik pesannya.</p>
<p><em>Kenapa tidak kauhajar sendiri saja? Kau pasti sudah tak sabar, kan</em>? pancingku.</p>
<p><em>Apa kata dunia kalau sekelompok teroris dihajar nenek-nenek birokrat</em>? responsnya memaksaku dan Zee cengar-cengir. <em>Tidak, aku akan duduk manis sambil minum teh sementara kalian menyelamatkanku</em>.</p>
<p>Zee menatapku tajam, lalu menanggapi, <em>Aku sendiri sudah cukup, berikan mandatnya padaku</em>.</p>
<p><em>Terserah, tapi jangan lama-lama</em>. Hening, kemudian, <em>Melalui Mandat Darurat Nomor 1 Tahun 1401, saya, Celestia Nichols selaku Presiden Republik Neomenia, memanggil dan memobilisasi Unit Khusus Sublimis Personae untuk mengambil tindakan drastis demi memberantas teroris dan memulihkan keamanan di Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa</em>.</p>
<p>Zee meletakkan telapak kanannya di dada, <em>Frameless Zephyr siap menjawab panggilan Presiden Celestia Nichols</em>.</p>
<p>Kutirukan aksinya dan kusebutkan identitas asliku, <em>Sublimis Persona Cyalle siap menjawab panggilan Presiden Celestia Nichols</em>, akibatnya rekanku cemberut.</p>
<p>Bukannya mengucapkan penutup, Celestia ikut-ikutan menggunakan alter egonya yang tegas, keras dan terdengar jauh lebih muda, <em>Sublimis Persona Edessa siap menjawab panggilan Presiden Celestia Nichols</em>!</p>
<p><em>Bilang saja kau sudah gatal mau rusuh</em>, komentarku iseng.</p>
<p><em>Heh, berisik</em>! Selanjutnya nadanya kembali menjadi khas kepala negara, <em>Demikianlah mandat ini tertulis</em>.</p>
<p><em>Dan demikianlah mandat ini akan terlaksana</em>, kami bertiga menjawab serempak.</p>
<p><em>Sampai jumpa di medan laga, nona-nona. Tia, undur diri</em>.</p>
<p>Setelah kawan kami memutuskan koneksi batin, Zee langsung mengecamku, “Untuk apa tadi itu?”</p>
<p>“Teman saling melindungi,” ucapku mantap. Apa pun yang terjadi, pantang kubiarkan dia bertarung sendirian!</p>
<p>“Tapi kau sudah pensiun, berhenti, takkan bertarung lagi!</p>
<p>“Aku takkan pernah pensiun sebagai Sublimis Persona,” <em>sebagaimana aku takkan berhenti menyayangimu dan bertarung demi melindungimu</em>.</p>
<p>“Tapi … kondisimu ….”</p>
<p>Kutempelkan telunjuk kiri ke bibirnya. Aku tahu dia tahu keadaanku sebenarnya, tapi biarlah tiada kata terucap di antara kami. Biarlah rasa sakit ini menjadi milikku saja.</p>
<p>“Sebaiknya kita bergegas, Tia benci menunggu lama-lama,” aku mengedipkan sebelah mata.</p>
<p>“Eh, anu,” sepertinya Zee kecolongan oleh perubahan sikapku yang 180 derajat, baguslah.</p>
<p>“Jadi, kita teleportasi ke sana?”</p>
<p>“Umm, tidak bisa, dalam keadaan darurat, akses intermaya dalam radius 15 kilometer dari Markas Besar diblokir secara otomatis untuk mencegah pelaku melarikan diri atau mendatangkan bantuan,” Zee yang kukenal lambat laun kembali.</p>
<p>Intermaya adalah jaringan sihir berbasis infrastruktur rune. Umumnya hanya digunakan sebagai tempat perdagangan virtual atau sekadar sarana bersosialisasi. Meski demikian, pengguna sihir tingkat tinggi dapat memanfaatkannya sebagai jalan raya super agar sampai ke tempat tujuan alias teleportasi.</p>
<p>“Jadi kita teleportasi ke area di luar blokade terus jalan kaki ke sana?”</p>
<p>Kepalanya menggeleng, “Bukan jalan kaki, terjun bebas.”</p>
<p>Aku melongo, “Maksud?”</p>
<p>“Secara vertikal, radius 15 kilometer itu di atas batas maksimum ketinggian jelajah pesawat terbang. Artinya para pelaku takkan bisa kabur dengan cara teleportasi ke pesawat terbang,” jelasnya panjang lebar. “Sekarang, berapa ketinggian maksimum yang bisa dicapai transmisi intermaya?”</p>
<p>Sebuah lampu menyala di kepalaku, “Sekitar 20 kilometer.”</p>
<p>“Benar sekali. Seperti katamu, kita teleportasi ke atas Markas Besar tepat di luar blokade intermaya, meluncur turun, kalahkan musuh, pulang.”</p>
<p>“Pertahanan udara macam apa yang akan kita temui?” bukannya takut atau apa, namun alangkah baiknya mengetahui kekuatan lawan yang akan kami hadapi.</p>
<p>“Kuperkirakan cuma misil anti serangan udara, pesawat tak berawak, atau paling parah pesawat tempur.” Meski ronanya berbeda, sepasang matanya memancarkan kecemasan, “Tapi aku tetap keberatan kau ikut serta.”</p>
<p>Kubelai pipinya, “Terima kasih telah memedulikanku.”</p>
<p>Andai harus mati saat ini juga, aku ikhlas. Yang kuinginkan hanya seseorang memerhatikanku, mengetahui keberadaanku, dan mungkin mengingatku saat aku telah tiada. Jika aku bisa membuat seseorang, satu orang saja, merasa kehilangan atas kepergianku, maka seluruh penderitaan dan kesepian yang kurasakan terbayar sudah.</p>
<p>Tapi aku takkan mati di sini, “Ayo,” ajakku.</p>
<p>Terjadilah. Pola matahari merah menyala di dada Zee, menembus pakaiannya. Serupa tapi tak sama, citra surya dalam naungan bulan sabit terbentuk di punggung tangan kiriku. Seiring itu, pakaian kami membara sirna, tergantikan full body suit ketat terbuat dari serat-serat mana, putih untukku, hitam bagi pasanganku. Selanjutnya pelindung dada, tulang kering, lengan, dan bahu mewujud, sekeras berlian, seringan kapas, seragam dengan warna utama kami.</p>
<p>Mencapai puncak transformasi, segenap eksistensi dan kekuatanku bak tertarik menuju bagian belakang disertai sensasi yang membuatku mendesah tak berdaya. Setelahnya, energi kembali tersebar merata melingkupi badanku. Tak hanya itu, kini di punggungku mencuatlah sayap kupu-kupu demonik bercorak gradasi biru ungu dan hitam.</p>
<p>Mitraku juga telah menuntaskan perubahannya. Rambutnya berkilau keperakan. Sosoknya pun terlihat agung berkat sayap logam yang memanjang dari sebuah simpai besar penuh ukiran indah yang mengambang di balik badannya.</p>
<p>“Zephyr,” tegurku.</p>
<p>“Cyalle,” balasnya, “kau menawan, seperti biasa.”</p>
<p>Refleks aku melangkah ke cermin besar di pinggir ruangan demi mengonfirmasikan pernyataannya, “Setahun lebih aku tidak tampil seperti ini.” Kusentuh ujung rambutku yang melingkar, “Dan aku selalu bersyukur tiap kali menyadari gaya rambutku tidak rusak.”</p>
<p>“Siap?” topeng mulus yang hanya menunjukkan sepasang mata berpijar keemasan membentuk menutupi paras Zee.</p>
<p>Aku memejam. Seluruh pintu dan jendela gedung lantas mengunci. Terakhir, kukirimkan pesan ke semua karyawanku, memberitahukan bahwa hari ini butik tutup karena aku ada urusan mendadak.</p>
<p>“Siap,” jawabku seraya merealisasikan pelindung wajah.</p>
<p>Zee mengulurkan kedua lengan yang dengan senang hati kusambut. Kegelapan kemudian merembet turun dan badan kami berdenyar seakan hendak melawannya. Segalanya akhirnya sirna ditelan ketiadaan, menyisakan aku dan dia yang berhadap-hadapan. Kendati tak keberatan bila seterusnya begini saja, cahaya mendadak menyoroti dari sisi kanan atas. Aku menengok dan mendapati sumbernya adalah matahari. Melongok ke bawah, daratan membentang luas, nihil awan.</p>
<p>Dilepaskannya tautan kami lalu energi sihir alami menjalari tangan kanannya, serta-merta mematerialisasi sebagai sebilah pedang keperakan, <em>Mana senjatamu</em>?</p>
<p>Aku mengerising, membentangkan kedua lengan selebar-lebarnya. Riak-riak ruang waktu bermunculan di sekitarku. Masing-masing mengeluarkan sepucuk  senjata api. Pistol, senapan, <em>shotgun, minigun</em>, peluncur roket, ratusan jumlahnya, menyebar laksana perpanjangan sayapku. Belum cukup, lima buah jangkar raksasa turut pula menyembul, salah satunya lebih masif dari yang lain.</p>
<p>Zephyr menyeringai puas, <em>Jangan kecewakan aku, Imitasi</em>!</p>
<p>Rekanku jungkir balik dan melesat ke Vandaria, menyisakan jejak-jejak emisi energi murni. Santai saja aku mengikutinya dibuntuti semua perkakasku kecuali sauh-sauh tadi.</p>
<p>Tatkala misil-misil anti serangan udara menyambut Zee, aku balas meledek, <em>Tunjukkan kemampuanmu, Penyihir</em>!</p>
<p>Hal itulah yang dilakukannya. Tanpa mengurangi kecepatan, sang frameless meliuk menghindari sebagian besar rudal serta menebas yang berada di hadapannya. Ledakan demi ledakan mengguncang langit. Dia pun hilang ditelan gumpalan asap, sesekali siluetnya berkelebat sebelum tertutupi oleh eksplosi lain.</p>
<p>Sadar peluru-peluru kendali itu sepertinya mengunci rekanku, aku memutuskan menahan posisi di ketinggian. Sepucuk senapan melayang ke lenganku.<br />
Sembari membidik, aku bersenandung, <em>Charity, Charity, tunjukkan kemurahan hati</em>.</p>
<p><em>Jangan menyanyi</em>! pekikan hati Zee menjangkauku.</p>
<p>Kuabaikan dia, <em>Karena tiada yang kauberi, kecuali peluru dan artileri</em>.</p>
<p>Bedilku menggelegar menghasilkan semburat biru tipis secepat kilat. Lintasan awalnya lurus, tetapi kurang sedetik kemudian berbelok zig-zag ke segala penjuru, menembus satu per satu misil. Desingnya disusul gemuruh bertalu-talu. Sasaran terakhirnya adalah Zephyr yang tangkas menangkisnya memakai pedang.</p>
<p><em>Satu peluru</em>, batinku sombong karena berhasil membersihkan cakrawala dari gelombang pertama pertahanan Markas Besar.</p>
<p>Sobatku melaju lagi, <em>Lumayan</em>.</p>
<p>Baru sebentar merasa jemawa, telingaku menangkap dengungan laksana gerombolan hama neraka. Menggunakan penglihatan tingkat tinggi, aku menyaksikan sesuatu serupa sekumpulan tawon mengangkasa menuju tepat ke sini.</p>
<p><em>Pesawat tak berawak! Tetap di sana</em>! Zee mengingatkan. <em>Biar aku yang urus</em>!</p>
<p>Pembesaran lebih lanjut membenarkan pernyataannya. Ukuran mereka boleh dibilang mini. Bentang sayapnya hanya sekitar lima meter ditambah dua jet kecil pada bagian ekor. Jumlahnya setidaknya ratusan, mungkin ribuan.</p>
<p>Mengingat rekanku sudah menerjang tepat ke pusat gerombolan tersebut, nyanyianku berlanjut, <em>Charity, Charity, ayo kita berderma</em>.</p>
<p>Zee mengerang kesal, <em>Terserah kaulah</em>!</p>
<p>Moncong-moncong senjataku serentak mengarah ke para pendatang, <em>Charity, Charity, tembaki mereka dengan bazoka</em>.</p>
<p>Bukan hanya bazoka, seluruh bawaanku berdegar silih berganti, menghujani kapal-kapal terbang tersebut dengan amunisi. Serpihan-serpihan logam berguguran. Walau begitu, sebagian besarnya berhasil mengelak dan balik menggempur kami dengan  rudal dan proyektil sihir hijau pucat.</p>
<p>Melengkapi gerak manuverku, belasan senapan serta-merta mengorbitku, menargetkan pesawat-pesawat yang mendekat, <em>Berapa jauh lagi</em>?</p>
<p><em>Baru setengah jalan! Sudah kubilang tak usah ikut</em>! sobatku merepet.</p>
<p>Kesal dimarahi, kusambar sepasang senapan gatling, satu untuk tiap tangan. Tergelak-gelak layaknya seorang maniak, kuberondong lawan-lawanku.</p>
<p><em>Berhentilah bermain-main</em>!</p>
<p><em>Baik, Nyonya</em>, patuh, kusandangkan sebuah meriam mana berukuran jumbo di bahu kanan.</p>
<p>Dua detik kemudian, kulepaskan energinya, menyapu bersih musuh sederet penuh. Selanjutnya menghindar, menukik, tembak lagi, ulangi prosesnya, bosan.</p>
<p><em>Hati-hati! Ada lagi yang datang</em>!</p>
<p><em>Pesawat tempur</em>?  antusiasmeku mengambil alih.</p>
<p><em>Bukan … roket</em>!</p>
<p>Puluhan benda yang dimaksud menghampiri kami. Ukurannya jauh melebihi misil, mirip yang sering diluncurkan dalam misi eksplorasi angkasa. Aku membidik salah satunya, namun bagian-bagian roket tersebut mendadak terlepas. Dari sisi-sisinya, dua ekor makhluk melesat membebaskan diri. Kecepatan mereka mengagumkan dan bentuknya tak salah lagi.</p>
<p>Bersisik berkilau, bersayap selaput, empat kaki, ekor panjang, leher agak panjang, kepala kadal, bertanduk, apa lagi kalau bukan, <em>Naga</em>!</p>
<p><em>Jangan panik</em>! jeritan batin pasanganku membahana.</p>
<p>Tawaku meledak, <em>Siapa yang panik</em>?</p>
<p>Aku menambah ketinggian, menjauhi hiruk pikuk pertarungan udara sambil terus menembaki pesawat-pesawat tak berawak. Sekawanan reptil terbang mengejar. Bagus.</p>
<p>Setibanya di langit nan lega, kuangkat tanganku ke atas sedramatis mungkin dan mengaum, “Lihatlah aku, Vandaria! Akulah! Charity!”</p>
<p>Serempak jangkar-jangkarku terjun bebas gila-gilaan, telak mengenai sekaligus meluluhlantakkan lima ekor dragon. Sisanya terdisintegrasi oleh serangan kanon-kanon sihir yang berdentum-dentum.</p>
<p>Penuh khidmat, haluan-haluan kapal tiba di samping kiri dan kananku, di atas dan bawahku serta di belakangku. Inilah armada yang kucuri sepanjang petualangan kami dulu: empat kapal perusak dan satu kapal induk super.</p>
<p><em>Dasar gila</em>!</p>
<p><em>Tidak segila itu hingga membawa sauh tanpa kapalnya</em>, bantahku. Yakin pertempuran ini telah mencapai klimaks, giliranku memperingati Zee, <em>Menyingkirlah</em>!</p>
<p><em>Sudah! Tembak saja, jangan pikirkan aku</em>!</p>
<p>Meski mustahil bagiku tidak memikirkannya, kuturuti permintaannya yang lain, “<em>Magnum opus</em>! Maksimum salvo!” komandoku menggelegar.</p>
<p>Seluruh senjataku, baik yang melayang di udara dan terpasang di kapal-kapal perang, menembak secara bersamaan. Mulai dari torpedo hingga rail gun,  semua pantang mengampuni target. Pesawat-pesawatku turut lepas landas, memburu, menghancurkan, menjadikan langit sebagai lambang supremasiku.</p>
<p>Daguku terangkat, bangga terhadap pembantaian sepihak yang dilakukan pihakku. Apa pun yang diluncurkan teroris dari Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa,  bala tentaraku akan meremukkannya seperti serangga. Inilah akibatnya jika berani merebut … eh, apa itu tadi?</p>
<p>Aku yakin mataku menangkap sesuatu di sebelah kanan. Bagian itu, seperti bagian lainnya, penuh kekacauan. Unit-unit tak berawak milikku menghabisi punya musuh dan kadal terbang. Salah satu naga tersebut tunggang langgang, sayapnya terentang, mengingatkanku pada …kibaran lengan baju … model lonceng.</p>
<p>Ragu, aku menengok ke sebelah kiri. Gambaran serupa kutemui di sana. Di bagian tengah, pesawat terbang musuh jatuh berputar-putar, lamun yang kulihat hanyalah … pola bordir.</p>
<p>Tak bisa dipercaya, sungguh tiada terduga, wahyu tersuci di tengah medan laga, “Inspirasi!” aku melengking.</p>
<p>Bidang hologram transparan mewujud di depanku. Mana merealisasikan pensil virtual di kedua tanganku. Jiwa ragaku siap mengubah ilham menjadi karya. Dan mulailah aku berkreasi.</p>
<p>Mengikuti goresan kerasku ke kanan pada permukaan kanvas digital, rudal-rudalku menerjang ke arah yang sama, menyisakan jejak asap yang sungguh enak dipandang. Tangan kiriku pun sigap menerjemahkan semburan api dragon dan detonasi sebagai motif dan warna bulu merak.</p>
<p>Saking asyiknya, aku baru sadar kami telah mendarat ketika rancanganku selesai. Para teroris? Berserakan di sekitar kami, di antara rongsokan pesawat tak berawak dan bangkai naga. Edessa menjalankan tugasnya secara profesional, seperti biasa.</p>
<p>Malamnya, setelah seharian mengawal Presiden Celestia sebagai anggota unit elite Sublimis Personae, aku dan Zee bersantai di balkon kamar hotel kami yang menghadap pantai. Di atas sana, bulan purnama bersinar menemani kemilau bintang-bintang.</p>
<p>“Indah,” Zee yang duduk di birai mengomentari desain teranyarku pada bidang hologram.</p>
<p>Tanpa mengubah posisi berbaringku di sofa chaise longue, kuterima layar virtual tersebut, “Terima kasih.”</p>
<p>Kuamati rancanganku sejenak. Tak ada kata yang bisa mendeskripsikannya. Mungkin memang tidak perlu dielaborasikan selama aku mampu menjadikannya sesuatu yang nyata. Dan aku pasti mampu!</p>
<p>Pada saat itulah aku menyadari kesunyian di antara kami. Hening, seolah suara cuma akan menodai kebersamaan kami.</p>
<p>Hingga akhirnya, “Cher.”</p>
<p>“Ya?”</p>
<p>“Aku tahu.”</p>
<p>Kutenggak botol minuman ringanku, “Soal apa?” Keadaan kesehatanku? Perasaanku padanya?</p>
<p>“Semuanya.”</p>
<p>Aku membeku.</p>
<p>“Aku hanya ingin kautahu, aku di sini untukmu &#8230; sebagai teman.”</p>
<p>Tidak lebih, tidak kurang. Jujur saja, hatiku hancur. Anehnya, tidak sesakit yang kukira. Mungkin aku ikhlas, bisa jadi aku pasrah, atau malah gara-gara sudah tahu akhirnya akan begini?</p>
<p>Yang jelas, aku dapat mendengar mulutku bicara, “Hanya itu yang kupinta darimu, tidak kurang, tidak lebih.”</p>
<p>Kuperhatikan desainku. Seketika itu pula goresan dan warnanya mengingatkanku bahwa aku masih punya cinta yang lain. Cinta yang cukup layak untuk diperjuangkan, dipertahankan. Cinta terhadap keindahan busana dan segala kemewahannya.</p>
<p>“Dan jangan cemas, aku akan bertahan hidup, dari hari ke hari,” Karena itu, kutunjukkan karyaku padanya dengan penuh kebanggaan seorang desainer kelas dunia, “Dari mahakarya ke mahakarya.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=107&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2011/12/27/mahakarya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FOREVER WICKED &#8211; Ex Nihilo @ Evolitera</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/10/11/forever-wicked-ex-nihilo-evolitera/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/10/11/forever-wicked-ex-nihilo-evolitera/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 10:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[FOREVER WICKED]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[FOREVER WICKED &#8211; Ex Nihilo kini dapat diunduh secara utuh sebagai e-novel di Evolitera Judul: FOREVER WICKED &#8211; Ex Nihilo Kategori: Fantasi Urban Jumlah Halaman: 195 Rating: Dewasa Link unduh: http://evolitera.co.id/ebook/forever-wicked-ex-nihilo/ Halaman Goodreads.com: http://www.goodreads.com/book/show/8&#8230;forever-wicked FOREVER WICKED Ex Nihilo “Dia yang melawan monster harus memastikan dirinya tidak menjadi salah satu dari mereka.” Friedrich Nietzsche “Kota Daging”, begitulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=75&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FOREVER WICKED &#8211; Ex Nihilo kini dapat diunduh secara utuh sebagai e-novel di Evolitera<strong></strong></p>
<p>Judul: FOREVER WICKED &#8211; Ex Nihilo<br />
Kategori: Fantasi Urban<br />
Jumlah Halaman: 195<br />
Rating: Dewasa</p>
<p><strong><br />
Link unduh: <a href="http://evolitera.co.id/ebook/forever-wicked-ex-nihilo/">http://evolitera.co.id/ebook/forever-wicked-ex-nihilo/</a></strong></p>
<p><strong>Halaman Goodreads.com: <a href="http://www.goodreads.com/book/show/8141909-forever-wicked" target="_blank">http://www.goodreads.com/book/show/8&#8230;forever-wicked</a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://erwinadriansyah.files.wordpress.com/2010/04/forever-wicked-ex-nihilo-420-x-600.jpg"><br />
</a><a href="http://erwinadriansyah.files.wordpress.com/2010/10/forever-wicked-ex-nihilo.jpg"><br />
</a></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://erwinadriansyah.files.wordpress.com/2010/04/forever-wicked-ex-nihilo-420-x-600.jpg?w=495" alt="" border="0" /></p>
<div style="text-align:center;"><strong>FOREVER WICKED</strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong>Ex Nihilo</strong></div>
<div style="text-align:center;"><em><br />
“Dia yang melawan monster harus memastikan dirinya tidak menjadi salah satu dari mereka.”</em><br />
Friedrich Nietzsche</div>
<p>“Kota Daging”, begitulah kaum iblis menyebut tempat laknat yang aslinya bernama Jakarta. Dari 10 juta penduduknya, ada sangat banyak yang bisa dilahap lalu dibuang begitu saja sebagai korban tenggelam, korban mutilasi, korban tabrak lari, atau orang hilang jika yang bersangkutan dimakan hingga tak bersisa. Belum lagi para gelandangan, anak jalanan, pemulung dan orang-orang kelas bawah lain yang takkan dipedulikan keselamatannya. Jika mereka mati, toh takkan ada yang ambil pusing, kan?</p>
<p>Tak heran kaum iblis menyukai kota ini. Mulai dari sistem keamanan, sistem administrasi kependudukan, hingga sistem kesehatan, semuanya memberikan celah bagi mereka untuk memangsa sesuka hati tanpa takut terekspos oleh publik. Dalam kondisi seperti demikian, pemukiman kumuh adalah hidangan prasmanan, sedangkan rumah sakit bak meja penuh sajian menggiurkan.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya kami berlima memburu iblis, karena tahu hidup orang-orang di sini sudah cukup susah tanpa harus menjadi santapan spesies predator. Atau bisa jadi karena kami memang membenci iblis dan senang membunuh mereka.</p>
<p>Terlepas dari semua itu, satu perburuan akan mengubah hidup kami untuk selama-lamanya. Satu perburuan, dan semuanya menjadi lepas kendali seperti bola salju yang meluncur liar, menelan siapa saja yang ada di hadapannya. Dan kami adalah penyebab utamanya.</p>
<div style="text-align:center;"><em>“Dia yang menjadikan dirinya seekor monster terbebas dari segala penderitaan seorang manusia.”</em><br />
Samuel Johnson</div>
<p>Gratis!!! Silakan diunduh, dibaca dan dikomentari baik di blog ini, di halaman Evolitera atau di entry Goodreads kalau berkenan. Daaaaan kalo suka, silakan dikasih love juga yaaaa (di halaman download), terima kasih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=75&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/10/11/forever-wicked-ex-nihilo-evolitera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://erwinadriansyah.files.wordpress.com/2010/04/forever-wicked-ex-nihilo-420-x-600.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>LELEMBUT (FANTASY FIESTA 2010)</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/08/21/lelembut-fantasy-fiesta-2010/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/08/21/lelembut-fantasy-fiesta-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 23:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini diikutsertakan pada Fantasy Fiesta 2010 Keterangan lebih lanjut: http://www.rdvillam.com/2010/07/pengumuman-fantasy-fiesta-2010-dimulai/ LELEMBUT “Matur nuwun, yo Nduk,” penuh terima kasih, bibir Mbah Soma terkembang pada Mala yang meletakkan teh hangat di mejanya. Sang penyaji membalas dengan senyuman berhias lesung pipit, kemudian berlalu, tapi si pria tua terus mengamatinya. Gadis berkulit sawo matang berusia 14 tahun itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=69&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Cerita ini diikutsertakan pada Fantasy Fiesta 2010</p>
<p style="text-align:left;">Keterangan lebih lanjut: http://www.rdvillam.com/2010/07/pengumuman-fantasy-fiesta-2010-dimulai/</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-69"></span></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>LELEMBUT</strong></p>
<p>“<em>Matur nuwun, </em><em>yo </em><em>Nduk</em>,” penuh terima kasih, bibir Mbah Soma terkembang pada Mala yang meletakkan teh hangat di mejanya.</p>
<p>Sang penyaji membalas dengan senyuman berhias lesung pipit, kemudian berlalu, tapi si pria tua terus mengamatinya. Gadis berkulit sawo matang berusia 14 tahun itu cantik jelita. Sepasang matanya bulat, cokelat berkilat di atas hidung bangir dan bibir tipis. Rambut hitam panjang nan bergelombang melengkapi postur tinggi semampai, molek berkat lekukan tubuh wanita dewasa yang telah terbentuk sempurna meski cuma berbalut kaus, celana jin dan sandal jepit sederhana.</p>
<p>Mbah Soma menghela napas. Sungguh keelokan alami, namun ada keganjilan tak terlihat di dalamnya. Semacam aura dingin, mengundang dan mengancam di saat yang sama. Lelaki lanjut usia tersebut bertanya-tanya dalam hati, seperti itukah anak-anak yang terekspos hawa alam gaib?</p>
<p>Disapukannya pandangan ke lingkungan sekitar. Sebuah kolam air mancur berukuran sedang merupakan titik tengah alun-alun ini, sedangkan keempat sisinya diisi deretan tenda-tenda jajanan malam. Ada ayam bakar, nasi dan mie goreng, sate, martabak serta lain sebagainya.</p>
<p>Sekilas para penjajanya tampak biasa-biasa saja. Mereka tetap ramah, murah senyum dan ceplas-ceplos, ceria bercanda satu sama lain meski sepi pengunjung. Maklum, sekarang hari Selasa dan sudah larut. Daripada nongkrong di sini, mungkin orang-orang lebih memilih beristirahat karena besok harus bekerja.</p>
<p>Sang sesepuh sebenarnya juga tak ada urusan berada di tempat ini. Lansia seperti dirinya lebih baik tidur di rumah, di ranjang berlapis selimut hangat, dikelilingi sanak keluarga. Tapi tidak, obrolan santainya sekitar setahun lalu bersama Bejo, sang penjual ayam bakar sekaligus ayah Mala, berujung pada keberadaan dirinya sekarang dan di sini.</p>
<p>Bila diingat kembali, saat itu Mbah Soma mengutarakan kegundahannya mengingat menjelang umurnya yang ke-100 tahun, ada hal-hal yang bisa jadi takkan pernah dilakukan atau dialaminya. Salah satunya adalah berdialog dengan lelembut alias makhluk halus. Ya, berkomunikasi dua arah, bukan sekadar melihat penampakan atau merasakan kehadiran mereka.</p>
<p>Tentu lelaki tua tersebut sangat menyadari keinginannya tergolong konyol dan mustahil terkabul, tapi kenyataan bicara lain. Apa yang awalnya hanya curahan hati seorang kakek bau tanah berubah menjadi godaan nyata ketika beberapa bulan setelahnya, Bejo menyatakan harapannya mungkin dapat terwujud. Syaratnya amat mudah, Mbah Soma hanya harus percaya dan tutup mulut. Di sisi lain, dia juga diperingati bahwa memberi tahu siapa saja soal kesepakatan mereka bisa berakibat fatal karena para lelembut benci orang yang tak bisa menjaga rahasia.</p>
<p>Yakin pengalaman hidup hampir seabad membuatnya tidak mudah terkejut terhadap apa pun, Mbah Soma menyanggupi. Dan memang, kisah Bejo mengenai betapa dia dan rekan-rekannya di alun-alun meminta kekayaan kepada kaum lelembut bukan hal mengagetkan bagi si mbah. <em>Pesugihan</em>, <em>nyupang</em>, <em>penglaris</em>, atau apalah istilahnya, jelas bukan hal baru dan pasti akan selalu ada sepanjang masa.</p>
<p>“Sabar, yo, Mbah,” suara si penjaja ayam bakar membuyarkan lamunannya, “<em>sekedap malih piyambakipun bade dateng</em>,” dan mengabarkan rombongan yang ditunggu akan segera tiba.</p>
<p>“Aku sabar, kok,” sahut Mbah Soma kalem.</p>
<p>“<em>Mboten menopo-menopo </em>Mbah<em> sare radi dhalu</em>?” setengah berkelakar, Bejo mengemukakan si mbah mungkin akan tidur jauh lebih larut malam ini.</p>
<p>Lelaki tua itu tersenyum, “<em>Ora opo-opo to, ora suwe maneh aku arep turu saklawase</em>,” benar, sesekali bolehlah dia tidur telat, toh tidur abadinya pasti takkan lama lagi akan menjelang.</p>
<p>Bejo terkekeh, mengiyakan bahwa setidaknya keinginan Mbah Soma terkabul, “<em>Nggih sampun, pokokipun sampun kepanggih kalian lelembut</em>,” lalu beranjak pergi.</p>
<p>Pikiran rentanya kembali melanglang buana. Ya, ajalnya sudah dekat, dia bisa merasakannya. Semenjak kecil, setelah mengenal konsep hidup mati, entah kenapa Mbah Soma punya gambaran kasar kapan maut akan menjemput. Itu sebabnya tanpa ragu dia terjun ke medan laga, bertempur melawan penjajah Belanda kemudian Jepang. Demikian pula saat dia memutuskan jadi tentara untuk mempertahankan kemerdekaan serta menggebuk pemberontak dan disiden. Baktinya dilaksanakan gagah berani, tulus ikhlas demi negeri … karena tahu dirinya takkan wafat sebelum waktunya.</p>
<p>Walau begitu, seiring berlalunya masa, Mbah Soma mulai mengilas balik apa-apa yang telah dilihat, dialami, dan dilakukannya. Seumur hidup dia tak pernah ambisius, apalagi serakah. Pengetahuan mengenai kapan jiwanya berpulang membuatnya merasa semua fana belaka, jadi buat apa berlebih-lebihan? Toh segala kenikmatan duniawi pasti sirna begitu mengembuskan napas terakhir, sedangkan harta yang dipunya tentu jadi rebutan anak, cucu, dan menantu.</p>
<p>Karena itulah selama keluarganya cukup sandang, pangan, dan papan, dia pantang meminta lebih. Sepanjang bangsa dan negara terlayani, dia enggan mengejar kepuasan pribadi. Tapi, bagaimana jika ternyata hidup seharusnya tak hanya sebegini? Bagaimana jika seharusnya dia berbuat lebih daripada hidupnya kini?</p>
<p>Pertanyaan itu makin menghantuinya, terutama sejak anak-anaknya mampu mencari nafkah dan masa pensiunnya tiba. Selepas kepergian istri tercinta untuk selama-lamanya, Mbah Soma nekat pergi mencari jawaban, persetan keluarganya melarang dan senja usia menghadang. Apa daya, dari Serambi Mekah sampai Timor Lorosae hingga Puncak Trikora, tak kunjung ditemukannya pencerahan.</p>
<p>Mbah Soma akhirnya pulang, pasrah. Bisa jadi manusia memang tak tahu jawabannya. Tapi apa yang terjadi? <em>Weladalah</em>, malah muncul pertanyaan baru: jika manusia tidak tahu, mungkinkah yang bukan manusia tahu? Alhasil si mbah jadi ingin berbicara dengan lelembut, siapa tahu mereka tahu.</p>
<p>Sekali lagi kenangannya terusik ketika kursi roda bergerak. Kepala sang pria tua menoleh dan mendapati Mala mendorong di belakang.</p>
<p>“<em>Sampun wancinipun, </em>Mbah,” ucapnya halus, mengabari waktunya telah tiba.</p>
<p>Di luar, Bejo dan Mala mengapit sisi kiri dan kanan lansia tersebut. Bukan hanya mereka, penjual makanan lain berikut anak buah turut pula berdiri di depan kedai masing-masing. Semua ceria semringah, bibir merekah, mata nyalang penuh gairah.</p>
<p>Sekilas Mbah Soma melihat segelintir pengunjung di beberapa warung tetap pada posisinya, bak tak terjadi apa-apa. Mereka terus melahap santapan atau mengobrol seolah pergerakan para juru masak dan pramusaji luput dari pandangan. Sungguh aneh.</p>
<p>Tangan Bejo menjamah bahu kakek itu, “<em>Sampun tansah menggalih donya, </em>Mbah.<em> Donya sampun mboten wonten artosipun</em>,” menganjurkan agar jangan memikirkan lebih jauh karena yang paling penting adalah kedatangan lelembut.</p>
<p>Sang kakek balik menatap pria itu dan mengangguk. Dia siap. Apa pun yang terjadi, terjadilah.</p>
<p>Bagaikan merespons pikiran si mbah, alam mendadak senyap. Suara-suara lenyap dari telinga, kecuali gemercik air di pancuran. Keheningan mencekam kian menguat kala lampu-lampu penerangan alun-alun dan tenda lambat laun meredup, seperti malu memancarkan sinarnya.</p>
<p>Kewaspadaan Mbah Soma meningkat, namun aksi Bejo menepuk-nepuk lembut bahunya meyakinkan pria tua itu bahwa fenomena ini memang sudah selayaknya.</p>
<p>Maka berlanjutlah. Kabut pelan-pelan turun diiringi hawa dingin. Saat Mbah Soma mensyukuri syal dan jaket tebal yang dikenakannya, hidungnya tergelitik oleh wangi bunga-bungaan yang akrab dan asing di saat yang sama, macam harum mawar berbaur aroma kenanga.</p>
<p>Menambah mistisnya suasana, lamat-lamat terdengarlah merdu gesekan rebab berpadu ketukan saron serta gender berikut degung bonang dan gong. Bulu kuduk Mbah Soma meremang, sadar telinganya menangkap alunan gamelan alam lain. Namun ada yang membuatnya lebih gamang: suara orang-orang di sekitarnya memanggil-manggil dengan nada merindu nan sendu, mendesah liris seolah kangen ingin segera bertemu.</p>
<p>“Raden Ayu Saraswati, <em>aku ono kene</em>.”</p>
<p>“Ndoro Bronto Warsito ….”</p>
<p>“Raden Pawiro, <em>panjenengan wonten pundi</em>?”</p>
<p>Bahkan Mala pun begitu, maju beberapa langkah, celingak-celinguk antara kebingungan dan penuh harapan, “Kangmas Abimanyu?”</p>
<p>Sebagai tanggapan, beragam sosok mulai mewujud dalam kepekatan kabut. Walau awalnya serupa bayang kelam, siluet-siluet itu perlahan mengisap warna dari temaramnya nuansa alun-alun, membuat keberadaannya lebih mudah dipersepsi oleh mata.</p>
<p>Mbah Soma diam-diam menghitung. Jumlahnya sekitar dua puluhan, kurang lebih sebanyak khalayak yang memanggil mereka. Jika perkiraannya benar, tiap-tiap orang di sini memiliki pasangan lelembut.</p>
<p>Belum sempat dia menduga-duga lebih jauh, para pendatang telah hadir secara sempurna di hadapannya. Dan betapa Mbah Soma terperangah. Makhluk-makhluk itu menyerupai manusia, tapi jauh lebih indah. Sekadar kulitnya pun sungguh sedap dipandang: yang cerah tidak seperti <em>londo</em>, sedangkan yang gelap tidak seperti Keling. Semuanya halus mulus tanpa noda barang setitik.</p>
<p>Dan aduhai busana rombongan itu, memesona lagi menggoda. Kaum wanita mengenakan kemben dipadu kain jarik dengan belahan hingga ke atas lutut, memamerkan secuil paha nan mulus dan betis bagai padi bunting. Terikat melilit pinggang ramping mereka adalah selendang sampur merah bata yang kedua ujungnya dibiarkan menjuntai nyaris menyentuh tanah.</p>
<p>Para lelakinya hanya mengenakan kain jarik, juga belah hingga menampilkan kaki yang kokoh menjejak Bumi. Selain sabuk timang, mereka praktis bertelanjang dada, memamerkan otot-otot lengan dan perut laksana diukir pemahat kayangan.</p>
<p>Lelembut memakai aksesori sumping berkilau di atas daun telinga, tapi tak beralas kaki. Tentu itu menjadi remeh belaka ketika memandang wajah-wajah yang seluruhnya tampak muda, sekitar usia 25-30 tahun. Pipi segar berisi bagi perempuan dan garis muka tegas bagi laki-laki makin lengkap berkat hidung mancung serta bibir ranum. Rambut pun beraneka gaya, setara keluaran salon: lurus, bergelombang, keriting, dan lain sebagainya.</p>
<p>Intinya, semuanya bagus-bagus dan ayu-ayu. Wajarlah orang-orang di sini segera menghambur ke pasangan masing-masing. Tak ayal tempat ini mendadak penuh cengkerama, canda dan tawa. Sesekali terdengar pekik kegelian, entah siapa yang mendapat cubitan mesra.</p>
<p>“<em>Dadhos meniko ingkang naminipun</em> Mbah Soma,” seorang wanita menyela pengamatan sang sesepuh.</p>
<p>Si mbah menengok dan mendapati empu suara berdiri di sebelah Bejo. Mbah Soma langsung merasakan mukanya memerah dan hatinya dipenuhi keinginan untuk cepat-cepat mengalihkan pandangan</p>
<p>Meski demikian, wanita itu mencegahnya, “<em>Sampun mboten isin-isin</em>, Mbah. <em>Ing wilayah keramat meniko kito sedoyo keluargo</em>. <em>Sami-sami keluargo mboten perlu ajrih</em>,” katanya Mbah Soma boleh terus melihat karena di tanah keramat ini mereka semua keluarga, jadi jangan sungkan.</p>
<p>Dia bilang begitu, tapi mau tak mau pria tua tersebut risih. Bukan apa-apa, lawan bicaranya mengenakan kebaya kelabu panjang kerah tinggi yang menawan. Masalahnya, busana itu dan kemben di baliknya semi transparan, membuat susu pemakainya terlihat cukup jelas oleh mata Mbah Soma yang masih awas.</p>
<p>Mungkin menyadari kecanggungan dalam diri lansia yang dihormatinya, Bejo memperkenalkan wanita itu, “Mbah, <em>puniko </em>Gusti Kanjeng Ratu Sekartaji.”</p>
<p>Yakin sedang berhadapan dengan petinggi makhluk halus, Mbah Soma mengangguk dalam-dalam penuh rasa hormat, “<em>Sugeng dhalu</em>, Gusti Kanjeng Ratu Sekartaji,” lalu memutuskan untuk berkonsentrasi pada wajah lawan bicaranya dan bukan buah dada tepat di hadapannya.</p>
<p>Seperti teman-temannya, lelembut berambut mayang mengurai ini amat rupawan, tapi si mbah berhasil menemukan detail-detail penambah pesonanya. Alisnya tebal dan meninggi pada bagian ujung, sementara bulu matanya panjang juga tipis, sedangkan bagian kelopak matanya dipulas cokelat keemasan. Bibirnya sendiri jingga muda mengilap.</p>
<p>Tersenyum, Gusti Kanjeng Ratu mengungkapkan dirinya sudah dengar banyak soal Mbah Soma dari Bejo, “<em>Bejo crito kathah babagan simbah</em>,” lalu menanyakan kebenaran niat yang bersangkutan meminta pencerahan kepada lelembut,<em> </em>“<em>ngendikane wonten ingkang badhe simbah tangletaken dateng kito</em>?”</p>
<p>“<em>Leres</em>, Gusti Kanjeng Ratu.”</p>
<p>“<em>Inggih dadhosipun</em>,” si makhluk halus menengok ke belakang dan memanggil, “Andani, <em>meriki</em>, <em>Cah Ayu</em>.”</p>
<p>Sesosok wanita berjalan mendekat, anggun gemulai. Sekilas dia tampak biasa-biasa saja di antara golongannya, namun ternyata juga elok berkat wajah tirus bermahkotakan rambut belah pinggir yang bagian belakangnya digelung mungil dan dihias rangkaian bunga ros putih. Melihatnya, Mbah Soma jadi yakin tiap makhluk halus itu memiliki keindahan tersendiri.</p>
<p>Gusti Kanjeng Ratu berkata lagi, “<em>Kulo ngajak</em> Andani <em>damel ngrencangi kulo damel njawab pitakon saking panjenengan</em>,”<em> </em>menjelaskan bahwa dirinya mendelegasikan Andani untuk menjawab semua pertanyaan Mbah. “<em>Kulo tilar rumiyen nggih</em> Mbah. <em>Monggo</em>, Jo,” setelah pamit, dia pun berlalu dibuntuti Bejo yang cengengesan seperti anak kecil.</p>
<p>“<em>Nuwun sewu</em>, Mbah,” Andani kemudian bergerak ke sebelah kanan Mbah Soma.</p>
<p>Meski sempat ragu mau menyebutnya dengan panggilan apa, secepat kilat Mbah Soma memutuskan, “<em>Monggo</em>, Mbakyu.”</p>
<p>Wanita itu lalu duduk bersimpuh di tanah. Sejenak hanya ada keheningan antara keduanya sementara senda gurau berubah menjadi cumbu rayu di seluruh penjuru alun-alun. Tangan-tangan manusia dan lelembut makin berani menyentuh, meraba, juga meremas bagian-bagian tubuh paling pribadi. Bibir jua tak ragu lagi berbagi kecupan berahi liar. Bahkan Mala turut berubah binal, tergial-gial menikmati permainan lidah Kangmas Abimanyu di kemaluannya. Sebagai puncaknya, apa yang selayaknya menjadi jatah suami istri kini diumbar begitu saja, kalau perlu sampai berganti pasangan.</p>
<p>Menyaksikan pesta syahwat berlangsung tepat di depannya, Mbah Soma akhirnya memahami karakteristik pesugihan ini. Bejo dan kawan-kawan memohon kekayaan. Sebagai timbal baliknya, makhluk halus meminta kepuasan hewani.</p>
<p>“<em>Sampun dadhos sifatipun menungso ingkang serakah</em>,” tanpa diminta, Andani menerangkan bahwa peristiwa ini disebabkan sifat serakah manusia. “<em>Kito namung nyukani menopo ingkang piyambakipun suwun. Kagem gantosipun kito nyuwun imbalan saking piyambakipun. Mboten wonten rudho pekso, mboten wonten ingkang dipun rugekaken</em>,” dan lelembut hanya memberikan apa yang manusia minta dan sudah sewajarnya mendapat imbalan. Tentu tak ada paksaan, tak ada yang dirugikan.</p>
<p>Lelaki tua itu mendesah, berusaha maklum mengingat apa yang mereka lakukan adalah urusan mereka, “<em>Aku ngerti, </em>Mbakyu<em>. Opo sing deweke lakoni iku urusane deweke</em>.”</p>
<p>Benar, dia di sini bukan untuk menghakimi, apalagi menceramahi. Mbah Soma sadar, hampir seabad hidupnya juga penuh noda dan dosa. Meski demikian, kebejatan yang melibatkan dua alam seperti sekarang tetap saja sulit diterima atau dibenarkannya.</p>
<p>“<em>Saenipun</em> Mbah <em>sampun menggalih piyambakipun</em>,” Andani menganjurkan si mbah fokus pada alasan kehadirannya di sini dan tidak memikirkan kejadian di sekitarnya. “<em>Saenipun </em>Mbah<em> tindakaken menopo ingkang dadhos sebab </em>Mbah<em> rawuh meriki dhalu meniko</em>.</p>
<p>Mungkin sebaiknya begitu, dan setelah menarik napas dalam-dalam, Mbah Soma mengutarakan pertanyaan tentang makna hidupnya, tentang apakah hidup tak lebih dari sekadar bekerja, membina keluarga, bersenang-senang lalu mati begitu saja, “Mbakyu, <em>opo menungso urip iku mung kanggo nyambut gawe, ngurus keluargo, seneng-seneng, terus mati</em>? <em>Opo urip bener-bener ora luwih soko iku</em>?”</p>
<p>Andani menelengkan kepala, ingin tahu kenapa sebagai manusia, Mbah Soma tidak bisa menjawabnya sendiri, “<em>Menopo </em>Mbah<em> mboten saget njawab piyambak</em>?”</p>
<p>Lelaki uzur itu menggeleng berat, mengakui mungkin pengetahuannya terlalu sedikit hingga tak bisa menjawab, “<em>Mbok menowo aku ora ngerti, dadi aku ora biso njawab</em>.”</p>
<p>Si makhluk halus cantik melemparkan pandangan ke massa yang sedang berasyik masyuk, “<em>Yen </em>Mbah<em> mboten saget njawab, menopo malih kulo</em>,” menyatakan jika Mbah saja tidak bisa menjawabnya, apalagi lelembut.</p>
<p>Untuk pertama kalinya malam ini, Mbah Soma menyeringai masam, merasa kedatangannya ke sini sia-sia belaka, “<em>Ngono, to</em>?”</p>
<p>Pandangan mereka bertemu ketika Andani meliriknya, “Mbah, <em>menungso mokal mangretosi pikiran semut. Kito mokal mangretosi pikiran menungso</em>,” dan memberikan pengandaian seperti manusia tak bisa memahami pikiran semut, seperti itu pula lelembut tak bisa memahami pikiran manusia.</p>
<p>Dalam hati Mbah Soma bertanya-tanya, seperti itukah lelembut memandang manusia? Seperti semut?</p>
<p>“<em>Bedanipun</em>,” Andani melanjutkan, “<em>kito lan semut mboten repot-repot menggalihaken. Nanging sampun kodratipun menungso menggalihaken. Sebab meniko Mbah rawuh dumateng kito</em>.” Kembali diamatinya obral seksual di seantero alun-alun, “<em>Nanging, Mbah, mboten menopo-nopo sakupami Mbah mboten mangretos. Meniko mboten dosa</em>.”</p>
<p>Jawaban Andani merambat merasuk ke benak laki-laki lanjut usia tersebut. Lelembut dan semut tidak pusing-pusing memikirkan hidup mereka. Itulah perbedaannya dari manusia yang kodratnya adalah berpikir dan mencari tahu. Di sisi lain, tidak apa jika Mbah Soma gagal menemukan jawaban dari pertanyaannya karena ketidaktahuan bukanlah dosa.</p>
<p>Ah, kenapa dia bisa sebodoh itu? Andani benar, tiada yang bisa memaknai hidup selain mereka yang menjalaninya. Bahkan manusia pun mungkin tidak tahu makna hidup bagi manusia lain, apalagi yang bukan manusia.</p>
<p>Selain itu, bukankah yang paling berarti adalah menjalani hidup secara lurus, membina keluarga, berbakti pada bangsa dan negara? Dan bukankah dia sudah melakukannya cukup baik? Kurang apa lagi?</p>
<p>Maka, sedikit demi sedikit Mbah Soma mencoba menerima kenyataan dia takkan tahu makna hidupnya sampai mati. Yang jelas dia merasa jauh lebih baik sekarang. Mungkin tidak percuma datang ke sini.</p>
<p>Tapi, setelah pikirannya belajar menerima ketidaktahuannya, seperti biasa muncul pertanyaan baru, “<em>Uripe lelembut iku koyo opo</em>?” kali ini tentang seperti apa hidup lelembut.</p>
<p>Perempuan ayu di sisinya tercenung, kemudian menoleh dan menatap mata si mbah lekat-lekat, “<em>Kito urip, ngendiko lan makaryo ingkang sakmadyo</em>, <em>nanging merdiko</em>.”</p>
<p>Hidup, berbicara, dan bertindak apa adanya, tapi merdeka. Jawaban yang menarik, menggoda imajinasi sang sesepuh. Hidup seperti demikian tentulah melegakan dan … bebas.</p>
<p>Alhasil rasa penasaran Mbah Soma meningkat, “<em>Dadi keno opo sampeyan ngelakoni iki</em>?” tanyanya sambil menunjuk asmaraloka di hadapan mereka.</p>
<p>“<em>Sebab kito mumpuni lan saget ngelampahi</em>,” jawabnya seraya tersenyum simpul.</p>
<p>“<em>Opo bathine</em>?”</p>
<p>Mbakyu tertawa kecil, “<em>Mboten wonten</em>.”</p>
<p>Benak si mbah mencoba menalar tanya jawab barusan. Jika Andani bicara jujur, lelembut berinteraksi dengan manusia semata karena bisa dan karena mau. Lebih jauh lagi, mereka tidak melakukannya demi keuntungan dalam bentuk apa pun. Sungguh makhluk yang aneh.</p>
<p>“<em>Kinten-kinten tasih dangu yuswanipun </em>Mbah?” Andani mendadak menanyakan sisa umur Mbah Soma.</p>
<p>Terlepas apakah lawan bicaranya tahu soal kemampuan Mbah Soma melihat ajalnya, jawaban itu mengalir juga, “<em>Paling ora suwe maneh</em>.”</p>
<p>Ya, napasnya hanya bisa bertahan paling lama dalam hitungan hari. Rencananya adalah setelah mendapat jawaban dari lelembut, Mbah akan memasrahkan diri pada Tuhan, beribadah sampai ajal menjemput. Tapi tahan ….</p>
<p>“<em>Ngomong-omong, opo sampeyan percoyo marang</em> Gusti Allah?” dan Mbah Soma langsung memaki diri dalam hati, mengutuki kekonyolannya menanyakan apakah lelembut juga percaya pada Tuhan.</p>
<p>Andani terdiam dan mengalihkan pandangannya, tapi Mbah Soma terlanjur menangkap kehampaan yang kini mendiami sepasang mata indahnya. Sesaat hanya terdengar jeritan keenakan, lenguhan, desahan peserta jamuan asmara berpadu alunan gamelan gaib tanpa henti.</p>
<p>Cemas dia telah mengangkat topik sensitif, kakek itu mencoba memperbaiki keadaan, “<em>Maaf yen aku</em> ….”</p>
<p>Belum selesai permintaan maaf itu, Andani menjawab, “Gusti Allah <em>wonten menopo mboten wonten kito mboten menggalih bab meniko</em>,” suaranya halus, tapi dingin, jelas menekankan mereka tak tahu dan tak peduli Tuhan ada atau tidak.</p>
<p>Kembali keduanya membisu, menit demi menit berlalu, sampai akhirnya, “Mbah ….”</p>
<p>“Yo, Mbakyu?”</p>
<p>“<em>Bade nderek mboten</em>?” Andani mengajaknya pergi, entah ke mana</p>
<p>Tawaran ganjil. Mbah Soma yakin dia harus mewaspadainya, tapi gagal menemukan alasannya. Mungkin karena pikirannya mendadak kosong? Lalu kenapa pula tubuhnya tiba-tiba lelah? Apakah karena mengantuk? Tapi dari tadi tak sedikit pun mulutnya menguap. Lalu kenapa dia ingin lekas tidur nyenyak? Senyenyak-nyenyaknya malah.</p>
<p>“Mbah <em>sampun ngelampahi dadhos tiang sae</em>,” lembut membuai suara Andani ketika bangkit berdiri, memuji lawan bicaranya karena telah menjalani hidup sebaik-baiknya.</p>
<p>Mbah Soma tak mampu merespons. Tarikan napasnya melambat. Matanya berat. Mungkin dia memang mengantuk, tapi dari sudut matanya dia menangkap Andani melangkah gemulai, sekilas mirip meluncur halus ke depan. Entahlah, penglihatannya mengabur.</p>
<p>Si lelembut mematut diri di depan kursi roda, “<em>Sampun mboten wonten malih ingkang Mbah lampahi, nanging mboten lajeng cekap semanten</em>.”</p>
<p>Sungguh menghanyutkan kata-katanya, tapi apa maksudnya? Mbah Soma memang takkan bisa melakukan banyak hal mengingat ajalnya sudah dekat, tapi apa maksudnya semua tak harus berakhir di sini?</p>
<p>Lengan kiri Andani terulur, “<em>Monggo nderek</em>, Mbah. <em>Monggo kito meriksani donya meniko sakwontenipun</em>,” sebuah ajakan terucap, untuk pergi bersama, melihat dunia apa adanya.</p>
<p>Dan hawa dingin mencuat di kedua telapak kaki Mbah Soma, perlahan menanjak seiring kian pelannya detak jantung dalam dada. Sementara itu, Andani dan geliat tubuh manusia bercampur lelembut di latar belakang kini bersinar.</p>
<p>“<em>Monggo nderek</em>, Mbah.”</p>
<p><em>Ayo ikut.</em></p>
<p>Di relung hati terdalam, Mbah Soma tahu, hidupnya berakhir sekarang dan di sini, tapi … haruskah begitu?</p>
<p>“<em>Monggo nderek kulo</em>, Mbah.”</p>
<p><em>Ayo ikut aku.</em></p>
<p>Dilihatnya tangan kirinya menyambut ajakan Andani tepat saat hawa dingin kematian mencapai leher. Dengan khidmat Mbah Soma menutup mata. Apa pun yang terjadi pada jiwa raganya setelah ini, biarlah para lelembut yang tahu.</p>
<p>Biarlah begitu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=69&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/08/21/lelembut-fantasy-fiesta-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUNIA BISU Bab 3</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/03/25/dunia-bisu-bab-3/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/03/25/dunia-bisu-bab-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 01:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[DUNIA BISU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Bab 3: Nostagie De La Boue “Erza Dwi Ramadani”, kuketikkan namanya di kolom pencarian Google. Hasilnya adalah beberapa foto sekaligus sederet link terkait pialang, pembicara publik, konsultan, serta penulis beberapa buku pengenalan pasar modal dan investasi bagi pemula. Status dan pencapaiannya luar biasa, apalagi mengingat betapa muda belianya dia, 27 tahun. Aku kagum padanya. Erza [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=57&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 3: Nostagie De La Boue</em></strong></p>
<p>“Erza Dwi Ramadani”, kuketikkan namanya di kolom pencarian Google. Hasilnya adalah beberapa foto sekaligus sederet <em>link</em> terkait pialang, pembicara publik, konsultan, serta penulis beberapa buku pengenalan pasar modal dan investasi bagi pemula. Status dan pencapaiannya luar biasa, apalagi mengingat betapa muda belianya dia, 27 tahun.</p>
<p><span id="more-57"></span>Aku kagum padanya. Erza selalu dihiasi pernik busana mahal yang mengedepankan citra korporat dan kecerdasan feminin. Aku bisa menebak mereknya, Jimmy Choo, Prada, Versus dan entah apa lagi. Riasannya? Tata rambutnya? Sama saja, sempurna.</p>
<p>Siapa sangka bahwa dulu dia sangat berbeda: nyaris gundul, buta mode, pendiam dengan segala pemikirannya. Lihat apa yang 7 tahun berikan padanya? Sebuah transformasi luar biasa. Dan apa yang 7 tahun berikan padaku?</p>
<p>Kuputuskan untuk bertanya pada dunia maya. Hasil pencarian untuk “Angela Amelia” muncul. Hanya dua <em>link</em> yang benar-benar tentang aku, itu pun cuma menuju data diriku selaku mahasiswi di universitas tempatku kuliah dulu. Sisanya adalah Angela Amelia lain. Kutahan senyumku, begini lebih baik, <em>low profile</em>, tidak terdeteksi.</p>
<p>Halaman internet yang memuat segala sesuatu tentang Erza kembali tampil setelah aku klik tombol <em>touchpad</em>. Inikah yang dikejarnya setelah meninggalkanku?</p>
<p>Aku benci padanya. Curang, kan? Dulu aku mengajaknya memperjuangkan cinta kami. Di luar dugaanku, dia menolak, memilih lari. Akhirnya aku tahu Erza lebih senang berjuang untuk kepentingannya sendiri. Mungkin dia merasa aku cuma akan menyusahkannya. Padahal apa yang takkan kuberikan demi sekadar berada di sisinya dan mendukungnya? Jual diri pun aku rela.</p>
<p>Tapi aku tahu, aku turut berubah dan berkembang meski tidak persis seperti Erza. Dia bermandikan lampu sorot, aku bergerak di balik layar. Dia memotivasi, aku mengatur. Dia berspekulasi, aku menentukan.</p>
<p>Lamunanku terputus ketika Anin meletakkan segelas susu cokelat hangat di meja tamu. Wanita yang lebih tua setahun dariku itu lantas duduk di sebelahku di sofa dan beringsut mendekat. Kubiarkan dia mengintip monitor laptop. Senyumnya terkembang mendapati Erza memenuhi layar. Ah, kebesaran hatinya memang tahan banting.</p>
<p>Dia bertanya apakah aku kangen pada mantanku tersebut. Aku menggeleng, menyatakan bahwa aku cuma <em>break</em> sejenak dari pekerjaan. Tawanya terlepas dan menerima bahwa begitu pun boleh. Sungguh tak ada prasangka buruk dalam pikirannya.</p>
<p>Iseng-iseng kutanyakan bagaimana jika aku ingin kembali pada Erza. Anin tertegun sementara sepasang mata teduhnya menatapku. Wajahnya bulat, biasa-biasa saja. Meski begitu, aku menemukan kecantikan dalam tanggapannya. Katanya tidak apa karena tak ada yang benar-benar dimilikinya dan bukankah hidup adalah rangkaian pertemuan dan perpisahan tanpa akhir? Jika aku enggan memperjuangkan kami, untuk apa pula dia memperjuangkannya sendirian? Bukankah lebih baik dilepas saja lalu nikmati kembali seandainya nostalgia itu muncul?</p>
<p>Aku terdiam dan kembali terpaku menghadap monitor. Ucapannya membuatku malu karena telah bersikap egois. Lirih maaf itu terucap, tapi dia malah tertawa lantas memelukku. Wangi lavender dari sabun kesukaannya dan kesegaran tubuh kekasihku serta-merta menenangkanku, apalagi ketika dia membisikkan aku tidak perlu minta maaf karena tak ada yang perlu dimaafkan. Kecupannya di pipiku kian menegaskan bahwa cintanya membebaskan, terasa ironis karena justru aku yang mengurung perasaanku dalam kenangan.</p>
<p>Anin bangkit dan berjalan menuju ruang latihan. Dari belakang pun terlihat keistimewaannya dibandingkan <em>butchy-butchy</em> lain yang pernah kutemui. Badannya tinggi tegap berotot dengan kulit gelap terbakar matahari. Rambutnya lurus sebahu, mengayun seirama langkahnya yang mantap tanpa dibuat-buat, menegaskan apa dan siapa dirinya: Anindita Maharani, drumer kebanggaan Larung Kencana, <em>band</em> yang kumanajeri.</p>
<p>Sungguh, menyaksikan Anin tampil <em>live</em> merupakan pengalaman tiada duanya. Berbekal celana <em>hot pants</em> dan kutang favoritnya, kekasihku menggebuk instrumennya sampai peluhnya membanjir, hanya untuk diguyur sebotol air dingin di tengah jeda lagu, sebelum akhirnya kembali melanjutkan aksinya yang meledak-ledak. Jeritannya sesekali membahana, mengiringi kidung Jawa yang dilantunkan nyaris mistis oleh Amirah sang mantan sinden eks santriwati pembaca tilawah, serta gerungan cadas Mat Topeng, vokalis kedua kami.</p>
<p>Banyak yang menyebut duet seperti itu sebagai “<em>beauty and beast</em>”. Lembut dan garang, manis dan sangar, satu kesatuan tak terpisahkan. Dilengkapi aksi teatrikal yang kujamin tak ada di <em>band</em> lain, Larung Kencana mengukuhkan statusnya sebagai fenomena musikal paling gres di tanah air sekaligus band gotik metal terdepan baik di kancah <em>underground</em> atau ranah <em>mainstream</em>.</p>
<p>Tentu aku takkan puas hanya sampai di situ. Mati-matian aku berjuang membawa mereka setidaknya tampil sekali dua kali di luar negeri demi membangun reputasi. Hasilnya lumayan mengingat kami baru saja kembali dari Malaysia dan Jepang dengan sambutan meriah penonton yang masih menggaung di hati. Lumayanlah untuk ukuran manajer pemula seperti aku.</p>
<p>Jika kupikir kembali, aku memang anak kemarin sore di bidang ini. Tak lebih dari 6 tahun lalu, aku hanya asisten seorang manajer veteran bernama Mbak Diah. Saat itu Beliau sedang gencar-gencarnya mengorbitkan Larung Kencana, <em>band</em> baru yang diprediksinya sebagai <em>the next big thing</em>. Dari sinilah awal pertemuanku dengan Anin dan kawan-kawan. Ketika akhirnya Mbak Diah wafat dalam kecelakaan pesawat, semua personel berkeras menunjukku sebagai penggantinya, otomatis mempertaruhkan karier mereka di tangan amatirku.</p>
<p>Kisah selanjutnya hanyalah cerita jatuh bangun biasa sampai akhirnya sekarang Larung Kencana bersiap merilis album ketiga. Kepercayaan penuh mereka terhadapku sejauh ini membuatku pantang main-main dalam bekerja … dan karena aku sudah menyinggung soal kerja, mungkin sudah saatnya aku kembali menjalankan fungsiku sebagai manajer.</p>
<p>Aku tutup <em>browser</em> internet yang menampilkan Erza lalu kubuka <em>attachment email</em> berisi gambar-gambar koleksi terbaru Iwan Tirta. Kostum untuk sesi pemotretan album harus segera dipilih dan mustahil aku melepaskan aura gotik batik yang sejak awal merupakan salah satu ciri khas Larung Kencana. <em>Band</em> ini memang tak pernah jauh-jauh dari busana lokal sebagai pelengkap aksi panggungnya, membuat citranya lebih membumi.</p>
<p>Setelah mengecilkan pilihan menjadi sekitar lima alternatif bagi tiap personel, aku beralih ke hal menyebalkan yaitu draf kontrak terkait <em>jingle</em> iklan dan pemasaran lagu-lagu baru sebagai <em>ring back tones</em>. Teman-teman kurang suka karya mereka dimutilasi agar potongan-potongannya bisa dijual begitu saja atau diubah sesuai keinginan klien, tapi mau bagaimana lagi? Biar bagaimana pun, ini <em>band</em> komersial dan uang bicara dalam bahasa dewa.</p>
<p>Sambil menyesap susu cokelat, pelan-pelan kubaca rancangan perjanjian tersebut. Secara garis besar sama saja dengan yang pernah kami tanda tangani pada album sebelumnya. Walau begitu, mustahil aku tidak minta pendapat Bang Jerman, kuasa hukum kami. Setelah mengirim <em>email</em> atur jadwal soal diskusi kontrak, pikiranku kembali melayang. Seperti biasa, Erza lagi, Erza lagi.</p>
<p>Bosan memikirkannya, kubawa laptop menuju ruang latihan. Begitu membuka pintunya, pendengaranku langsung dihajar dentuman drum menggebu-gebu, cepat dan kuat. Pastilah Anin tengah mengiringi lagu <em>speed metal </em>dari <em>headset</em> besar di telinganya. Sang drumer sendiri bermandikan keringat dan hanya mengenakan bra sedangkan kaus yang tadi dipakainya tercecer begitu saja di lantai.</p>
<p>Aku hanya bisa mesem, sadar bahwa Anin paling senang latihan atau tampil saat badannya segar. Harus mandi lagi sesudahnya sama sekali bukan masalah baginya. Karena itulah kubuat diriku senyaman mungkin, duduk di lantai dan bersandar pada tembok. Di sini, di hadapan kekasihku dan dalam dekapan musiknya yang melingkupi, aku merasa tenang. Setidaknya dengan begini aku konstan teringat bahwa aku sudah ada yang punya.</p>
<p>Benar saja, urusan pekerjaan jadi lancar meski harus kuakui telingaku berdenging hebat. Tidak apa, yang penting semuanya beres. Anin juga sepertinya sudah selesai karena suasana mendadak sunyi.</p>
<p>Ketika kepalaku mendongak, aku mendapati dirinya tegak di hadapanku. Buas matanya memandangku; ada nafsu di sana. Ah, apa yang lebih disukainya selain bercinta dengan tubuh panas oleh keringat dan napas menderu? Karena itulah kusingkirkan laptop ke samping. Kupasrahkan apa pun yang ingin dilakukannya padaku.</p>
<p>Melihatku demikian, kekasihku berlutut kemudian merangkak seksi ke arahku. Semakin dekat, semakin tajam hidungku membaui aroma tubuhnya yang diterjemahkan otakku sebagai wangi cinta. Wajah kami kini hanya terpisah beberapa sentimeter saja. Anin menunggu, aku tahu, karena itu sengaja kubiarkan dia menanti lebih lama.</p>
<p>Menyadari ulahku, senyuman nakalnya mengembang. Diantarkannya bibirnya menuju bibirku. Aku siap menyambut, tapi tidak diberikannya ciuman itu. Anin malah mengangkat daguku menggunakan pipinya, lembut memaksaku menengadah. Leherku kini terbuka untuk serangan langsung dan serta-merta dihujaninya dengan kecupan, jilatan, serta gigitan-gigitan kecil yang membuatku menjerit bak anak kecil.</p>
<p>Tentu dia takkan puas hanya dengan leherku. Alhasil kepalanya mulai turun ke bawah, menuju dadaku. Enggan dihalangi, kekasihku merobek blus yang kukenakan, membuka akses penuh bagi tangan dan mulutnya untuk menikmati apa-apa yang bisa mereka jangkau.</p>
<p>Di tengah desahan dan kecipak air ludah, bayangan wanita keparat itu kembali melintas. Kenapa? Kenapa sekarang aku harus membandingkan gaya bercinta Anin yang liar membakar dengan permainan asmara Erza yang manis puitis?</p>
<p><em>Nostalgie de la boue</em>? Seingatku begitulah mantanku tersayang menyebut keadaan seperti yang kualami sekarang. Nostalgia lumpur, hasrat untuk kembali pada kekacauan dan keburukan. Mungkinkah aku ingin kembali ke keadaan demikian? Terlunta-lunta tanpa cinta yang tulus dan penghidupan layak saat bersama Erza? Itukah yang kudambakan? Mungkin memang harus kupastikan.</p>
<p>Kuulurkan lengan kanan menekan tombol di laptop guna menampilkan jadwal Larung Kencana beberapa bulan ke depan. Anin yang sudah tiba di antara kedua pahaku langsung menggumam soal menangguhkan urusan kerja, tapi kubungkam dia dengan mendorong kepalanya ke selangkanganku.</p>
<p>Daftar itu terbagi dua kolom: sebelah kiri berisikan deretan konser, jumpa pers, dan lain-lain berikut waktu dan tempatnya sedangkan sebelah kanan merupakan <em>check box</em> penanda apakah kegiatan-kegiatan tersebut akan di-<em>follow up</em> atau tidak. Salah satu yang masih belum kuputuskan adalah acara <em>talk show</em> di salah satu stasiun televisi berita yang belakangan kuketahui turut menghadirkan narasumber lain bernama Erza Dwi Ramadani.</p>
<p>Tak tahan aku menyeringai. Apa ini berarti masa lalu ingin bertemu kembali denganku? Begitu, kah? Jika iya, aku takkan lari atau sembunyi. Seandainya kami akhirnya bertemu lagi, akan kutunjukkan padanya bahwa aku bisa berdiri sendiri, bahwa aku telah memiliki pasangan hati … bahwa Erza sudah tak berarti bagi Anggi.</p>
<p>Karena itulah, tanpa ragu kuconteng jadwal <em>talk show</em> tadi lantas berpaling pada Anin, menariknya ke arahku dan melumat bibirnya habis-habisan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=57&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/03/25/dunia-bisu-bab-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUNIA BISU Bab 2</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/dunia-bisu-bab-2/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/dunia-bisu-bab-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 23:59:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[DUNIA BISU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Bab 2: Angie Angie, Angie …. Lembut dan manis suara Mick Jagger mengalun melalui headset ketika kurebahkan kepala di bantal, seakan memanggil kembali kenangan lama akan wanita yang senama dengan idaman hati sang vokalis gaek. When will those clouds all disappeared? Sudah berapa lama, Gi? Sejak kita pisah? Tujuh tahun, ya? Dan sampai sekarang hari-hariku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=52&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 2: Angie</em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, Angie</em> ….</p>
<p>Lembut dan manis suara Mick Jagger mengalun melalui <em>headset</em> ketika kurebahkan kepala di bantal, seakan memanggil kembali kenangan lama akan wanita yang senama dengan idaman hati sang vokalis gaek.</p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align:center;"><em>When will those clouds all disappeared?</em></p>
<p>Sudah berapa lama, Gi? Sejak kita pisah? Tujuh tahun, ya? Dan sampai sekarang hari-hariku tidak pernah cerah.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, Angie</em> &#8230;.<em></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Where will it lead us from here?</em></p>
<p>Terus terang aku tidak tahu ke mana hidup membawaku tanpa kamu. Rasanya cuma dari poin A ke poin B, tinggal masukkan tempat, pekerjaan atau seks ke dalam persamaan itu. Semua konstan berulang, menjemukan walau kadang menyenangkan … setidaknya sampai aku mengacaukannya seperti biasa</p>
<p style="text-align:center;"><em>With no loving in our souls, and no money in our coats,</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>you can’t say we’re satisfied</em>.</p>
<p>Kamu tahu, kan, Gi? Aku selalu cinta kamu meski aku bohong bahwa rasa itu hilang. Mungkin memang sebaiknya hilang, karena cinta itu mahal dan dulu aku cuma mahasiswi yang makan pun masih harus disuapi keluarga. Dan dalam kondisi itu kita mau ngotot kabur tanpa tujuan? <em>Yeah, right</em> ….</p>
<p style="text-align:center;"><em>But Angie, Angie </em>….<em></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>You can’t say we never tried</em>.</p>
<p>Katamu aku pecundang, tidak mau memperjuangkan cinta. Mungkin benar adanya … karena memang aku yang mengakhiri kisah kita. Tapi, Gi, kita sudah berusaha mendobrak segala stigma dan meloncati semua dogma. Kita telah berjuang menunjukkan bahwa kita bukan sepasang gadis yang terbakar sesat asmara belaka. Bahwa kita benar-benar punya cinta.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, you’re beautiful,</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>but ain’t it time we said goodbye</em>?</p>
<p>Gi, aku masih menyimpan foto terakhir kita. Di dalamnya ada kamu yang manis dengan rambut <em>highlight</em> cokelat kemerahan, hidung bangir di atas bibir padat berisi, serta sweter <em>turtleneck</em> dilapis jaket kulitku. Juga ada aku yang dulu serampangan, cepak, berkaus oblong dan bercelana jin. Sayang, beberapa hari setelahnya, jalan kita terbukti bercabang.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, I still love you</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Remember all those nights we cried</em>?</p>
<p>Aku masih cinta kamu. Dan itu terasa jauh lebih menyakitkan apabila mengingat malam-malam kala kita menangis berdua, merutuki takdir yang mengharuskan kita terlahir berjenis kelamin sama.</p>
<p style="text-align:center;"><em>All the dreams we held so close</em>,<em></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>seemed to all go up in smoke</em>.<em></em></p>
<p>Kamu ingat, Gi? Dulu kita punya angan dan harapan, cita-cita dan impian. Tidak muluk, hanya sebuah rumah mungil berhias taman di halaman depan. Akhirnya semua menguap, meninggalkan pahit rasa kenangan. Tapi kamu tahu, Gi? Meski harus hidup bersama si Reza keparat, keinginan itu berhasil kuwujudkan. Namun semuanya hambar … karena kamu tak ada dalam jangkauan.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Let me whisper in your ear</em>.</p>
<p>Pada saat seperti ini, ingin kubisikkan padamu bahwa aku ingin memulai kembali. Aku ingin melihat apa yang tersisa dari cerita dulu dibangun lagi.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, Angie</em> ….</p>
<p style="text-align:center;"><em>Where will it lead us from here</em>?</p>
<p>Gi, aku masih terkatung-katung tak tentu arah. Walau begitu, aku mulai bangkit, karena aku tahu, menungguku di ujung sana adalah hari yang cerah.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, don’t you weep, all your kisses still taste sweet</em>.<em></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>I hate the sadness in your eyes</em>.<em></em></p>
<p>Aku masih ingat, dulu kamu bilang ciuman kita persis susu cokelat, manis dan hangat. Tapi, Gi, minuman tidak bisa sejernih kecupan dalam hal menyampaikan perasaan. Dan kecupan penuh air mata jelas lebih pahit daripada susu basi, dan itulah yang kurasakan ketika kita berciuman untuk terakhir kali.</p>
<p style="text-align:center;"><em>But Angie, Angie</em> ….</p>
<p style="text-align:center;"><em>Ain’t it time we said goodbye</em>?</p>
<p>Harusnya aku sudah melupakan kamu, tapi ada bagian dari diriku yang ingin berlama-lama dalam memori. Sialan, kan? Apalagi memori ini cuma sentimen busuk dari masa yang sudah lama mati.</p>
<p style="text-align:center;"><em>With no loving in our souls, and no money in our coats,</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>you can’t say we’re satisfied</em>.</p>
<p>Dulu aku menolak ajakan kamu untuk kabur dari rumah karena aku tidak mau kamu menderita kekurangan harta, tidak ingin kamu kelaparan di jalanan. Alasan klise dari jiwa kerdil, aku tahu, Gi. Dan aku akhirnya meninggalkan kamu. Iya, aku pengecut.</p>
<p style="text-align:center;"><em>But Angie, I still love you, Baby</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Everywhere I look, I see your eyes</em>.</p>
<p>Tapi aku masih dan akan terus mencintai kamu. Aku tidak bisa lari dari kamu, Gi. Ke mana-mana cuma ada kamu di benak aku, menghantui, menggerogoti … menemani.</p>
<p style="text-align:center;"><em>There ain’t a woman that comes close to you</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Come on, Baby, dry your eyes</em>.</p>
<p>Gi, jujur aku bosan mengenang kamu, tapi aku tidak punya pilihan karena ternyata tidak ada wanita yang bisa mencintai aku seperti kamu, apalagi pria. Apakah itu akan membuatmu makin sedih? Ataukah kamu menuruti permintaanku untuk berhenti menangisi kita?</p>
<p style="text-align:center;"><em>But Angie, Angie</em> ….</p>
<p style="text-align:center;"><em>Ain’t it good to be alive</em>?</p>
<p>Terlepas dari semuanya, sekarang aku mulai belajar bersyukur. Hidup tidak seburuk itu memperlakukan aku. Karier, tabungan, rumah, investasi, sekarang aku punya semua. Dan kamu tahu, umurku baru 27, masih ada begitu banyak waktu untuk mencari dan menemukanmu.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Angie, Angie</em> <em>…</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><em>They can’t say we never tried</em>.</p>
<p>Terserah orang mau bicara apa, aku akan mencarimu, dan aku pasti menemukanmu. Aku akan meyakinkanmu bahwa aku ingin kita mulai kembali. Dan mungkin … mungkin pada saat itu, bisa kubisikkan padamu sekali lagi ….</p>
<p>Bahwa Erza selamanya sayang Anggi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=52&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/dunia-bisu-bab-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUNIA BISU Bab 1</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/dunia-bisu-bab-1/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/dunia-bisu-bab-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 23:53:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[DUNIA BISU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Bab 1: Apati Yang Menelan Segala “Departemen Pencitraan &#38; Desain &#8211; Surat Perintah Kerja,” begitulah tulisan pada bagian paling atas lembaran yang diletakkan Isyana alias Nana di mejaku. Kuamati dia. Wanita keturunan usia 28-30 tahunan. Selain matanya yang terlalu sipit, secara keseluruhan atasanku ini menarik. Kaki jenjangnya dibungkus sepatu hak tinggi sedangkan tubuh sintalnya berbalut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=50&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 1: Apati Yang Menelan Segala</em></strong></p>
<p>“Departemen Pencitraan &amp; Desain &#8211; Surat Perintah Kerja,” begitulah tulisan pada bagian paling atas lembaran yang diletakkan Isyana alias Nana di mejaku. Kuamati dia. Wanita keturunan usia 28-30 tahunan. Selain matanya yang terlalu sipit, secara keseluruhan atasanku ini menarik. Kaki jenjangnya dibungkus sepatu hak tinggi sedangkan tubuh sintalnya berbalut rok pensil dan blazer kelabu. Wajahnya bulat telur, dipermanis perona pipi lembut dan gincu merah marun, pas sekali dengan kulit kuning langsatnya. Gaya rambut sanggul modern melengkapi semuanya.</p>
<p><span id="more-50"></span>Puas memandanginya selama 1,5 detik, aku mengangguk. Dia juga. Kami saling mengerti, tak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya ada di kertas itu. Aku cuma perlu membacanya, lalu menyelesaikan tugas yang tercantum di dalamnya sebelum tenggat. Mudah, seperti biasa.</p>
<p>Perkenalkan, namaku Reza, penulis advertensi di Multimedia Wawa. Orang awam mungkin lebih familiar dengan istilah<em> “copywriter”</em>, tapi di sini kami memegang teguh bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meski kadang prinsip linguistik itu menimbulkan masalah terhadap klien yang lebih memilih “<em>download</em>” daripada “unduh”, aku menyukainya. Mengingat betapa aku tak terlalu peduli terhadap begitu banyak hal, fakta bahwa aku menyukai pola pikir perusahaan ini sangat kuhargai.</p>
<p>Dan aku serius saat bilang aku tak terlalu peduli terhadap begitu banyak hal. Contohnya sekarang. Sesaat setelah Nana berlalu, televisi plasma 45 inci agak jauh di sebelah kananku menayangkan berita penggerebekan kelompok ajaran sesat. Seperti biasa, Joko Jabrik, rekan di sebelah kiriku, yang terang-terangan mengaku ateis, mulai berkoar tentang kebebasan beragama dan omong kosong lain yang aku yakin bahkan tak dimengerti olehnya.</p>
<p>Persetan apa yang dianggapnya benar atau salah, tapi karena Joko sudah lumayan mengganggu dengan segala komentar tidak perlu itu, aku tanggapi saja. Untuk kesekian kalinya, kami berdebat.</p>
<p>Menurutnya kebebasan beragama harus dijunjung. Kutanggapi dengan argumen bahwa sebagai desainer grafis, dia juga tidak akan suka jika karyanya dicuri orang lalu dimodifikasi dan digunakan tanpa minta izin. Aku tekankan bahwa kelompok ajaran sesat itu pada dasarnya melakukan hal serupa: mencuri, memodifikasi dan menggunakan tanpa izin. Wajar jika pemilik atau pengguna asli marah-marah. Sang ateis terdiam, lalu menggumam tidak jelas dan kembali bekerja.</p>
<p>Debat barusan tidak akademis atau menarik, tapi sudahlah, toh kepandaian bersilat lidah bukan keahlian utama kami. Meski begitu, aku sedikit bertanya-tanya apa Joko bangga mengaku-aku ateis. Kalau iya, agak menyedihkan saja, setidaknya dari perspektifku.</p>
<p>Aku selalu merasa ateisme bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Dia hanya sebuah keyakinan, bukan prestasi. Seperti yang sudah kubilang, aku apatis, tapi tidak lantas berarti aku perlu menyiarkannya &#8230; sama seperti aku tak merasa perlu menyebarkan fakta bahwa aku tidak percaya atau peduli pada keberadaan Tuhan.</p>
<p>Jika kupikir lagi, apa peduliku? Seandainya Joko senang dengan statusnya, biarlah. Selama tidak merugikan, aku bisa menolerir nyaris apa pun &#8230; termasuk kasus mutilasi yang sekarang dibahas di TV.</p>
<p>Mataku melirik. Tampilan kardus bersimbah darah dan berisi potongan tubuh anak jalanan memenuhi layar. Hanya satu lagi bukti kebobrokan Jakarta yang sejak awal sudah sakit dan memuakkan. Si korban bodoh, si pelaku gila. Bagiku semuanya sesimpel itu. Dan selama bukan aku yang teronggok dalam kardus, peristiwa tersebut bukan urusanku.</p>
<p>Kembali bekerja, kembali ke rutinitas menjemukan. Harus kuakui, aku cukup pandai menulis. Itu sebabnya aku diterima di perusahaan ini. Kemampuan tersebut adalah satu lagi hal lain yang kupedulikan. Tentu, sudah sepantasnya aku memedulikan apa pun yang bisa membayar tagihan dan memberikan keinginanku, kan?</p>
<p>Selain menulis, pekerjaanku berkaitan erat dengan waktu. Semua tugas memiliki tenggat, umumnya paling lama sehari setelah surat perintah diberikan. Bayangkan menyusun Analisis dan Pembahasan Manajemen laporan tahunan sebuah perusahaan besar kurang dari 24 jam. Sedikit petunjuk, topik tersebut dipenuhi terminologi finansial dan bisnis serta harus disajikan dalam bahasa korporat, bilingual pula, yang berarti aku juga harus menerjemahkannya.</p>
<p>Itu pula sebabnya aku sangat menghargai waktu dan ketepatannya. Tanpa apresiasi tersebut, mustahil aku bisa menyelesaikan tugas. Aku sangat tepat waktu dan saat jam berdentang empat kali di sore hari, biasanya aku sudah meninggalkan kantor karena semua kewajiban telah tertunaikan. Biasanya &#8230;.</p>
<p>Kulirik jam digital di monitor komputerku. Di sana tertera 06.27 PM. Menghela napas, cuma itu yang bisa kulakukan. Tugas menyunting profil perusahaan klien yang diberikan Nana tadi memang tidak harus selesai hari ini karena dia menyerahkannya beberapa saat sebelum aku bersiap pulang. Kendati demikian, aku benci menunda-nunda dan ternyata butuh waktu lebih lama dari perkiraanku untuk menuntaskannya. Jauh. Lebih. Lama.</p>
<p>Sudahlah. Tiga menit kemudian, pekerjaan itu rampung dan aku telah mengenakan sepatu kets. Kuambil ransel yang tergantung di kursiku dan melemparkan pandangan ke penjuru ruangan.</p>
<p>Pada sembilan anjungan kerja yang berderet membentuk huruf U, para pekerja kreatif berjuang mencari ide, rancangan dan desain yang lebih unik dibandingkan perusahaan pesaing. Mulai fotografer hingga penata letak, hampir semuanya berpakaian kasual dan masih berada di tempat. Lembur atau bahkan menginap sudah menjadi kewajaran di Multimedia Wawa, mengingat studio produksi ini terletak di bangunan rumah, jadi tidak terikat jam kerja seperti pada bangunan perkantoran biasa.</p>
<p>Kuucapkan salam dan mereka membalasnya malas-malasan. Tidak masalah karena sekarang aku melangkah enteng keluar. Ya, saatnya pulang dan betapa aku menikmatinya.</p>
<p>Rute rumah-kantor sebenarnya ditempuh dengan dua kali naik angkot: bus Kopaja disambung mikrolet. Walau begitu, setelah mengetahui kondisi medan, aku otomatis mencoret mikrolet. Alasannya sederhana, jarak tempuh dari titik tempat turun Kopaja sampai ke kantor tidak terlalu jauh, paling cuma 3-4 kilometer. Terlebih lagi, jalanan di kawasan Tebet ini lebar dan tidak terlalu ramai, dengan barisan pepohonan rindang pada kedua sisinya. Itu sebabnya aku memilih berjalan kaki. Sehat, murah, menyenangkan.</p>
<p>Apalagi sekarang. Udara sejuk-sejuk hangat. Keremangan senja berpadu temaram cahaya oranye lampu jalan yang menyeruak menembus rimbunnya dedaunan, menghasilkan bayang misterius. Harus kuakui, keindahannya melebihi pancaran matahari sore seperti biasa kunikmati tiap kali pulang sesuai jadwal pukul 16.00. Ditambah lagu “Feel Good Inc” milik Gorillaz yang mengalun melalui peranti dengar kepala, satu kata menggambarkan kondisiku saat ini. Sempurna.</p>
<p>Sayang, begitu naik Kopaja, semuanya berubah. Jakarta kembali menampakkan wajah jeleknya. Pengamen melantunkan melodi penderitaan, kemacetan, polusi, dan tingkah polah pengguna jalan. Semuanya kuhadapi tiap pagi dan sore, mulai Senin sampai Jumat.</p>
<p>Saat-saat seperti inilah apati bermanfaat menjaga kewarasanku. Persetan pengamen teriak-teriak kelaparan. Apa peduliku terhadap polusi udara jika kota ini memiliki peluang lebih besar dari penyakit dalam hal membunuhku? Pengendara ugal-ugalan pun kupersilakan untuk saling bunuh dalam kecelakaan yang mungkin akan memberi selingan bagi kemacetan ini.</p>
<p>Itu juga alasanku memilih transportasi umum, untuk menghindari pengguna jalan. Mereka terlalu barbar. Jika memakai kendaraan pribadi, dan aku yakin aku pasti mematuhi peraturan lalu lintas, sopir angkot bisa saja menyerempetku saat kebut-kebutan mengejar setoran. Pengendara motor bisa saja mencelakaiku saat berbuat bodoh hanya demi menyerobot lampu merah. Ditambah tingginya tingkat pencurian kendaraan bermotor, aku paparkan diriku pada keburukan yang lebih rendah macam pengamen dan kemacetan. Setidaknya musik bisa menghaluskan semuanya.</p>
<p>Begitulah momenku di atas Kopaja. Menyebalkan, namun penuh berbagai jenis pemikiran. Kadang inspirasi menarik, tapi umumnya hanya sampah. Tidak masalah. Semua membantuku melewati lalu lintas metropolis nan menyesakkan.</p>
<p>Akhirnya tiba di rumah. Ukurannya 10 x 20 meter, satu tingkat, dilengkapi beranda serta taman kecil berisi bunga-bungaan warna-warni macam mawar, anggrek, dan matahari. Catnya kuning gading sedangkan gentingnya biru.</p>
<p>Seharusnya bangunan ini adalah surgaku. Secara keseluruhan memang demikianlah adanya. Segala kebutuhanku tersedia: <em>video games</em>, buku bacaan, akses internet, saluran televisi kabel, dan lain sebagainya. Sialnya, aku hidup bersama orang yang membuat kenikmatan memiliki fasilitas-fasilitas tersebut menurun drastis.</p>
<p>Kikik yang kudengar dari kamarnya sudah pertanda jelas, tapi aku harus memastikannya. Kubuka pintu dan mendapati dirinya telungkup bertopang dagu di ranjang, di hadapan laptop putih berlambang apel … milikku.</p>
<p>Betina berbusana kamisol dan celana pendek ketat ini adalah Erza, kembaranku. Ya, aku menyebutnya betina atas kegemarannya kawin. Ya, makhluk ini sangat senang kawin … dan pasangannya tak sebatas lawan jenis, tapi juga mencakup sesama jenis.</p>
<p>Harus kuakui, fisiknya mengakomodasi hobinya dengan sempurna. Tingginya 175 sentimeter, putih bersih dengan rambut kecokelatan panjang yang bergelombang indah, mata bulat bersinar berikut hidung mancung serta bibir tipis. Lekuk tubuh menawan dan payudara ranum juga membantu, kurasa.</p>
<p>Sifat acuh tak acuh umumnya menyelamatkanku dari beban memikirkan tabiatnya. Dia sudah dewasa dan tahu apa yang dilakukannya, jadi itu bukan urusanku. Tapi jelas urusanku jika dia menggunakan propertiku untuk memfasilitasi kebejatannya.</p>
<p>Sesuai dugaan, dialog kami singkat dan berakhir kurang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Aku memulainya cukup baik, menanyakan kenapa benda milikku dipergunakan tanpa sepengetahuan atau seizinku. Saudariku mengakhirinya dengan acungan jari tengah.</p>
<p>Cukup sampai di situ, aku mundur teratur. Tidak bijak berkeras hati menghadapinya. Erza impulsif dan beberapa hari lalu, ketidakstabilan mental membuatnya membanting laptopnya cuma karena obrolan jejaring pribadi membuatnya kesal. Mustahil aku mengizinkan hal serupa terjadi pada punyaku.</p>
<p>Kini, sendirian di kamarku, aku menghidupkan perangkat audio. Melodi “Life in Mono” karya Mono memenuhi ruangan. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur dan memejamkan mata. Satu lagi hari melelahkan berakhir.</p>
<p>Aku tahu, rutinitas ini membosankan. Senin sampai Jumat bekerja, Sabtu bercinta, Minggu berleha-leha. Cuma itu … dan selalu begitu ….</p>
<p>Tapi … apa peduliku?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=50&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/dunia-bisu-bab-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PETUALANGAN BIAWAK Bab 3</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/petualangan-biawak-bab-3/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/petualangan-biawak-bab-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 23:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[PETUALANGAN BIAWAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Bab 3: Coram Deo Halaman belakang yang porak poranda ini kosong. Pemadam kebakaran serta para penyelidik baik dari kepolisian atau dari organisasi tempatku bernaung sudah lama pergi. Begitu pula penyebab kekacauan ini. Apa pun makhluk tersebut, dia lenyap tanpa jejak sama sekali … begitu pula Vara dan Salva. “Ed, lu yakin itu bukan buruan kita?” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=47&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 3: Coram Deo</em></strong></p>
<p>Halaman belakang yang porak poranda ini kosong. Pemadam kebakaran serta para penyelidik baik dari kepolisian atau dari organisasi tempatku bernaung sudah lama pergi. Begitu pula penyebab kekacauan ini. Apa pun makhluk tersebut, dia lenyap tanpa jejak sama sekali … begitu pula Vara dan Salva.</p>
<p><span id="more-47"></span>“Ed, lu yakin itu bukan buruan kita?” Anjas bertanya dari belakang.</p>
<p>Kuamati jejak raksasa di permukaan tanah, ukurannya sekitar tiga kali lipat lebih besar dari telapak tanganku, “Iya, baunya beda.”</p>
<p>Aku bangkit lantas menginspeksi keadaan. Hanya beberapa batang cemara yang tetap berdiri utuh, sebagian hangus, sedangkan sisanya tumbang. Lampu-lampu taman juga bernasib serupa, cuma satu satu dua saja yang masih berfungsi, mengakibatkan suasana nyaris gelap gulita.</p>
<p>Monster yang menghasikan kerusakan di sini memang berukuran besar, bersayap pula. Meski demikian, aku tahu dia bukan dari spesies yang biasa kami buru. Selain baunya, ada satu hal lagi yang meneguhkan keyakinanku.</p>
<p>Kubalikkan badan, “Njas, lu inget soal riak yang pernah gue ceritain?”</p>
<p>Siluet itu mencabut rokok dari mulutnya, “Kekuatan lu, kan?”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>Aku dan saudara-saudaraku memiliki bakat istimewa. Adikku yang satu ini, Anjas, memiliki kekuatan telekinesis di luar akal sehat. Punyaku lebih unik yaitu kemampuan merasakan riak aneh melintasi sela-sela jariku, gelombang transparan menerpa wajahku, juga kecipak misterius yang kadang dihasilkan langkahku. Aku selalu merasa kekuatanku sia-sia karena tidak jelas apa kegunaannya, tapi rangkaian kejadian malam ini telah menunjukkan hal yang sangat menarik.</p>
<p>“Memangnya kenapa?” tanyanya santai sambil mengembuskan asap.</p>
<p>“Gue ngerasain riak yang sama sebelum monster itu muncul,” kataku.</p>
<p>Dia bengong sesaat, “Maksud?”</p>
<p>Meski tidak gatal, kugaruk kepalaku, “Gimana, ya? Gue nggak ngeliat langsung, tapi kayaknya dia keluar dari riak itu.”</p>
<p>Anjas bengong lagi, “Maksud?”</p>
<p>Malas meladeni ketololannya, aku menjelaskan sebisaku, “Gini, selain di sekitar badan gue, gue nggak pernah ngedeteksi keberadaan riak di tempat lain, tapi malam ini beda. Gue bisa ngerasainnya, jelas, sama kayak gue ngerasain itu kampret keluar dari sana.” Melihat adikku masih mematung, aku menambahkan, “Kalo lu tanya ‘maksud’ lagi, sumpah, gue tonjok!”</p>
<p>Lawan bicaraku terkekeh, “Kesimpulannya?”</p>
<p>Nah, aku jadi ragu sendiri, “Kayaknya &#8230; kayaknya, sih, dia dari tempat atau dunia lain terus Vara sama Salva dibawa ke sana.”</p>
<p>“Kenapa mikir gitu?”</p>
<p>Telunjukku mengarah langit, “Sampe sekarang, sekitar 10 meter di atas kita masih ada riak yang gede banget dan bau Vara Salva juga putus di sana. Asumsi gue, riak ini ada hubungannya sama teleportasi, dimensi atau apalah.”</p>
<p>Kepalanya mendongak, tapi pasti dia tidak melihat apa pun di sana, “Terus lu mau ngapain sekarang?” selidiknya sambil kembali mengisap rokok.</p>
<p>“Gue mau nyusul. Kekuatan gue pasti ada gunanya untuk hal-hal kayak gini,” jawabku mantap.</p>
<p>“Gue ikut,” enteng saja Anjas menanggapiku.</p>
<p>Respons yang demikian sudah kuperkirakan, “Lu percaya sama ocehan gue?”</p>
<p>Bayangan di depanku mengangkat bahu, “Nggak ada alasan untuk nggak percaya.”</p>
<p>Baiklah kalau begitu, “Nggak boleh,” suaraku menegas, “gue aja nggak tau risikonya buat  gue, apalagi buat lu yang nggak bisa ngedeteksi riak.”</p>
<p>“Memangnya lu mau nyusul kayak gimana?” tanyanya skeptis, mungkin kesal karena kularang.</p>
<p>“Gue mau coba-coba dulu, siapa tau bisa.” Kuambil kunci mobilku dari saku celana lalu kulempar padanya, “Kalo berhasil, tolong jagain mobil gue.”</p>
<p>Ditangkapnya benda itu, “Kalo berhasil dan lu nggak balik-balik, mobil lu gue jual.”</p>
<p>Kami tertawa. Aku mulai berkonsentrasi. Gelombang yang melintasi tanganku pelan-pelan mengumpul. Sejak dulu aku bisa memanipulasinya dengan pikiran, tapi selalu gagal menemukan kegunaannya. Mungkin kali ini aku bisa tahu tujuan dari kekuatan yang kumiliki.</p>
<p>Saat aliran tembus pandang tersebut kian cepat mengumpar di sekitar jemariku, Anjas membuang puntung rokoknya, “Cih, rasanya nggak enak, pait.”</p>
<p>Aku menyeringai, “Lah, kenapa juga lu pilih kretek? Coba yang mentol.”</p>
<p>Pemuda 19 tahun itu menggeleng, “Gue udah ilang minat sama rokok.”</p>
<p>Kini jari-jari tanganku bagaikan dibungkus tornado tak kasat mata. Untuk melengkapinya, cakar-cakarku mengeras menajam. Aku siap, tapi sebelum itu ….</p>
<p>“Njas,” kuutarakan kecemasanku, “gue udah bilang, kan, tadi gue pingsan?”</p>
<p>“Iya, dan gue yakin bukan gara-gara nabrak pohon doang,” ada kecemasan dalam suaranya.</p>
<p>“Gue juga mikir gitu. Rasanya kayak ada yang ngintervensi terus mutusin otak gue.”</p>
<p>“Kalo lu mau gue ikut, bilang aja,” katanya datar.</p>
<p>Kutatap adikku yang sayangnya lebih tinggi 13 sentimeter dariku, “Nggak, gue cuma mau minta izin untuk …” inilah bagian terberatnya, “make kekuatan gue seandainya dibutuhin.”</p>
<p>Dia menghela napas, tentunya memahami maksudku, “Lakuin apa yang perlu lu lakuin, gue percaya sama penilaian lu. Itu aja.”</p>
<p>Mau tak mau aku tersenyum, “<em>Thanks, Bro</em>.”</p>
<p>Pandanganku beralih ke atas. Aku tak bisa melihatnya, tapi jika kupejamkan mata, di sana riak-riak mewujud dalam kegelapan, berpusat pada satu titik.</p>
<p><em>Sekarang atau nggak sama sekali!</em></p>
<p>Setelah mengambil ancang-ancang dan memusatkan kekuatan pada pijakan, aku meloncat. Kini cakar kananku menghujam deras tepat menuju titik tersebut. Entah apa ekspektasiku sampai ke sini atau tidak, yang jelas, seranganku menembus sesuatu yang nyata; tidak terlihat, tapi ada. Aura dingin langsung menjalari badanku. Selain itu aku bisa merasakan riak-riak merapat, menjepit kencang jemariku seolah hendak memutuskannya demi menutup diri secara paksa.</p>
<p>Dengan satu lengan tergantung di langit, pilihanku cuma mengirimkan cakar kiri untuk menggedor riak itu habis-habisan. Lambat laun, indraku mendeteksi sebuah celah membuka dan aroma parfum kedua bersaudari itu menguar dari dalamnya.</p>
<p><em>Tunguin gue, Var! Gue dateng!</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Kehangatan menyapu wajahku dan riuh kicau burung menyapa telinga. Sepoi-sepoi angin turut membelai kulit sedangkan wangi bunga menggoda hidung. Cahaya redup itu pun memenuhi pandangan, namun kelopak mata terus terkatup erat.</p>
<p>“Tuan,” seorang gadis berkata dari sebelah kanan, “sepertinya dia mau bangun.”</p>
<p>“Kalau begitu, bukakan kelambunya,” di tempat agak jauh, pria yang dimaksud memberi tanggapan, sopan dan ramah.</p>
<p>Dengung halus diiringi suara rel tirai disingkap teratur. Kehangatan kian menjadi dan sinar tadi bertambah terang. Meski begitu, aku tetap terpejam.</p>
<p>“Tuan, pelupuknya berkedut, apa saya harus membantu membukakannya?”</p>
<p>“Biarkan saja.”</p>
<p>Sesaat kemudian, “Tuan, saya bosan. Saya bukakan.”</p>
<p>“Sabar sedikit, Ri. Jika bangun saja tidak bisa, apa gunanya dia hidup?”</p>
<p>Ucapan laki-laki itu dingin, membangkitkan sebuah ketakutan yang amat nyata. Bagaimana jika aku harus menghabiskan sisa hidup seperti ini, terbujur tak berdaya dan tanpa kendali atas tubuhku sendiri? Tidak bisa begitu! Aku harus terjaga!</p>
<p>“Tuan, detak jantung dan rasio respirasinya meningkat.”</p>
<p>“Salva,” mengabaikan ucapan si gadis, sang lelaki memanggilku, menenangkanku, “pelan-pelan saja, jangan buru-buru.”</p>
<p>Bak mematuhi permintaannya, lapisan kulit yang menutupi pandanganku perlahan membuka. Awalnya kabur, hanya tampak kabut kelabu, menaungi dan melingkupi penglihatanku.</p>
<p>“Ciri, tolong set ranjangnya.”</p>
<p>“Baik, Tuan.”</p>
<p>Mulai dari bagian punggung ke kepala, tempat tidurku melipat ke atas, membuatku duduk bersandar nyaman. Sesosok bayangan putih dengan mata biru besar muncul di sampingku. Makhluk itu mengamatiku, lantas mengantarkan salah satu jarinya menyusuri pipiku. Kubiarkan aksi tersebut karena sepertinya dia penasaran, tapi mustahil aku tak merasakan betapa sentuhannya dingin, sama sekali berbeda dari manusia.</p>
<p>“Hantu?” aku bertanya-tanya, bukannya takut atau apa, cuma heran.</p>
<p>Figur tersebut terkikik, “Bukan, matamu belum fokus,” tangannya kemudian hati-hati memegang daguku, “perlu dirangsang sedikit,” dan mengarahkan kepalaku agar menatap lurus ke depan, persis yang dilakukan kapster salon langgananku.</p>
<p>Dalam posisiku sekarang, pancaran kemerahan yang lembut dan tidak menyilaukan menerpaku. Itu pasti matahari terbit. Dan benar, lambat laun semuanya menjadi jelas.</p>
<p>Sedikit ke kiri dari hadapanku, seseorang duduk di kursi besar berlapis kulit kecokelatan. Yang bisa kulihat hanyalah siku berbalut pakaian putih pada sandaran lengan. Dugaanku dia adalah pemilik suara laki-laki tadi.</p>
<p>Di latar belakang, tampak lembah membentang hingga pegunungan berselimut gumpalan awan jingga. Itu dan rerumputan di bawah furnitur tempat sang pria menikmati paginya meyakinkanku bahwa kami sedang berada di sebuah bukit.</p>
<p>Kutolehkan kepalaku ke kanan untuk lebih mendapat gambaran mengenai lingkungan sekitarku serta gadis hantu tadi. Dia di sisi tempat tidur, berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang seolah menyuruhku mengamatinya baik-baik. Dan itulah yang kulakukan.</p>
<p>Selain perut dan persendiannya yang hitam berkilap, sekujur tubuhnya putih metalik, persis cat mobil. Posturnya seperti gadis remaja, lengkap dengan tonjolan serupa payudara di dada. Bagian pinggang sampai pangkal pahanya sedikit melebar, menimbulkan impresi dia mengenakan rok mini. Wajahnya rata tanpa hidung, mulut dan telinga, hanya ada sepasang mata besar dan berpijar biru laksana lampu neon. Selain itu, dari ubun-ubunnya, dua lempeng logam menjuntai mendekati panggul, sekilas mirip rambut dikucir dua.</p>
<p>Lengannya terulur, “Perkenalkan,” suaranya jernih, seolah tidak teredam atau terhalang sesuatu, “namaku Ciri.”</p>
<p>“Salva,” balasku sambil menjabat tangannya seraya memberi penilaian, <em>Gadis aneh berkostum robot … atau robot betulan</em>.</p>
<p>Setelah bersalaman, dia mengamatiku, “Kau tidak bertanya apakah ini kostum ataukah aku benar-benar robot?”</p>
<p>Aku bengong.</p>
<p>Si ‘robot’ mencerocos, “Biasanya, sih, orang-orang langsung nanya, ‘Eh, itu kostum, kan?’” Dia bersedekap, “Gue paling benci kalo ditanya kayak gitu, emangnya gue ….”</p>
<p>“Ciri, perhatikan bahasamu,” pria itu menyelanya.</p>
<p>“Baik, Tuan,” dia membungkuk dan berbisik, “jangan didengerin, dia emang kayak gitu, kaku, nggak asyik.”</p>
<p>Cengar-cengir aku dibuatnya. Terserah dia robot atau maniak kostum, pembawaannya yang ceria bersahabat membuatku langsung menyukainya.</p>
<p>“Ciri, aku bisa dengar,” tambah sang tuan.</p>
<p>Yang bersangkutan terkikik lagi, “Ya, sudahlah. Kau sudah kuat untuk turun?”</p>
<p>Pertanyaannya membuatku sadar bahwa badanku bugar dan pikiranku enteng, “Ya,” jawabku sambil melakukan apa yang dimintanya, di saat yang sama mendapati piyama biru polos melekat di tubuh.</p>
<p>Mungkin sadar aku mengamati pakaianku, Ciri angkat bicara, “Tuan sendiri yang memilihkannya untukmu. Suka?”</p>
<p>Meski agak sederhana untuk seleraku, aku tersenyum, “Ya,” jawabku jujur sambil mengenakan selop yang sepertinya disediakan untukku, “enak di kulit.” Pandanganku beralih ke kursi besar itu, “Kayaknya gue harus ngucapin terima kasih.”</p>
<p>Tangannya mengibas, “Sebenarnya tidak perlu, tapi, yah, sudah saatnya kalian bertatap muka.” Dipersilakannya aku ke arah majikannya, “Mari,” ajaknya.</p>
<p>Kuikuti Ciri ke kursi besar itu. Yang duduk di sana adalah seorang pria berkulit cerah dan berpakaian serba putih. Usianya kutaksir sekitar 30-35 tahun. Rambutnya cokelat, disisir menyamping, klop dengan berewok rapi yang membuat wajah perseginya nan halus mulus tampak jantan sekaligus terpelajar.</p>
<p>Walau begitu, ada satu hal yang agak menganggu, matanya. Hijau dan enak dipandang, tapi entah kenapa terasa kosong, seolah nihil jiwa di baliknya. Pikiran itu membuatku sedikit merinding, dan langsung terganti anggapan bahwa dia hanya tidak tertarik terhadap vista di depan kami.</p>
<p>“Tuan,” Ciri memanggilnya.</p>
<p>Sang tuan menoleh menghadapku. Sepasang bola mata tersebut seketika menyala oleh ketertarikan, minat … dan hasrat. Dalam kata lain, dia menelanjangiku dengan pandangannya, membuatku risih bukan kepalang.</p>
<p>“Lu nggak pernah diajarin untuk nggak melototin cewek?” tanyaku ketus.</p>
<p>Senyumnya terkembang, “Maaf.” Dirinya sekali lagi menikmati pemandangan dengan tatapan yang kembali hampa, menyiratkan kondisi mental yang terlepas sepenuhnya dari lingkungannya. “Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”</p>
<p>Otomatis aku tidak enak sendiri, “Bukan begitu, gue ….”</p>
<p>“Perkenalkan,” tangan kanannya tiba-tiba tersodor, “namaku Halesi.” Ketika aku menjabatnya, ucapannya tersambung, “dan sebelum kau menanyakan apa yang terjadi, di mana kau sekarang, bagaimana keadaan Vara, Edward, Omen, dan Tante Lus, ketahuilah bahwa kau sekarang berada di rumah sendiri.”</p>
<p>Mendadak otakku bekerja di luar kendali. Serta merta aku teringat pertarungan melawan naga serta sepasang penculik yang benar-benar menyerupai aku dan Vara. Sontak aku bingung soal tempatku berada sekarang. Tiba-tiba aku mencemaskan keselamatan saudari kembarku, Ed, Omen dan Tante Lus. Ada apa ini? Kenapa aku bisa lupa semua itu?</p>
<p>“Jangan cemas,” lagi-lagi Halesi menenangkanku, “Edward, Omen dan Tante Lus baik-baik saja. Vara juga, dan kau akan segera berjumpa dengannya.” Diakhirinya salaman antara kami, “Tapi kalian berdua takkan bisa menemui mereka lagi.”</p>
<p>“Kenapa?” sergahku.</p>
<p>Tanpa jawaban, dia menunjuk lembah. Mataku otomatis mengikuti. Bentangan hijau kini tampak jelas berikut puluhan batang pohon yang jauh lebih besar dan menjulang lebih tinggi dibanding yang lain.</p>
<p>Mulutku menganga, “A … apa ini?”</p>
<p>Pada tetumbuhan raksasa tadi terdapat pencakar langit sejenis yang biasa kulihat di kota-kota besar di seluruh penjuru dunia, menyatu sempurna bagaikan diukir langsung pada batangnya. Bentuk tiap bangunan berbeda: ada yang mengusung gaya arsitektur Yunani kuno berikut pilar-pilar megah, ada yang persegi biasa saja namun beratap kubah, ada pula yang serupa katedral gotik berjendela-jendela besar melengkung dihias kaca mozaik warna-warni. Persamaan mereka adalah semuanya memiliki celah-celah tempat begitu banyak dahan dan cabang berukuran masif menjulur memanjang.</p>
<p>Tak hanya itu, di seluruh penjuru lembah aku dapat melihat puncak dari gedung-gedung lain yang lebih kecil menyembul dari sela-sela kerimbunan. Jalan-jalan layang pun tampak seperti jembatan yang pangkal dan ujungnya terbenam lautan dedaunan. Sinar ratusan atau bahkan ribuan lampu turut pula menerobos dari balik lebatnya hutan. Kawanan burung beterbangan, suara-suara satwa asing serta deru baling-baling yang mungkin dari helikopter di kejauhan makin memperkuat nuansa  kemegahan metropolis berpadu keliaran rimba.</p>
<p>“Ini adalah Kota Bumi,” kata Halesi.</p>
<p>Antara ragu dan tak percaya, kugaruk kepala, “Kita di Lampung? Yang bener aja.”</p>
<p>Ciri terkikik. Halesi berdeham. Suasana kembali sunyi.</p>
<p>“Aku tidak membantah bahwa memang ada tempat bernama Kotabumi di negara tempat tinggalmu, di dunia sana.” Dia melirik dan sekilas tatapannya kembali berapi-api, “Sayangnya, kita sekarang berada di dunia yang sama sekali berbeda. Itu sebabnya kalian tidak bisa bertemu Edward, Omen dan Tante Lus lagi, karena mereka tidak ada di sini.”</p>
<p>Ucapannya sangat berbelit-belit dan membingungkan, “Beda dunia? Maksud lu apa, sih?”</p>
<p>“Maksudku, kalian takkan kembali ke sana, tapi seperti yang sudah kubilang tadi, di sinilah kau seharusnya berada.”</p>
<p>Penjelasannya makin membuatku kesal, “Lu udah gila kali, ya? Mentang-mentang lu ngebawa gue ke tempat aneh kayak gini, lu ….”</p>
<p>“Cukup,” pria itu memotong lalu bangkit, “sudah kuduga kau takkan mendengarkan atau menyimak jika wujudku seperti ini.”</p>
<p>Saat dia mulai berjalan ke arah lembah, tahu-tahu Ciri berbisik, “Hebat, ini rekor baru. Biasanya Hal paling sabar kalo lagi ngasih penjelasan.”</p>
<p>Aku menengok, “Maksud lu?”</p>
<p>Si robot putih menunjuk majikannya, “Lu boleh kaget, boleh nangis, boleh pingsan juga kalo mau, tapi tolong jangan sampe pipis di celana, itu nggak banget.”</p>
<p>“Hah?” masih belum memahami ucapannya, otomatis aku memandang pria itu.</p>
<p>Apa yang kusaksikan sungguh mengejutkan. Matahari kini bulat sempurna, panas dan cemerlang sementara awan hitam berpusar cepat mengelilinginya sambil terus-menerus menyemburkan halilintar. Kendati demikian, fenomena luar biasa itu bagaikan remeh dibandingkan figur yang melayang anggun di pusatnya.</p>
<p>Tanpa bisa kukendalikan, air mataku mengucur menyaksikan transformasi Halesi. Posturnya yang maskulin kini melembut, menonjolkan karakteristik kewanitaan. Rambutnya tumbuh mengombak sedangkan cambangnya sirna. Kemeja dan celananya meleleh melebur, membentuk gaun lurus panjang dengan permainan renda di sekitar dada serta draperi pada bagian pinggang yang mengembang laksana sayap bidadari.</p>
<p>Sosok tersebut memancarkan keagungan yang bahkan melebihi bola api raksasa di belakangnya, membuat jiwaku seakan nyaris melayang hanya melihat dan merasakannya. Anehnya, entah bagaimana benakku mengenali dirinya. Kekuatannya, kelembutannya, kekejamannya, kasih sayangnya, kemurniannya, korupnya. Semua mendefinisikan keberadaan dirinya dalam cara yang sama sekali di luar pemahamanku.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang mustahil terbantahkan. Wajahnya … wajahku.</p>
<p>Sangat perlahan, kedua lengannya terentang dan bersamaan aku merasakan tangan-tangan perkasa tak kasat mata di pipiku. Tangisanku makin menjadi-jadi terdorong oleh ketakutan dan perasaan lemas yang menyesakkan. Walau begitu, aku tidak bisa berpaling sedikit pun dari sepasang matanya yang keperakan, yang kuyakini melihat segala.</p>
<p><em>Salva</em>, bisikannya halus, tapi mendera seperti cambuk tajam tipis … dan aku tahu suara itu serupa dengan yang selalu keluar dari mulutku, <em>takutkah engkau padaku</em>?</p>
<p>Aku gagal menjawab. Separuhnya karena terlalu takut, separuhnya lagi karena sadar Halesi tidak membutuhkan jawaban karena maha mengetahui.</p>
<p><em>Pantang bagiku untuk melukaimu, karena itu, tolonglah percaya padaku. Apakah engkau percaya padaku, Salva</em>?</p>
<p>Susah payah aku mengangguk sekilas saja. Jujur, tak terpikir olehku untuk memberikan respons lain.</p>
<p><em>Terima kasih</em>, senyuman menghiasi parasnya, memberiku kelegaan luar biasa.</p>
<p>Lambat laun awan hitam menelan dirinya dan menutupi matahari. Seketika aku tersadar. Sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin sedangkan sisa tangisan masih membekas di pipiku. Aku menoleh dan mendapati Halesi, dalam wujud pria, duduk di kursinya, seolah tidak pernah beranjak dari sana.</p>
<p>“Apakah sekarang kau mau mendengarkan penjelasanku?” tanyanya sopan meski tidak repot-repot melepaskan pandangannya dari lembah.</p>
<p>Kepalaku mengangguk lemah. Kurasa aku tidak punya pilihan.</p>
<p>“Sebelum itu,” lirikan yang dilemparkannya kepadaku agak mengganggu, “Ciri, tolong siapkan pakaian ganti untuk Salva.”</p>
<p>Secara naluriah aku mengecek apa yang dilihat oleh Hal. Wajahku mendadak panas sampai telinga. Jeritan histerisku terlepas begitu saja sementara Ciri terbahak-bahak. Penyebabnya sederhana yaitu sebuah noda basah besar ditemani kehangatan memuakkan … di selangkanganku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=47&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2010/02/10/petualangan-biawak-bab-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PETUALANGAN BIAWAK Bab 2</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/petualangan-biawak-bab-2/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/petualangan-biawak-bab-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 08:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[PETUALANGAN BIAWAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Bab 2: Hic Sunt Dracones Jenderal Polisi Drs. H. Edi Budiman, alias Omen, menggebrak meja, “Kalian udah gede! Udah 21 taun! Masak masih berantem kayak ABG? Cuma gara-gara cowok lagi!” “Sabar, Mas,” Tante Lus berupaya menenangkan Beliau di sisinya. Tidak seperti Vara yang terus menunduk, aku sembunyi-sembunyi mencuri pandang terhadap pasangan di sofa di depanku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=44&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 2: Hic Sunt Dracones</em></strong></p>
<p>Jenderal Polisi Drs. H. Edi Budiman, alias Omen, menggebrak meja, “Kalian udah gede! Udah 21 taun! Masak masih berantem kayak ABG? Cuma gara-gara cowok lagi!”</p>
<p><span id="more-44"></span></p>
<p>“Sabar, Mas,” Tante Lus berupaya menenangkan Beliau di sisinya.</p>
<p>Tidak seperti Vara yang terus menunduk, aku sembunyi-sembunyi mencuri pandang terhadap pasangan di sofa di depanku. Dua orang ini bersahaja. Paman kami mengenakan batik merah kecokelatan bercorak Manok Swari, sangat sesuai dengan kulit cerah, perawakan tinggi langsing serta wajahnya yang lembut meski rambut bergelombangnya mulai beruban. Sang istri tampil keibuan dalam balutan kebaya brokat putih panjang, riasan ringan berikut rambut disasak tinggi demi menutupi posturnya yang agak gemuk pendek.</p>
<p>Sungguh, betapa ingin aku memanggil mereka sebagai “Mama-Papa”, dan hal itu pernah hampir jadi kenyataan. Dulu sekali, saat kondisi keluarga jauh lebih buruk dibandingkan sekarang, suami istri yang tak bisa punya anak ini pernah meminta izin mengadopsi salah satu dari kami. Permohonan tersebut tentu saja ditolak dan kini aku hanya bisa membayangkan bahwa mungkin aku atau adikku akan jadi insan yang lebih berbudi di bawah asuhan mereka.</p>
<p>Mendengar ucapan Tante Lus, Omen mendengus, “Ini akibatnya kalo anak-anak nggak ada yang ngawasin.” Dia lalu berpaling ke Ed di sisi kami, “Kamu juga! Kenapa malah ikut-ikutan? Mau sok jagoan? Mau cari perhatian?”</p>
<p>“Maaf, Om,” yang didamprat hanya bisa menjawab singkat.</p>
<p>Adik Mama tersebut kemudian mulai berceramah panjang lebar soal tanggung jawab, kedewasaan berpikir, dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Sebenarnya cukup membahagiakan karena setidaknya masih ada yang peduli untuk menegur serta memarahi kami yang sudah keluar jalur. Lihat saja mereka, langsung pulang dari resepsi pernikahan anak seorang menteri dan tergopoh-gopoh ke sini setelah dikabari Polda Metro Jaya tentang insiden Café Exotica. Sedangkan Mama dan Papa? Peduli setan ada di mana.</p>
<p>“Sekarang,” dari nadanya tegasnya, Beliau tampaknya telah memutuskan hukuman yang akan dijatuhkan. “kalian bertiga harus minta maaf sama mereka dan tanggung semua biaya pengobatan.”</p>
<p>Harus kuakui, Omen tahu benar bahwa Vara dan aku takkan suka menelan harga diri hanya untuk minta maaf pada musuh. Pastilah di matanya itu sebuah pelajaran berharga bagi kami.</p>
<p>“Urusan lain-lain biar Omen yang tangani,” katanya lagi.</p>
<p>Cukup adil kurasa. Aku dan Vara minta maaf dan sebagai gantinya, Beliau akan memastikan peristiwa tadi takkan diperkarakan. Semua orang menang walau belum tentu semua orang senang.</p>
<p>“Tapi kalo besok-besok kalian berulah lagi, Omen sendiri yang masukin kalian ke sel. Terus, tiap kali Mama Papa sama-sama keluar kota, kalian nginep di rumah kami. Ke mana-mana harus jelas dan jam malam berlaku!”</p>
<p>Pada akhirnya, ini cuma semakin menunjukkan betapa orang tua kandung kami tidak kompeten. Omen berhak mengambil keputusan itu karena dia sedikit banyak telah mengambil alih peran sebagai ayah sejak kami berdua baru belajar berjalan dan Papa terlalu sibuk mencari uang. Ketika kami beranjak remaja, Mama makin getol membantu bisnis Papa dan alhasil hanya Tante Lus yang mengisi kekosongan itu.</p>
<p>Ya, Paman dan Bibi selalu ada di setiap momen kecil dalam hidup kami: sekadar menghadiri resital pianoku, melatih Vara bertinju, serta mengajak kami berpariwisata ke tempat-tempat mengasyikkan. Dan semuanya berujung pada pertanyaan-pertanyaan pahit. Jika Omen dan Tante Lus bisa meluangkan waktu, kenapa orang tua kandung kami tidak bisa? Apakah Omen dan Tante Lus bisa karena tidak punya anak?</p>
<p>“Kemasi baju!” instruksi Omen keras dan jelas. “Kita ke Rumah Sakit Fatmawati terus pulang ke Pattimura.”</p>
<p>Diam-diam aku bersyukur. Dengan begini, kami berdua dapat memiliki sebuah keluarga utuh. Dan nun jauh di relung hati, aku turut berharap Mama dan Papa tak usah kembali lagi … selamanya.</p>
<p>Saat aku mulai melangkah, suara anak perempuan misterius seperti kudengar tadi sore mengudara kembali, <em>Keinginan durjana, tidak lengkap tanpa naga</em>.</p>
<p>Aku langsung celingak-celinguk, menyapukan pandangan ke semua penjuru. Ruang keluarga ini lapang dan dilengkapi jendela-jendela kaca berukuran besar, menampilkan pemandangan halaman belakang yang luas nan asri bermandikan cahaya lampu-lampu taman. Furnitur-furnitur berwarna netral seolah berpendar di bawah penerangan kandil klasik yang menggantung dari langit-langit. Semua itu dilengkapi oleh kehadiran orang-orang yang kusayangi. Yang absen hanyalah pemilik bisikan lirih tadi.</p>
<p>“Va?” Vara mengamatiku lekat-lekat, “Kenapa lagi?”</p>
<p>Kugelengkan kepala, “Nggak, gue cuma ….”</p>
<p><em>Naga, naga, naga, naga, naga, naga, naga, naga, naga</em>.</p>
<p>“Naga?” aku hanya bisa kebingungan sendiri sementara semua orang menatapku keheranan.</p>
<p><em>Bagus, tinggal yang satu lagi</em>, kali ini suaranya terdengar agak berbeda.</p>
<p>Adikku mengernyit penasaran,“Apa, Va? Naga?”</p>
<p>Dan sepasang pembisik identik itu terkikik girang, benar-benar selaras dan senada, <em>Terpanggil</em>!</p>
<p>Seketika itu pula angin dingin berembus entah dari mana. Bulu kudukku meremang. Vara dan Ed seketika menengok ke kiri dan kanan diiringi ekspresi tegang. Omen serta Tante Lus bangkit dari tempat duduk dengan muka penuh tanda tanya. Mereka juga merasakannya. Sesuatu tengah terjadi di sini.</p>
<p>Yang pertama kali bergerak adalah Edward. Pemuda keling itu melesat, menerjang Omen dan Tante Lus hingga menabrak sofa, membuat mebel tersebut terbalik bersama ketiganya. Belum sempat aku bereaksi atas tindakannya, langit-langit di atas kami bergemuruh lantas jebol begitu saja. Reruntuhan dan kandil menimpa meja berikut lantai tempat Paman dan Bibi berdiri tadi.</p>
<p>Masih terpaku akibat kaget sekaligus ketakutan, aku sangat menyadari bahwa semuanya baru saja dimulai. Dalam keremangan ini dan dari lubang di atas sana, aku mendengar tarikan napas yang kasar dan teratur ditingkahi geraman tertahan. Namun yang paling membuatku ciut adalah ketika mataku menangkap siluet benda panjang menjulur masuk dari celah berdiameter sekitar 3 meter tersebut.</p>
<p>Rentetan kejadian berikutnya berlangsung dengan cepat …terlalu cepat. Kilatan halilintar melintasi langit mengekspos sisik kecokelatan pada permukaan objek asing tadi. Selanjutnya, ketika semburan api membakar para ajudan Omen yang menyerbu masuk, tampak jelaslah kepala kadal bermata keemasan, bertanduk runcing serta deretan taring menghiasi moncong panjang yang menganga lebar sebagai sumber pancaran maut membara.</p>
<p>“Lari!” Vara menyambar lenganku dan menghambur ke pintu kaca.</p>
<p style="text-align:center;"><em>***</em></p>
<p>“Lepasin, Var!” Salva meronta saat aku terus berlari sambil menariknya ke deretan cemara yang memenuhi taman belakang. “Kita harus nolong Omen!”</p>
<p>“Bodoh! Ini kita lagi nyelamatin mereka!” pekikku di sela rintik gerimis.</p>
<p>Aku tak perlu menjelaskan padanya bahwa kami tengah mengalihkan perhatian makhluk itu dari Omen dan Tante Lus. Aku juga tak perlu menjelaskan padanya bahwa sesungguhnya kami tengah mempertaruhkan nyawa demi mereka yang kami sayangi. Aku tak perlu menjelaskan apa pun … karena tetes air yang sejenak terhalang ketika sesuatu mengibas dan melintas di atas merupakan penanda yang sangat jelas.</p>
<p>Benar saja. Dia mendarat berdebam agak jauh di depan, merobohkan beberapa pohon lalu membalikkan badan. Berhadapan langsung dengannya, kini wujudnya terlihat jauh lebih mengerikan. Makhluk itu besar dan meski merayap seperti buaya atau komodo, tinggi punggungnya sekitar 3-4 meter. Sepasang tungkai depannya kuperkirakan merangkap sebagai sayap karena ada tonjolan panjang dari tiap sikunya. Di bagian belakang, ekor reptil melecut pelan mengikuti tiap gerakannya.</p>
<p>Entah kakakku sudah pingsan atau masih sadar, namun aku terlalu takut untuk menengok ke arahnya, karena itulah kubisikkan, “Jangan bergerak.”</p>
<p>Si monster makin mendekat, menggesek cemara di kedua sisinya, tapi mendadak dia mendongak. Sedetik kemudian aku mengetahui penyebabnya. Edward meluncur dari atas, menghantamkan bogem mentahnya ke kepala sang kadal besar. Musuh tersungkur, sobatku mendarat semulus kucing hutan.</p>
<p>Ed menoleh, “Omen di halaman depan! Cepetan!”</p>
<p>Kali ini giliran Salva yang menarik tanganku. Mau tak mau aku mengikutinya berlari kembali ke rumah. Belum apa-apa, rekan seangkatanku terpental melewati kami lalu menghantam batang kasuarina diiringi derak mengerikan. Kakak langsung melepaskan pegangannya dan menghampiri Ed yang terkapar tak siuman.</p>
<p>Di saat bersamaan, panas yang amat sangat dan cahaya keemasan berkiblat dari belakang. Seketika aku menyadari napas api sang naga sudah di punggungku. Mungkin itu sebabnya aku berbalik. Jika harus mati, aku tak mau mati sebagai pengecut! Akan kuhadapi maut secara empat mata.</p>
<p>Kurang dari sedetik lagi semburan neraka itu menjangkauku … tapi tidak. Lidah api tersebut seolah membeku di udara. Panasnya pun sirna meski cahayanya tetap terang-benderang. Begitu pula tetesan air, mereka mengambang begitu saja di udara.</p>
<p><em>Di dalam api, takdir menanti</em>, dari tempat yang bukan di sini dan waktu yang bukan sekarang, kata-kata seorang anak perempuan memandu lenganku ke gelombang bara, anehnya terasa hangat nan lembut, tanpa sedikit pun membakar.</p>
<p>Masih diliputi keheranan, tanganku menarik keluar sebuah pedang, seakan tahu benar senjata itu ada di sana, tersembunyi di balik nyala inferno. Dan betapa aku takjub melihatnya. Bilahnya yang bermata ganda berpendar biru cerah, dengan panjang melebihi 1,5 meter dan lebar sekitar sejengkal. Lebih aneh lagi, peganganku di gagangnya terasa mantap serta familiar, seolah ini bukan yang pertama kali &#8230; seolah aku memang terlahir untuk menggenggamnya.</p>
<p>Suara tadi mengudara lagi, <em>Tengoklah sang kesatria berpusaka kencana, aduhai gagah perkasa, tapi apalah guna jika masa pula berjaya</em>?</p>
<p>Sudah jelas itu adalah sebuah peringatan. Tak pelak aku meningkatkan kewaspadaan karena aliran waktu berangsur normal. Gelombang panas tersebut pun kembali melaju. Enteng saja tubuhku bergerak mengayunkan pedang secara vertikal hingga menghantam tanah, membuat semburan api terbelah dua bak arus sungai melewati karang.</p>
<p>Di belakangku, kakakku menjerit ketika serangan itu melintas. Kendati demikian, aku tahu aku telah membelahnya cukup lebar hingga takkan melukai Salva dan Ed. Tetap saja akhirnya pancaran ganda tadi menghantam rumah, menghasilkan dentuman sedang berpadu bunyi kaca jendela berderak pecah.</p>
<p>Ketika mengembalikan badan ke posisi tegak, benakku mendadak dipenuhi kelebat gambaran aspek-aspek pertarungan pedang: berbagai cara menggenggam gagang baik satu tangan atau dua, beragam kuda-kuda ofensif, defensif atau tipuan, bermacam pola pergerakan kaki untuk menebas, menusuk, menangkis, dan menghindar. Ditambah variasi penerapan dalam pertarungan melawan satu musuh atau lebih, kesemuanya memberiku opsi tak terhingga.</p>
<p>Sebagai pelengkap, sebuah sensasi aneh menjalari otot-ototku, membangunkan mereka dari segala kejemuan rutinitas membosankan. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dan apa penyebabnya, tapi kurasa aku tak peduli. Satu hal sudah jelas bahwa aku jauh lebih kuat, lebih cepat dan lebih mematikan daripada aku beberapa menit lalu. Dan sekarang, aku ingin membantai seekor naga.</p>
<p>“Bawa Ed jauh-jauh,” aku terkesima sendiri merasakan gelegar dahsyat di balik ucapanku.</p>
<p>Meski takut dan bingung menghias parasnya, anggukan Salva membuatku kembali memfokuskan diri pada lawan. Pandangan kami beradu. Dari balik sepasang mata keemasan itu, dia tengah mengukur kekuatanku. Jika begitu, kupastikan penampilanku takkan mengecewakan.</p>
<p>Petir membelah langit menjadi penanda dimulainya duel kami. Kedua kakiku menyentak, mengirimku melaju ke arahnya dengan kecepatan luar biasa. Meski begitu, tak sesaat pun aku kehilangan kendali, terbukti dari betapa mudahnya aku bersalto menghindari terkaman moncongnya.</p>
<p>Target pendaratanku adalah punggung lehernya. Bukan hal sulit karena kini aku telah menungganginya. Tanpa buang waktu, dia berupaya menggarukku dengan salah satu tungkai depan. Organ tersebut langsung merasakan bacokan pedang dan senjata itu kemudian kubenamkan dalam-dalam di sisi lehernya. Yang bisa kulakukan berikutnya hanyalah berpegangan erat pada tanduknya karena sang naga meraung dan berontak dalam kesakitan, persis hewan rodeo.</p>
<p>“Salva, awas!” aku menjerit panik karena monster ini makin meronta-ronta mendekati saudariku yang masih menyeret Edward.</p>
<p>Ketakutanku hampir menjadi kenyataan, namun di detik terakhir sayap selaputnya terentang dan dia pun mengudara membawaku bersamanya. Si kadal raksasa terbang ugal-ugalan, berguling, menanjak dan meliuk sembari terus menggoyangkan leher untuk menjatuhkanku.</p>
<p>Sadar keadaan bisa memburuk seandainya dia terus menambah ketinggian, aku mengambil tindakan drastis. Dengan tangan kanan, kucabut pedang lalu kutusukkan lagi berulang kali. Lengkingan perihnya terdengar, lalu sunyi karena sepasang sayapnya berhenti mengepak. Kami pun mulai menukik deras ke bawah.</p>
<p>Aku tak tahu apa dia pingsan atau mati, tapi aku takkan jatuh bersamanya. Sigap kuposisikan kedua kaki di atas lehernya, membuatku kini sedikit berjongkok menyamping dengan tangan kiri masih memegang tanduk. Ini agak mirip naik papan seluncur, hanya saja papannya bersisik, besar, berdarah-darah dan kini meluncur ke Bumi dengan kecepatan tinggi. Meski begitu aku sama sekali tak cemas karena yakin sepenuhnya <em>timing</em>-ku pasti sempurna.</p>
<p>Begitulah. Sekitar 2 meter dari tanah, aku meloncat tinggi sementara dia terhempas keras dan terjungkal menghantam pepohonan. Bagiku duel ini sudah selesai.</p>
<p>Namun mendadak tubuhku mematung di udara sementara suara misterius itu kembali berkumandang, <em>Bunuh si buruk rupa, selamatkan si cantik</em>.</p>
<p><em>Tapi</em>, meski mirip, aku yakin pemilik ucapan ini berbeda dari yang tadi, <em>bagaimana jika si buruk rupa ada dua</em>?</p>
<p>Ketika itulah angin menderu di depanku dan seekor naga lain menyeruak menembus kegelapan. Aku sempat mengadu pedangku dengan cakar-cakar tungkai belakangnya. Dan aku terkesiap kala menyadari dia terbang tepat ke arah Salva.</p>
<p>“Salva!” jeritku sambil mendarat ketika pilar panas keemasan terbentuk sempurna sampai ke tanah, membakar barisan cemara dan makin mendekati Salva serta Edward.</p>
<p>Semua sudah terlambat. Tiada yang bisa kuperbuat. Embusan api itu melewati keduanya tanpa ampun, menyisakan jejak kobaran bara yang tinggi dan bergejolak.</p>
<p>Tangisanku mengalir, hatiku menolak percaya, tapi nalarku memastikan tak perlu ada pemikiran muluk tentang betapa Salva pasti selamat, lari atau apa. Saudariku sudah mati! Cengkeramanku di gagang pedang mengencang untuk satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang.</p>
<p>Baru saja aku hendak menerjang demi membalaskan dendam, bisikan-bisikan keparat itu mencegahku, <em>Mudah sekali</em>.</p>
<p><em>Minta saja si cantik ikut bertarung</em>.</p>
<p>Pada saat itulah tembok api bergolak sebelum tercerai-berai ke segala penjuru. Salva berdiri tanpa terluka sedikit pun dan tangan kirinya mengusung sesuatu yang menyerupai sepucuk senapan besar. Matanya pun bersinar keperakan sedangkan rambut ikalnya berkibar-kibar. Sungguh kecantikan yang sempurna.</p>
<p>Dengan senyum manis terkembang, dia melangkah anggun ke tempatku. Kubalas senyumannya sembari turut berjalan mendekat. Ketika kami akhirnya berhadap-hadapan, aku bisa melihat jelas senjata Salva. Tak salah lagi, itu senapan hitam panjang berlaras ganda, satu di atas yang lain. Masing-masing mulutnya sekitar sekepalan tangan, membuatku agak bertanya-tanya soal kaliber dan jenis peluru yang digunakan. Satu lagi keunikannya adalah di ujung popor terdapat rangkaian bilah belati, sambung-menyambung membentuk seutas cambuk logam.</p>
<p><em>Biawak lawan naga</em>.</p>
<p><em>Siapa yang akan menang</em>?</p>
<p>Salva mengangkat senapannya ke samping tanpa menoleh sedikit pun dan kami menjawab serempak, “Biawak.”</p>
<p>Seberkas sinar sewarna darah melesat dahsyat dari senjata tersebut dibarengi letusan serupa lengkingan orang mati. Getaran ledakan kencang yang terjadi sesaat kemudian menandakan serangan tadi telah meluluhlantakkan naga pertama.</p>
<p>Kami mendongak sementara naga kedua meraung getir di atas sana, mungkin sadar dirinya kini tak lebih dari seekor mangsa. Kembaranku melompat kecil dan tubuh langsingnya melayang gemulai. Senjatanya membidik angkasa. Aku tahu, aksinya pasti seru!</p>
<p>Dan terjadilah. Setelah tembakan pertama, saudariku lenyap dari pandangan dan seketika muncul di sisi langit yang lain. Tembakan kedua disusul yang ketiga dari tempat berbeda. Begitu terus, makin lama makin cepat hingga kini muncul belasan Salva, menembakkan senjatanya bersamaan. Hasilnya adalah hujan cahaya merah dari bawah ke atas ditingkahi lolongan-lolongan alam lain, mustahil dihindari target kami.</p>
<p>Aku sendiri telah meluncur di antara kilatan-kilatan maut. Liukan terbang dan akselerasi kecepatanku benar-benar mulus. Sekian banyak proyektil energi Salva mudah saja kuhindari. Seperseratus detik kemudian, pedangku menebas lehernya dan apa pun yang tersisa dari naga itu dihancurleburkan oleh serangan kakakku.</p>
<p>Kami berdua mendarat bersamaan, saling memberi penghormatan dengan mengangkat senjata masing-masing di depan wajah. Seringai kemenangan turut pula mencuat di wajahku dan Salva.</p>
<p><em>Ah, betapa digdaya para penakluk</em>, mendadak tubuh kami ambruk begitu saja, kehilangan daya dan terbebani letih luar biasa.</p>
<p>“Tetapi tetap saja terkungkung jasad fana nan busuk,” bisikan itu menjelma menjadi sesuatu yang nyata … dan dewasa, amat berbeda dari lirih suara anak perempuan yang kami dengar sebelumnya.</p>
<p>Dari tempatku terkulai, akhirnya aku melihatnya. Sepasang siluet tersebut tampak familiar, tinggi langsing proporsional berikut lekuk kewanitaan sempurna, menandakan absennya busana. Rambut mereka tergerai, juga terasa akrab: yang satu lurus, yang lain ikal.</p>
<p>Si rambut lurus mendekat lalu mudah saja membopongku, “Waktu yang dijanjikan telah tiba.”</p>
<p>Mulutku terkunci dan aku hanya bisa membelalak melihat parasnya. Wajah oval itu, sepasang mata bulat itu, hidung bangir itu, rambut lurus kecokelatan itu, semuanya sama persis dengan yang selalu kulihat dalam cermin.</p>
<p>Dia mengangguk, mungkin membenarkan apa yang kulihat, “Saatnya pulang ke dunia kita.”</p>
<p>Sementara aku masih bingung soal kemiripan luar biasa ini dan makna di balik kata-katanya, segumpal cahaya terang meliputi kami. Dia pun membubung membawaku. Sadar aku terlalu lemah untuk berontak, aku menengok dan mendapati Salva juga tengah dibawa mengangkasa oleh wanita yang sama persis dengannya.</p>
<p>Meski jaraknya agak jauh, aku dan saudariku berpandangan. Tatapan sendunya mengungkapkan isi benaknya, bahwa kami takkan pernah kembali.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=44&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/petualangan-biawak-bab-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PETUALANGAN BIAWAK Bab 1</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/petualangan-biawak-bab-1/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/petualangan-biawak-bab-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 08:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[PETUALANGAN BIAWAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Bab 1: Vagina Dentata “Va! Salva, sini!” pekikku serak karena masih tipsy akibat terlalu lama ditemani Jack Daniels. “Liat, nih!” kataku sambil menunjuk ke TV plasma 64 inci di depanku. Orang yang kupanggil segera mendekat ke sofa tempatku berbaring, tentunya dengan agak sempoyongan karena sama telernya denganku, “Napa?” tanyanya sengau. Dia seorang gadis berusia 21 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=41&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 1: Vagina Dentata</em></strong></p>
<p>“Va! Salva, sini!” pekikku serak karena masih <em>tipsy</em> akibat terlalu lama ditemani Jack Daniels. “Liat, nih!” kataku sambil menunjuk ke TV plasma 64 inci di depanku.</p>
<p>Orang yang kupanggil segera mendekat ke sofa tempatku berbaring, tentunya dengan agak sempoyongan karena sama telernya denganku, “Napa?” tanyanya sengau.</p>
<p><span id="more-41"></span></p>
<p>Dia seorang gadis berusia 21 tahun. Tubuhnya dibalut gaun mini putih berbahan satin berkerah <em>halter</em> dengan belahan dada nan mengundang, sayangnya lecek karena dibawa tidur sepulang <em>clubbing</em> semalam. Matanya bundar dan biasanya bersinar ceria, namun kini kuyu serta sedikit membengkak. Hal itu diperparah dengan riasan yang luntur ke mana-mana. Rambutnya yang ikal, sebahu dan kecokelatan pun porak-poranda.</p>
<p>Terlepas dari kekacauan penampilannya saat ini, tak bisa kusangkal Salva masih sanggup membuat pria panas dingin. Kulitnya putih bersih dan postur tubuhnya ideal dengan tinggi 175 sentimeter berikut buah dada ranum ukuran 34 C. Bentuk wajahnya bulat telur, dipermanis dengan hidung runcing dan bibir padat berisi.</p>
<p>Oh, jika aku bilang Salva masih sanggup membuat pria panas dingin, sudah pasti aku juga bisa. Tak lain dan tak bukan karena aku sama persis dengannya. Yap, kami kembar identik, bak pinang dibelah dua kalau kata orang. Sialnya, di detik ini pun ungkapan itu masih berlaku alias aku juga berantakan seperti dirinya.</p>
<p>“Laki lu,” kataku gusar sambil mengamati pasangan yang dikerubuti reporter gosip di layar kaca, “kayaknya perlu dikasih pelajaran, deh.”</p>
<p>Salva tercenung, tapi bulir-bulir air di sudut matanya sudah mengatakan semua. Nah, kalau sudah begini mau tak mau aku juga jadi ingin menangis. Ini salah satu hal yang kubenci dari fakta bahwa aku dan dia kembar, pikiran kami saling memengaruhi. Atau mungkin memang overdosis alkohol turut membuatku <em>mellow</em>, sialan!</p>
<p>“Gue sudah bilang, kan?” kubiarkan keketusanku menyolok. “Jangan pacaran sama anak band, apalagi yang kegatelan kayak dia.”</p>
<p>“Tapi, Var,” seperti biasa, dia mulai merengek dan membela diri, “Ara nggak kayak gitu! Dia baik!”</p>
<p>Aku mendesah, “Non, tuh,” kutunjuk TV, “Aradea lu yang baik hati, <em>charming and bullshit </em>banget!” Tinjuku mengepal, “Hajar!”</p>
<p>Kakakku yang lebih tua 3 menit itu kembali memandang kemesraan dua sejoli yang tertangkap kamera tepat saat wartawan <em>infotainment</em> mengajukan pertanyaan, “Katanya lagi jalan sama Salva, fotomodel yang belakangan ini lagi naik daun?”</p>
<p>“Oh itu, gue sama Salva cuma temen deket, kok,” roker berumur pertengahan 20-an, berkulit terang, bermuka badung dengan sorot mata liar dan rambut lurus sebahu itu menjawab. “Dia, tuh, udah kayak adek sendiri.”</p>
<p>Tak urung aku ngakak, “Anjrit, berani bener dia grepe-grepe adek sendiri.”</p>
<p>Responsku langsung disambut pandangan marah Salva. Dia memang tak pernah suka mulut lancangku, tapi salahnya sendiri cerita-cerita soal percintaan mereka sudah sampai ke <em>second base</em> alias menjangkau payudara.</p>
<p>“Ya, udah! Kita samperin!” tanggapan murka tersebut berarti Salva telah terbakar total.</p>
<p>“Gitu, dong!” kuacungkan jempol padanya. “Ntar gue telepon Ed ….”</p>
<p>Mendadak perutku bergejolak dan mata berkunang-kunang. Naluri serta-merta memaksaku menarik tubuh dan menjulurkan kepala ke sisi sofa. Perasaan menjijikkan itu terus menanjak hingga ke kerongkongan, sampai akhirnya ….</p>
<p>Yang terakhir kali kudengar sebelum semua berubah menjadi gelap adalah jeritan cempreng kembaranku, “Mbok Darmiiiiiii! Vara muntah!”</p>
<p style="text-align:center;"><em>***</em></p>
<p>Sekali lagi kuperiksa dandanan di cermin tinggi yang memantulkan bayangan sekujur tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelan celana panjang dan blazer hitam Armani berpadu blus putih kasual yang secara keseluruhan memudahkan pergerakan dan tidak mudah robek? <em>Classy</em>. Sepatu hak <em>stiletto</em> Manolo Blahnik sebagai senjata rahasia seandainya terdesak? Mantap. Sarung tangan cerpelai untuk memastikan manikur tidak rusak? Seksi. Rambut ikal disanggul cepol modern agar tidak dijambak? Oke. Riasan tipis natural berikut <em>lipgloss</em> merah muda serta <em>smoky eyes</em>? Cek. Anting-anting platina sebagai pelengkap? Sempurna!</p>
<p>Aku tersenyum sembari menyemprotkan Acqua Fiorentina ke sekitar leher dan membatin, <em>Street chic</em>.</p>
<p>Vara masuk ke kamar dan langsung menghambur ke meja rias, “Va, bagi parfum, dong. Punya gue abis.”</p>
<p>Kuamati dia ketika datang menghampiri. Adikku mengenakan busana super simpel. Jaket kulit hitam, okelah dari Michael Kors, dipadu celana jin dan sepatu bot. Rambut cokelat lurusnya pun tak memberi nilai lebih karena cuma dikucir kuda biasa. Dandanan? Minimum dan sekadar untuk menyembunyikan ekspresi kusut, namun tertolong fakta bahwa Vara telah tidur seharian dengan meletakkan irisan mentimun di kedua matanya.</p>
<p>Saat menyerahkan botol parfum yang kupegang padanya, dalam hati aku turut memberikan penilaian terhadap penampilannya, <em>Biker lesbian</em>.</p>
<p>Mungkin seharusnya aku lebih berhati-hati dengan pikiranku karena Vara memberikan pandangan menyelidik. Dan, masih dengan tatapan ‘gue-tau-lu-mikir-aneh-soal-baju-gue’, secara brutal dia menyemprotkan wewangian tersebut ke seluruh badannya.</p>
<p>Sadar aku harus mengikhlaskan produk mahal itu, kuputuskan untuk menanyakan hal yang lebih penting, “Lu yakin udah seger?”</p>
<p>Dia mengacungkan jempol sambil mematut diri di depan cermin, “Sip! Jahe anget bikinan Mbok Darmi paling top, deh!”</p>
<p>“Tapi kalo badan lu masih nggak enak ….”</p>
<p>Vara menyelaku, “Apa, sih? Lagian ada Ed ini.”</p>
<p>Baru saja aku hendak memaksanya mengurungkan niat untuk ikut, terdengar deru khas sebuah mobil berkecepatan tinggi memasuki halaman rumah.</p>
<p>“Panjang umur, tuh, orang,” gumamku lalu beralih ke saudariku, “Udah siap?”</p>
<p>Anggukannya mengiringi langkah kami keluar kamarku dan turun ke lantai dasar. Langkah kami menggema di wastu yang luas dan kosong ini, memantul di dinding marmernya yang indah dan mewah. Agak sedih juga karena bangunan megah ini berikut segala fasilitas serta perabotnya tak lebih dari pengingat konstan betapa hidup kami serupa dengannya, hampa. Mama dan Papa entah di mana, sibuk dengan segala urusan mereka. Tidak apa, karena sejak dulu aku selalu memiliki Vara.</p>
<p><em>Dan Vara selalu punya Salva … selalu</em> …. bisikan seorang anak perempuan seolah menggema dari tempat dan waktu yang sangat jauh.</p>
<p>Aku tercekat dan seketika menoleh ke belakang, mencari-cari si pemilik suara. Kesunyian aula ruang tamu balik menatapku. Tidak ada siapa-siapa.</p>
<p>“Va?” Vara mengamit tanganku, “Kenapa?”</p>
<p>“Nggak,” aku menggeleng dan kembali melangkah, <em>pasti gue masih teler</em>.</p>
<p>Dalam keremangan senja, sebuah Ford Mustang GT/CS hitam keluaran 1968 telah terparkir di lintasan depan pintu utama rumah kami. Berdiri bersandar pada pintu penumpangnya adalah Edward, teman sekampus Vara di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kesempatan ini kugunakan untuk memperhatikan busananya. Nuansa kelabu dari celana panjang dan rompi sutra beritsleting dikombinasikan dengan sepatu kulit hitam. Vonis pun kujatuhkan, <em>Macho fashionista</em>.</p>
<p>Memang begitulah adanya. Pemuda sebaya kami ini keriting, kekar, berkulit gelap dengan garis wajah tegas akibat tulang rahang menonjol. Ditambah kendaraan keren dan selera mode kelas atas, Ed boleh dikatakan sempurna … kecuali tentu saja tingginya yang hanya 160 sentimeter.</p>
<p>“Berangkat,” Vara memberikan instruksi.</p>
<p>Dia mengernyih, “Baik, Nyonya,” lalu membukakan pintu dan melipat kursi depan agar aku bisa masuk ke kursi tengah. “Silakan, Nona.”</p>
<p>Setelah kami semua naik, kendaraan ini melaju meninggalkan kawasan hunian mewah Sentul sementara di kursi penumpang depan, Vara mulai mengaduk-aduk kumpulan kaset Ed di laci dasbor, “Sumpe lu, hari gini masih make kaset? Mana jadul semua lagi!”</p>
<p>“Anjing!” sang pengemudi memaki. “Masih untung gue mau nemenin!”</p>
<p>Sekeras apa pun kata-katanya, aku tahu Edward takkan pernah menolak permintaan Vara. Terus terang, mereka serasi. Andai saja adikku lebih peka ….</p>
<p>“Jadi?” Vara mencondongkan badan ke arahku, “Laki lu kita labrak aja? Atau perlu dihajar juga?”</p>
<p>Otomatis mukaku cemberut mendengar caranya menyebut si keparat itu, “Tolong jangan sebut dia laki gue, ngebetein tau!”</p>
<p>Saudariku cengengesan tanpa penyesalan, “Ya, maap. Jadi? Labrak aja atau hajar juga?”</p>
<p>Aku mengangkat bahu, malas memikirkannya meski telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, “Gimana nanti aja, deh.” Kuputuskan untuk mengubah topik, “Ed, lu beneran tau Ara lagi di mana?”</p>
<p>“Bentar,” Edward memencet tombol di setir, “tadi siang udah disiapin semuanya,” dan sebuah tablet LCD perlahan mencuat keluar dari dasbor.</p>
<p>Alis Vara terangkat, “Lu masang ginian, tapi nggak masang CD <em>player</em>?”</p>
<p>Jari supir kami menekan pilihan menu bertuliskan ‘<em>Unified GPS-GPRS Tracking System</em>’ di monitor, “Bukan gue yang masang, tapi temen gue.”</p>
<p>Perangkat itu kemudian menampilkan peta digital lengkap dengan nama jalan. Di salah satu bagiannya, sebuah titik berkelap-kelip merah biru.</p>
<p>“Apaan, tuh?” tanyaku.</p>
<p>“Lokasi mobil sama HP Ara,” jawab Ed.</p>
<p>“Anjrit!” seru adikku takjub. “Lu make pelacak?”</p>
<p>Jujur, aku juga kagum, “Dapet dari mana?”</p>
<p>“Dari temen.”</p>
<p>“Canggih banget temen lu. Intel Omen aja kalah kali,” rasa ingin tahu Vara tergolong wajar karena institusi Kepolisian Republik Indonesia yang dikepalai paman kami tersebut mungkin tidak punya yang seperti ini.</p>
<p>Si pemuda hitam mendesah, “Nggak usah dipikirin, yang penting kita dateng, selesain urusan, pulang. <em>By the way</em>, Non, lu kenal daerah itu, nggak?”</p>
<p>Sadar dia tidak mau membahasnya lebih lanjut, aku lantas mengamati detail-detail di layar, “Daerah Kemang, Jalan Kemang Raya ….” Sebuah lampu menyala dalam kepalaku, “Ah, gue tau! Dia di Café Exotica.”</p>
<p>Seketika itu pula hatiku berubah kelam. Café Exotica adalah tempat aku dan Aradea biasa nongkrong, sekadar buang waktu dengan menikmati kebersamaan satu sama lain. Betapa muluknya kenangan itu, tapi pasti akan kutebus sangat setimpal setibanya kami di sana!</p>
<p>“Kemang,” kembaranku bersedekap, “harusnya, sih, nggak macet-macet banget hari Minggu malem kayak gini.”</p>
<p>Vara benar, dan berkat Edward yang mengemudi gila-gilaan, kurang dari sejam kami telah sampai. Selama itu tak sedikit pun indikator keberadaan Ara berpindah tempat. Ah, dia memang suka kafe tersebut dan betah berlama-lama di sana menikmati suasananya.</p>
<p>Betul saja, kami langsung disambut atmosfer yang nyaman dan apik<em> </em>ketika memasukinya. Bagian depannya adalah restoran dan diisi kursi-kursi serta meja-meja makan yang tertata rapi di bawah pencahayaan lembut. Makin ke belakang, melewati sekat kaca transparan berhiaskan pola-pola flora berwarna putih, suasana makin remang-remang karena di sanalah bar berada, lengkap dengan pendar ungu pada panel gerainya.</p>
<p>Seorang pelayan wanita menghampiri kami dengan senyum sopan karena mengenaliku, “Selama malam, Mbak Salva. Mau makan bertiga?”</p>
<p>Sadar bahwa keadaan nantinya bisa berkembang sangat buruk, sedapat mungkin kubalas keramahtamahannya, “Kita ada janji sama Aradea. Dia di sini, kan?”</p>
<p>“Silakan,” dia lalu memandu kami ke arah bar melewati keramaian kafe yang baru terisi setengahnya.</p>
<p>Setelah memasuki area bar yang melebar pada kedua sisinya, kutolehkan kepala ke sayap kiri. Di sana terdapat panggung kecil tempat para pemusik menghibur pengunjung. Penampil kali ini adalah <em>band</em> yang melantunkan “Don’t Cry” milik Guns N’ Roses dalam versi <em>bossa nova</em>. Didukung perkusi, piano, gitar akustik dan elektrik, bas serta seruling, suara si vokalis perempuan mengudara, mendayu-dayu nan menghanyutkan, menambah sendunya perasaanku.</p>
<p><em>Gue nggak akan nangis</em>! batinku sambil melangkah ke sayap kanan yang berisi bilik-bilik berisi sofa setengah lingkaran untuk para tamu yang datang berkelompok.</p>
<p>Di salah satu kompartemen agak tertutup tersebut, kami mendapati Aradea ditemani dua pria anggota <em>band</em>-nya dan sepasang gadis remaja sekitar 17-19 tahun, salah satunya adalah yang kulihat di acara gosip pagi ini. Kondisi yang kurang terang membuatku tak bisa mengamati si berengsek secara jelas, tapi tampaknya dia mengenakan gaun malam <em>one-shoulder</em> berwarna biru. Parasnya? Biasa-biasa saja, bulat dengan mata agak sipit, hidung sedang dan rambut <em>multilayer</em>.</p>
<p>“Jadi ini maenan baru lu?” kuajukan pertanyaan itu agak lantang meski masih bernada tenang.</p>
<p>“Salva?” kekasihku tercinta berdiri, jelas-jelas terkejut oleh kedatanganku.</p>
<p>Edward menepukkan kedua tangannya, “Oke, yang laen tolong keluar dulu, ya. Non Salva mau ngobrol sebentar sama Ara dan pereknya.”</p>
<p>Rekan Aradea yang duduk paling pinggir bangkit, “Bangsat! Jaga mulu ….”</p>
<p>Ucapannya disela oleh pukulan Vara yang mendarat telak di rahang. Berdasarkan kilau yang mengikuti gerak cepat tangan saudariku, aku memperkirakan tinjunya telah dilapisi roti kalung alias <em>brass knuckle</em>.</p>
<p>Sang korban sempoyongan dan Ed melemparnya ke samping lalu menyeret  temannya yang masih duduk agar keluar dari tempat sempit tersebut. Di sisi lain, Vara menarik gadis yang satunya lagi. Kegaduhan dimulai sudah dan musik berhenti mengalun, menyisakan jeritan berikut keriuhan baku hantam tak jauh di belakangku.</p>
<p>Sekarang hanya ada Ara dan pacar barunya di sofa tersebut serta aku yang terhalang sebuah meja bundar dari mereka.</p>
<p>Kuulurkan tangan kananku ke si remaja, “Kenalin, gue Salva,” begitu dia menjabatnya agak takut-takut, aku menambahkan, “pacarnya Ara.” Ah, betapa ekspresi tidak setuju di wajah kedua orang ini atas ucapanku barusan sangat enak dilihat, “Seinget gue, Ara belum mutusin gue dan gue juga belum mutusin dia, makanya tadi pagi gue agak kaget aja ngeliat lu berdua di acara gosip.”</p>
<p>Kulepaskan tawa pura-pura sementara ABG itu mulai merintih. Kalau mau, bisa saja aku meremukkan tangannya, tapi kuputuskan untuk membuatnya menderita lebih lama. Dasar cablo!</p>
<p>“Tapi tenang, gue cuma mau resmiin aja kalo abis ini gue sama Ara udah nggak ada hubungan lagi, biar lu bisa puas sama dia!”</p>
<p>Cengkeramanku makin keras dan dia pun menangis histeris sambil mencakar dan berupaya melepaskan tanganku. Sudah kuduga baju lengan panjang dan sarung tangan bisa mengurangi risiko kulit tergores kuku.</p>
<p>Ketika Ara hendak ikut campur, teriakan Vara terdengar, “Salva!”</p>
<p>Dengan tangan kiri, aku menangkap dan mengenakan roti kalung yang dilemparkan kembaranku. Tak sampai 2 detik kemudian senjata tersebut telah melengkapi jotosanku ke wajah Aradea. Hidungnya remuk dan mengocorkan darah segar.</p>
<p>Kulepaskan genggamanku dan sementara wanita muda itu jatuh terduduk ke sofa, aku beralih ke laki-laki yang dalam waktu singkat akan kuberhentikan sebagai kekasihku secara tidak hormat, “Kalo lu mau putus, lu tinggal bilang baik-baik, kita omongin baik-baik, terus kita cari jalan keluar yang terbaik, tapi karena lu nggak punya nyali, terpaksa gue yang nentuin.” Sambil berkacak pinggang, kutunjuk mukanya yang kini berantakan, “Aradea Ahmad, mulai detik ini kita putus!”</p>
<p>Aku berbalik dan berlalu. Sudah cukup sampai di situ. Tidak perlu ada penjelasan. Tak perlu ada tangisan.</p>
<p>Namun, “Lu kira lu siapa?” Dara itu telah melakukan kesalahan terbesar, tapi tak menyadarinya sama sekali karena mulutnya terus merepet, “Jangan mentang-mentang bokap lu cukong, om lu Kapolri, lu bisa seenak jidat lu! Sini kalo berani!”</p>
<p>Mendadak semua orang terdiam. Aku membalikkan badan dan mendapati dia telah berdiri, masih memegang tangannya, tapi kemarahan di wajahnya menggelegak di tengah air mata.</p>
<p>“Jangan, Na,” Ara meletakkan tangannya yang basah oleh darah di bahu kekasih barunya, berusaha mencegah ribut lebih panjang, tapi Nana atau siapalah namanya malah menyentak melepaskan diri.</p>
<p>Seringaiku menyeruak melihat adegan tadi, “Lu kira kita seenak jidat cuma gara-gara punya bokap cukong atau om Kapolri?” dan mulai mendekatinya.</p>
<p>“Lu salah,” Vara menimpali sambil mengiringi langkahku.</p>
<p>Banyak orang yang bilang keserasian gerakan kami kadang menakutkan, mungkin itulah yang terjadi sekarang. Para hadirin seolah membeku dan lamat-lamat aku dapat mendengar napas tertahan. Baguslah, kurasa tak ada salahnya memberi tontonan istimewa bagi mereka.</p>
<p>“Kita kayak gini karena emang kita kayak gini,” ucap kami serempak seirama setibanya di hadapan lawan yang mematung dengan raut pucat pasi bak anemia akut. “Lu tadi nanya siapa kita, kan? Kenalin,” tapi kini tak ada tangan yang terulur.</p>
<p>“Gue Varanus,” kata Vara dingin.</p>
<p>“Gue Salvator,” tambahku keji.</p>
<p>“Kita,” sepasang lengan kami terayun kencang, “biawak!” dan tamparan keras itu mendarat bersamaan di kedua pipi musuh, membuatnya ambruk dan harus ditangkap oleh Ara agar tidak jatuh ke lantai.</p>
<p>Kutatap mereka, “Lain kali ajarin bokin lu untuk tutup mulut kalo berurusan sama gue dan Vara.”</p>
<p>Dia mengangguk lemah dan aku bergerak menuju bar. Di mejanya kuletakkan dua kartu nama.</p>
<p>“Kalo lu-lu pada pengen minta ganti rugi,” aku berseru sambil berjalan ke pintu, “minta sama bokap gue. Kalo lu mau ngadu ke polisi, sekalian aja langsung ke om gue. Kartu namanya ada di meja bar.”</p>
<p>Gontai aku memasuki mobil Ed dan duduk di kursi belakang. Bagiku Café Exotica dan Ara sudah tamat. Aku takkan pernah lagi kembali pada keduanya. Beberapa saat kemudian para pengawalku pun naik bersama celotehan riang mereka.</p>
<p>“Kira-kira kita bakal kena pasal apa aja, nih?” tanya Vara ceria, entah apa sebabnya.</p>
<p>Ed nyengir lebar, “Paling 170, 335, sama 351. Maksimal 5 tahun penjara potong masa tahanan.”</p>
<p>Ocehan anak-anak Fakultas Hukum. Entahlah, aku tidak mengerti. Lahir batinku lelah, aku butuh istirahat. Maka kurebahkan tubuhku.</p>
<p>Sayup-sayup terngiang nyanyian sepasang anak perempuan, <em>Vara dan Salva bertarung bersama, Vara dan Salva melepas angkara murka</em> ….</p>
<p>Enggan memikirkan apa pun, kupejamkan mata … dan kubiarkan tangisan itu mengalir dalam kesunyian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=41&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/petualangan-biawak-bab-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FOREVER WICKED Bab 3</title>
		<link>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/forever-wicked-bab-3/</link>
		<comments>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/forever-wicked-bab-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 02:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ewing</dc:creator>
				<category><![CDATA[FOREVER WICKED]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erwinadriansyah.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Bab 3: Titik Nyala Pintu geser besi itu berderit perlahan saat kubuka. Dari baliknya tampak gebyok berukuran besar. Gapura megah yang terbuat dari kayu jati tersebut berhiaskan berbagai ukiran tradisional Jawa yang rumit nan indah, lengkap dengan daun jendela di sisi kiri dan kanan pintu. Kualihkan pandangan ke sekitarku. Mobil-mobil melintas dan orang-orang lalu-lalang di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=14&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bab 3: Titik Nyala</em></strong></p>
<p>Pintu geser besi itu berderit perlahan saat kubuka. Dari baliknya tampak gebyok berukuran besar. Gapura megah yang terbuat dari kayu jati tersebut berhiaskan berbagai ukiran tradisional Jawa yang rumit nan indah, lengkap dengan daun jendela di sisi kiri dan kanan pintu.</p>
<p><span id="more-14"></span></p>
<p>Kualihkan pandangan ke sekitarku. Mobil-mobil melintas dan orang-orang lalu-lalang di jalan besar di balik pagar sana, namun lahan parkir kecil tempatku berada sekarang masih sepi dan kosong-melompong. Tak ada satu motor pun yang terparkir. Tampaknya rekan-rekan kerjaku belum ada yang datang. Hal yang wajar karena sekarang masih pukul tujuh pagi.</p>
<p>Begitu melangkah melewati pintu depan, sebuah pemandangan familiar menyapaku. Di sisi kiri dan kanan ruangan luas ini terdapat cermin-cermin besar yang menjulang tinggi dari lantai, berjajar dari bagian depan hingga ke belakang. Kursi-kursi putar berjok empuk berlapis kulit kecokelatan berada di hadapan tiap lempengan kaca tersebut, satu sama lain dipisahkan rak kecil beroda berisi berbagai perlengkapan untuk menata rambut dan merias wajah. Di ujung terjauh terdapat beberapa <em>hair steamer</em>, tempat duduk untuk cuci rambut berikut sandaran kakinya, dan gebyok kecil dengan dua pintu: satu menuju ruang pegawai, satunya lagi menuju ruang perawatan khusus seperti luluran, <em>facial</em>, dan <em>waxing</em>.</p>
<p>Dekorasinya minimalis, namun elegan. Untaian melati dan gerbera berpadu menghiasi tembok di antara cermin-cermin rias. Ukiran kayu Jepara memberikan sentuhan etnis yang kental di tiap sudut tembok. Semua itu dipadankan dengan pencahayaan yang lembut, tapi mencukupi.</p>
<p>Inilah rumahku, sebuah ruko salon berukuran 6 x 15 meter di kawasan Kota. Aku tinggal di sini bersama pemiliknya, kakak angkatku yang saat ini tertidur di sofa di sebelah kanan pintu masuk. Azusa namanya, wanita peranakan Jepang-Jawa berusia 24 tahun, bertubuh langsing, berkaki jenjang, bermata sipit dengan rambut lurus berponi belah pinggir. Piyama bermotif beruang lucu membuatnya tampak 10 tahun lebih muda. Melihat majalah mode yang tercecer di lantai dan segelas kopi susu yang hampir habis di meja, jelas dia kelelahan menungguku.</p>
<p>Kuletakkan <em>katana</em> di meja dan duduk di lantai <em>parquet</em>. Seolah digerakkan oleh kekuatan tak terlihat, punggung jari telunjukku mengusap bibirnya yang merekah. Sebenarnya aku ingin bibirkulah yang melaksanakan tugas mulia tersebut, tapi apa daya aku terlalu takut. Aku hanya hanya bisa menyimpan baik-baik anganku untuk memilikinya. Angan yang kudapat dari perjumpaan pertama kami dulu, 13 tahun lalu.</p>
<p>Kelopak matanya berkedut dan perlahan membuka, “Lee?”</p>
<p>Seketika itu pula tanganku melesat, berpindah ke keningnya, mengusap-usap dengan lembut. Aku lemparkan senyuman termanisku dengan harapan dia tak menyadari aksiku barusan, “Masih pagi, tidur aja lagi.” Kata-kata itu meluncur dengan nada dan intonasi sempurna. Tak sia-sia ikut ekstrakurikuler teater saat SMA dulu.</p>
<p>Dia menangkap jari-jariku dengan tangan kirinya, “Berapa yang mati?”</p>
<p>“Dua puluh dua,” jawabku.</p>
<p>Kakak angkatku mengucek kedua mata dengan tangan kanan, “Tumben banyak. Seram, nggak?”</p>
<p><em>Nggak seram, cuma dua puluh pemburu ditambah kakek-kakek dan istrinya yang lagi hamil,</em> tapi yang keluar dari mulutku adalah, “Monster cicak sama monster cumi.”</p>
<p>Azusa nyengir lebar, “Nggak seram, ah.”</p>
<p>Meski kali ini ada beberapa detail yang kusembunyikan, kurang lebih beginilah dialog yang selalu terjadi saat aku pulang berburu. Azusa selalu ingin tahu apa yang terjadi. Jauh di dasar hatiku, aku sadar keingintahuannya disebabkan kecemasan dan ketakutan. Kakak angkatku mencemaskan keselamatanku dan takut bila suatu hari nanti aku takkan kembali dari perburuan &#8230; atau kembali sebagai sesuatu yang ‘berbeda’ dari diriku yang sekarang.</p>
<p>Menurutku kecemasan dan ketakutan tersebut tidak beralasan. Aku benar-benar bisa menjaga diri. Di sisi lain, aku memang berurusan dengan makhluk yang kuat, liar dan buas. Wajar jika dia cemas.</p>
<p>Aku mengangguk tanda setuju, “Ember, nggak serem banget.”</p>
<p>Jari-jarinya menyusuri rahangku, “Syukur, deh. Nggak tau kenapa, belakangan ini gue suka mikir aneh-aneh kalo lu pergi sama yang lain.”</p>
<p>Aku memiringkan kepala, “Mikir aneh?”</p>
<p>Azu menatapku lekat-lekat, “Nggak tau, kayaknya lu jadi aneh aja gitu.”</p>
<p>Apanya yang aneh? Aku sudah bertahun-tahun memburu iblis dan sama sekali tak ada yang aneh atau berbeda &#8230; kecuali sekarang aku sudah dipecat dan bekerja tanpa bayaran sama sekali. Setelah dipikir-pikir lagi, aku memang jadi agak sebal dan mudah kesal sejak ditendang dari Organisasi, tapi kurasa itu wajar-wajar saja. Maksudku, siapa juga yang senang jika di-PHK? Belum lagi ditambah bonus berupa status ‘buruan kaum iblis’. Akan lebih baik jika bonusnya berupa tunjangan, kan?</p>
<p>“Lu lagi dapet kali,” ucapku sambil mengedipkan sebelah mata.</p>
<p>Dia langsung memasang ekspresi mual, “Najis banget, sih, lu.”</p>
<p>Aku terpingkal dan mengambil kuntum mawar putih yang sedari tadi tersimpan rapi di saku depan baju hitamku. Bunga itu kuambil dari meja Brata Supama setelah kupenggal lehernya. Rampasan perang, mungkin itu istilah yang paling tepat.</p>
<p>“Mawar?” tanyanya saat menerima bunga itu dariku. “Pasti lu mau minta macem-macem, deh,” ujarnya dengan mimik muka jenaka yang tak pernah gagal membuatku terpesona.</p>
<p>“Jagung rebus keju,” ujarku lirih.</p>
<p>Dia tersenyum lembut lalu memejamkan mata dan mencium bunga itu dengan khusyuk. Menyaksikan pemandangan tersebut, aku dapat merasakan mukaku memerah. Aku benci diriku yang seperti ini, selalu salah tingkah sendiri. Mudah-mudahan aku tak sampai harus menyanyikan lagu “First Love” saking perasaan ini membuatku nelangsa.</p>
<p>“Ya, udah,” kata-katanya membuatku tersadar, “enaknya kita sarapan dulu.”</p>
<p>Aku beranjak bangkit, “Jagungnya masih &#8230;.”</p>
<p>Kata-kataku tertahan karena dia menarik lengan bajuku, “Gendong,” ucapnya manja.</p>
<p>Aku menghela napas, tapi hatiku bersorak gembira. Aku memang ingin sedapat mungkin dekat dengannya, jiwa dan raga. Dia minta digendong? Tak perlu disuruh pun aku pasti mau. Tentu saja itu jika aku punya keberanian untuk melakukannya.</p>
<p>Tapi aku bukan orang yang naif atau buta. Aku cukup tahu posisiku sekarang. Dia menyayangiku, bermanja-manja denganku, tapi tidak lebih dari yang bisa diberikan seorang kakak kepada adiknya. Hal itu takkan berubah, apa pun yang terjadi.  Dan aku lumayan tahu diri untuk tidak meminta lebih darinya. Yang kami miliki sekarang sudah cukup bagiku.</p>
<p>Dia melingkarkan kedua lengan di sekitar leherku dan aku pun menggendongnya seolah dia pengantinku. Perasaanku berbunga-bunga.</p>
<p>Saat melewati meja, matanya tertuju ke <em>katana</em> yang terbujur begitu saja. Senjata itu adalah warisan mendiang ayahnya, konon seorang <em>hancho</em> muda di zaman penjajahan Jepang dulu. Saat tahu aku akan bekerja pada Organisasi sebagai pemburu iblis, dia memberikannya padaku. Tak hanya itu, Azu pun mengajariku kendo. Dia pula yang melakukan perawatan terhadap pedang tersebut.</p>
<p>“Masih mau dipake lagi?” tanyanya datar.</p>
<p>Aku mengangguk, “Malam ini.”</p>
<p>Dia terdiam sebentar, entah apa yang ada di pikirannya, “Ntar gue bersihin, deh, sekalian gue tambain mawar ini ke minyak <em>choji</em> biar lebih wangi.”</p>
<p>Aku lalu membungkukkan badan agar dia dapat mengambil pedang itu. Kemudian aku langkahkan kaki ke dapur. Kami akan membuat sarapan, bercengkerama, lalu mandi dan bersiap-siap membuka salon sekaligus menunggu kedatangan rekan-rekan kerjaku.</p>
<p>Tidak ada waktu untuk memikirkan soal pertarungan di siang hari. Tak ada alasan untuk mencemaskan kapan pihak iblis akan memburu kami atau apakah Organisasi akan membalaskan dendam dua puluh pemburu yang kami bunuh atau apakah Azu akan terjebak di dalamnya.</p>
<p>Lagi pula malam ini kami akan melakukan pembantaian iblis besar-besaran. Toh, mereka takkan bisa memburu kami jika mereka mati, kan?</p>
<p>Jika para pemburu iblis datang ke sini, aku akan menghabisi mereka berapa pun jumlahnya. Toh, mereka juga takkan bisa memburu kami jika mereka mati, kan?</p>
<p style="text-align:center;"><em>*******</em></p>
<p>“Ayo, Dre,” aku julurkan sesendok nasi tim kepadanya, “buka mulutnya, Sayang.”</p>
<p>Andre, malaikat kecilku yang berusia delapan bulan, menunjukkan muka cemberut lalu menyemburku dengan sarapan yang masih ada di mulutnya hingga kausku kotor. Dia kemudian menepuk-nepuk tatakan piring di kursi makannya dengan riang. Aku hanya bisa tertawa melihatnya.</p>
<p>Apa pun yang dilakukannya, di mataku dia adalah makhuk terindah di dunia. Kulitnya yang putih bersih dan rambut lurusnya didapat dari suamiku, sama sekali berbeda dari kulit kelam dan rambut keritingku. Meski demikian, aku tahu putraku akan tumbuh jangkung sepertiku. Kaki-kakinya yang panjang adalah bukti tak terbantahkan.</p>
<p>Melahirkan, menyusui, dan membesarkannya adalah anugerah terindah dalam hidupku dan aku bersyukur pada Tuhan yang telah mengaruniaiku tiap detik yang bisa kuhabiskan bersama putraku. Segala tingkah polahnya membuatku bahagia bukan kepalang. Andre selalu bisa mengangkat semangatku, terutama di saat-saat berkabung seperti sekarang.</p>
<p>Ya, ini adalah momen menyedihkan. Dua puluh saudara seperjuanganku, rekan-rekan kerjaku, anak-anak didikku, gugur di medan laga fajar tadi. Jika kabar duka itu berhenti sampai di situ, mungkin aku dapat merelakannya. Kematian saat menjalankan tugas bukan hal aneh mengingat tiap pertarungan melawan musuh adalah ajang sabung nyawa bagi kami, tapi kali ini berbeda. Yang menghabisi mereka adalah kelompok Anjas, agen-agen pembangkang dan sekarang pembunuh berdarah dingin.</p>
<p>Lima anak celaka itu kami terima dengan penuh sukacita, kami beri pakaian yang layak, kami ajak makan di meja kami, kami didik, asuh dan besarkan selayaknya keluarga sendiri, tapi lihat apa yang terjadi? Setelah bertahun-tahun bertarung, berburu, dan hidup sebagai bagian dari kami, inikah balasan yang mereka berikan? Membunuh para diplomat masih bisa kumaklumi, tapi menghabisi rekan sendiri? Atas nama Tuhan yang telah memberikanku Andre, darah harus dibayar dengan darah!</p>
<p>“Abababa &#8230;” celoteh Andre perlahan meredakan amarah yang berkecamuk di benakku.</p>
<p>Aku tersenyum padanya, berusaha meyakinkan bahwa mamanya baik-baik saja. Sekali lagi kusuapkan nasi tim ke mulut anakku. Kali ini Andre menelannya dengan penuh suka cita dan sambil tergelak-gelak gembira.</p>
<p>Derai tawa, angin sepoi-sepoi, serta sinar Matahari pagi yang menyeruak dari sela-sela pepohonan rindang membuatku merasa nyaman di sini, di teras rumah tipe 70 milik kami di wilayah Kebagusan, Jakarta Selatan. Burung pun berkicau riuh meramaikan keadaan. Aku hanya bisa larut dalam kedamaian ini.</p>
<p>Sayangnya kedamaian kami tak berlangsung lama. Andre terdiam, kedua matanya yang bulat menatap lurus ke pohon angsana di pojok pekarangan. Tampaknya dia pun menyadari kehadiran tamu tak diundang di balik batang pohon tersebut.</p>
<p>Sebongkah kebanggaan terbentuk di hatiku. Di usia sedini ini pun Andre sudah menunjukkan potensinya. Mengingat profesiku dan suami, tak aneh jika dia juga memiliki naluri yang tajam. Seandainya dia tak memilikinya pun, aku pasti akan menggemblengnya habis-habisan. Sebagai ibunya, sudah kewajibanku untuk melatih putraku yang merupakan generasi baru pemburu iblis.</p>
<p>Aku berdiri dari lantai dan membalikkan badan menghadap ke arah halaman. Rumahku dikelilingi tembok setinggi 2 meter dan pekarangannya yang luas dipenuhi pohon-pohon besar berdaun rimbun seperti angsana, jamblang, jambu air, salam, mangga serta rambutan. Tak sulit untuk menyusup dan bersembunyi di sini.</p>
<p>Tentu saja pencuri atau perampok bukanlah ancaman berarti bagiku dan suami yang mendedikasikan hidup untuk memburu serta menghabisi kaum pemangsa manusia. Akan tetapi, penyusup satu ini merupakan lawan tangguh yang baru saja membantai dua puluh pemburu iblis.</p>
<p>Aku berseru kepadanya, “Ayo, dong, mana sopan santun lu?”</p>
<p>Dia pun keluar dari persembunyian. Sosok itu berbaju hitam dan memanggul tas gitar di bahu kanan. Parasnya tentu saja tak asing bagiku.</p>
<p>Anjas, usia 24 tahun, tinggi 173 sentimeter, kulit sawo matang, hidung agak pesek, rambut cokelat pendek bergelombang, penulis dan guru kursus. Semua itu adalah bagian dari dirinya yang membuatku mengenalnya nyaris seperti adikku sendiri, tapi sekarang siapa yang bisa menjamin dia akan bersikap layaknya seorang adik padaku.</p>
<p>Pemuda itu berjalan di lintasan mobil dan makin mendekati teras tempat kami berada. Seperti biasa, Andre tertawa lebar saat mengenalinya. Anjas pun tersenyum. Senyum yang lenyap seketika saat kuposisikan diriku di antara anakku dan dia. Aku tak peduli, jika kemungkinan terburuk terjadi, aku akan melindungi buah hatiku walau nyawa taruhannya.</p>
<p>“Pagi, Mar,” dia menyapaku, ramah seperti biasanya.</p>
<p>“Halo, Njas, tumben nggak lewat pager depan,” ujarku santun, tapi sinis.</p>
<p>Pemuda itu mengangkat bahu, “Pengen aja. Mana Bang Bos?” dia menanyakan suamiku sambil celingak-celinguk.</p>
<p>“Lagi pergi, ngurusin temen-temen yang lu matiin di Pondok Indah,” suaraku tetap tenang dan datar meski hati terbakar amarah. Peraturan pertama dalam menghadapi iblis adalah jangan menunjukkan emosi dan tak salah lagi, orang ini adalah iblis terlepas dari selama apa pun dia hidup bersama kami.</p>
<p>Kendati begitu, tampaknya dia juga memendam perasaan. Ekspresi wajahnya tak berubah saat aku menyinggung soal pembunuhan yang dilakukannya di kediaman Brata Supama.</p>
<p>“Kenapa lu ke sini?”</p>
<p>Anjas menunjukkan muka tak bersalah, “Apa gue nggak boleh maen ke sini?”</p>
<p><em>Berengsek, sejak kapan dia jadi lancang begini</em>?<em> </em>batinku kesal, “Mulai sekarang kayaknya lu nggak usah ke sini lagi, deh, Njas.”</p>
<p>Kami pun terdiam. Pembicaraan ini jelas tak ada gunanya. Aku dan dia tahu bahwa hubungan kami takkan bisa seperti dulu lagi. Anjas dan saudara-saudaranya sudah bertindak terlalu jauh melewati batas saat membunuh para pemburu yang pernah sehidup semati dengan mereka.</p>
<p>Aku ulangi pertanyaanku, “Kenapa lu ke sini?”</p>
<p>Dia memandangku lekat-lekat, “Gua cuma pengen titip pesan aja. Kasih tau Kantor Pusat supaya nggak ikut campur urusan gue sama saudara-saudara gue.”</p>
<p>Aku menyeringai, “Sudah telat banget untuk ngomong kayak gitu.”</p>
<p>Dia mengangguk, “Betul, karena itu lu sampein pesan gue biar jumlah korban nggak nambah lagi.”</p>
<p>“Gue bakal sampein, tapi jangan harap Kantor Pusat bakal ngelupain masalah ini atau biarin lu begitu aja,” aku tak menginginkannya, tapi suaraku tetap terdengar mengancam.</p>
<p>“Gua nggak minta mereka lupain, tapi kalo bisa tolong cegah mereka berbuat bodoh,” sepercik permohonan tersirat dalam kata-katanya. “Sekarang kelompok gue udah nggak ragu untuk bunuh siapa aja yang ngalangin kita.”</p>
<p>“Termasuk gue?”</p>
<p>Pertanyaan itu membuat matanya sedikit membelalak, tapi dalam sekejap dia kembali bersikap tenang, “Termasuk lu.”</p>
<p>Jika hatinya sudah sedemikian teguh untuk melepaskan semua hubungan denganku, suamiku, dan organisasi kami, kurasa aku tak punya pilihan lain, “Baik, gue sampein pesan lu,” jawabku singkat.</p>
<p>Setitik kelegaan, itulah yang tampak dari wajah Anjas, “Makasih, titip salam buat Bang Bos,” dia pun membalikkan badan dan mulai berlalu.</p>
<p>Sampai di situ aku tahu kami akan bertemu lagi sebagai musuh. Takkan ada yang dapat mencegahnya, tapi setidaknya aku harus tahu alasan mereka melakukan semua tindakan keji itu. “Kenapa?”</p>
<p>Dia menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadapku, “Apa?”</p>
<p>“Kenapa lu lakuin semua ini? Senayan, Cengkareng, Pondok Indah? Kenapa, Njas?”</p>
<p>Dia hanya membisu sampai akhirnya membuka mulut, “Wirya nyebut gue ‘iblis liar’.” Kemarahan mulai berkobar di matanya, “Dia nyebut gue ‘iblis’!”</p>
<p>Harus kuakui, Wirya benar-benar bodoh jika dia mengucapkan kata-kata itu. Organisasi kami tak memusingkan asal usul masing-masing pemburu selama mereka melindungi manusia. Anjas dan kawan-kawan sendiri sangat keberatan disebut iblis dan sama sekali tidak memakan daging manusia. Meski demikian, lidah tak bertulang dan kata-kata takkan bisa mengubah <em>Homo daemonium</em> menjadi <em>Homo sapiens</em>.</p>
<p>“Kalo lu berbuat gitu, lu memang iblis,” aku pasang ekspresi wajah yang benar-benar muak. “Iblis sampe ke tulang-tulang lu.”</p>
<p>Mungkin memancingnya bukan tindakan cerdas, apa lagi ini bisa membahayakan keselamatan Andre, tapi aku harus memastikannya. Anjas yang kukenal memang akan marah besar jika disebut sebagai iblis, tapi sampai membunuh orang yang pernah sehidup semati dengannya? Kurasa tidak.</p>
<p>Benar, mukanya langsung merah padam, napasnya mulai memburu dan sinar matanya dipenuhi kebencian teramat sangat. Mungkin dia tak menyangka orang yang sedemikian akrab dengannya akan mengeluarkan kata-kata tersebut. Walau begitu, tidak sedikit pun tas gitar berisi pedangnya itu berpindah posisi. Seketika itu pula aku tahu, ada yang salah di balik semua peristiwa tragis ini.</p>
<p>“Njas,” aku lembutkan suaraku, “kita berdua tau lu bukan iblis. Wirya memang bego kalo dia nyebut lu kayak gitu, tapi gue nggak yakin kalo lu bunuh dua puluh orang cuma gara-gara satu kata itu.”</p>
<p>Anjas mengunci mulutnya rapat-rapat, tapi aku dapat merasakan kemarahannya sedikit mereda.</p>
<p>“Terus gimana yang di Senayan? Yang di Cengkareng? Apa mereka juga nyebut lu iblis?”</p>
<p>Pemuda itu tetap membisu. Aku makin yakin ada faktor lain di balik semua pembunuhan yang mereka lakukan. Entahlah, mungkin aku merasa begitu karena tak rela menerima fakta bahwa sebagian junior-junior kesayanganku melakukan tindakan keji dan sebagian lain terbunuh, semuanya tanpa sebab yang jelas.</p>
<p>Aku menggigit bibirku, yakin pertanyaanku berikutnya akan terasa sangat konyol, “Apa ada yang &#8230; ngebisikin lu?”</p>
<p>Bagiku takhayul hanya angin lalu, ocehan orang-orang yang tak tahu kebenaran. Sayangnya, saat ini aku tak tahu kebenaran dan ada begitu banyak pelaku pembunuhan kejam di seluruh dunia yang mengaku mendengar bisikan-bisikan gaib. Mungkinkah Anjas dan saudara-saudaranya mengalami hal serupa?</p>
<p>Anjas yang kukenal pasti akan tertawa terbahak-bahak jika bicara soal bisikan gaib atau takhayul, tapi kini dia hanya diam tanpa ekspresi. Entah apa yang ada di pikirannya.</p>
<p>“Gue nggak tau,” akhirnya dia angkat bicara, “gue cuma pengen ngabisin iblis sebanyak mungkin dan nggak mau ada yang ngalangin gue.”</p>
<p>Bulu kudukku langsung meremang mendengar nada suara serta melihat ekspresi mukanya yang sedingin es. <em>Takut</em> &#8230;<em> </em>batinku dengan cepat sampai pada kesimpulan itu. Setidaknya pikiranku cukup tenang untuk menyadari emosi negatif tersebut.</p>
<p>Sebagai pemburu iblis, kami telah dilatih untuk mengendalikan ketakutan. Di sisi lain, kami juga diajari bahwa kadang ketakutan merupakan alarm alami yang memberitahukan betapa berbahayanya lawan yang dihadapi. Apakah ini berarti aku sedang berhadapan dengan musuh?</p>
<p>“Martha,” Anjas memanggilku lembut, tapi tanpa emosi di saat yang sama. Pandangannya tak lepas dariku, “Lu takut sama gue?”</p>
<p>Aku tercekat. Rasa takut berubah menjadi panik yang menggunung, tapi tubuhku tak bisa kugerakkan sama sekali. Seumur hidup memburu iblis, baru kali ini aku merasa tidak berdaya begini. Pada saat itulah sesuatu melintas di benakku, <em>Dia </em>&#8230;<em> dia bukan Anjas</em> &#8230;.</p>
<p>Sosok itu mulai melangkah, mendekatiku dengan perlahan, “Kenapa? Kok, lu jadi aneh gitu, sih?” Senyum tipis yang mengiringi kata-katanya sama sekali tak menenangkanku.</p>
<p>Tangis Andre mendadak pecah di belakangku bagaikan tahu apa yang kurasakan. Atau mungkinkah dia juga ketakutan sepertiku? Apa pun penyebabnya, jeritannya membuatku terbebas dari perasaan negatif yang baru saja mencengkeramku. Tanganku refleks mencabut Jericho 941 yang kuselipkan di bagian belakang celana pendek ketat yang kukenakan.</p>
<p>Dalam sekejap, pistol itu membidik kepala Anjas dengan kunci pengaman yang sudah terlepas, “Mundur!”</p>
<p>Di luar dugaan, dia tampak kebingungan seolah baru tersadar dari mimpi di siang bolong. Air mukanya yang penuh tanda tanya sangat berbeda dari beberapa saat lalu.</p>
<p>“Mar?” Anjas menatapku seolah meminta jawaban.</p>
<p>Sayang, aku juga tak tahu apa yang baru saja terjadi dan enggan mengambil risiko lagi, “Lu pulang aja, deh. Ini hari yang nggak enak buat kita.”</p>
<p>Dia menghela napas dengan berat kemudian berbalik dan melangkah gontai ke arah pagar. Di bawah todongan pistolku, Anjas keluar dari halaman rumahku tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Bukan perpisahan yang berkesan, tapi kurasa kami berdua tak keberatan.</p>
<p>Setelah dia menghilang dari pandangan, kedua lututku lemas dan aku jatuh terduduk di lantai. Dengan tangan gemetar aku mengamankan senjata api yang kupegang dan mengembalikannya ke tempat semula.</p>
<p>Dari kursi makannya, Andre mengulurkan tangan dan meraih rambutku. Di sudut matanya masih tersisa air mata, tapi tangisannya sudah berhenti. Dia memandangku dengan ekspresi yang campur aduk antara sedih, cemas, takut, dan entah apa lagi.</p>
<p>Kuusap pipinya, “Nggak apa-apa, Sayang. Orang jahatnya sudah pergi.”</p>
<p>Setelah perasaanku benar-benar tenang, kugendong anakku dan kubawa dia ke  kamar kami. Aku membaringkannya di atas ranjang lalu memungut <em>remote </em>televisi yang tergeletak di lantai. Setelah menekan tombol 6-6-6-0-9-9-9 di alat tersebut, aku segera duduk di sebelah putraku.</p>
<p>Andre mulai tergelak-gelak dan berguling-guling sampai harus kupegangi saat tempat tidur ini perlahan turun diiringi dengungan halus. Dia memang sangat menyukai naik lift rahasia ini.</p>
<p>Tempat yang kami tuju adalah fasilitas bawah tanah penunjang kegiatan operasionalku dan suami. Dari sini kami bisa mengoordinasi perburuan sekaligus berkomunikasi dengan Kantor Pusat dan Wilayah. Sirkulasi udara dan penerangannya memadai, sedangkan tembok abu-abunya menyiratkan ketebalan serta kekokohan beton terbaik yang sangat sulit dipenetrasi.</p>
<p>Tata ruangnya sederhana, tapi efektif. Hal ini tampak saat kami mulai turun dari langit-langit dan memasuki ruangan inti yang berbentuk persegi. Di bagian tengah, hanya beberapa langkah dari struktur besi yang menopang sekaligus menggerakkan lift, terdapat terminal komputer yang terdiri dari beberapa monitor dan CPU. Sebuah boks bayi berukuran sedang berada di sampingnya. Searah jarum jam ada empat pintu, masing-masing menuju ruang penyimpanan senjata, ruang latihan bela diri, ruang serbaguna, dan ruang latihan menembak kedap suara. Harus kuakui, aku merasa bahwa rumahku yang sebenarnya adalah bungker ini, bukan bangunan di atasnya.</p>
<p>Ketika lift berhenti bergerak, aku pun turun dari ranjang dan meletakkan anakku di boksnya. Andre pun mengoceh riang dan menyibukkan diri dengan mainan-mainannya. Puas bercanda sebentar dengannya, aku mengenakan peranti dengar<em> </em>nirkabel di telinga kanan lalu duduk di kursi terminal komputer dan menekan beberapa tombol di papan ketik. Sesaat kemudian terdengar dengungan halus dari arah belakangku yang menandakan lift tempat tidur kembali terangkat ke atas. Tak hanya itu, semua pintu dan jendela di bangunan di atas kami yang masih terbuka akan tertutup dan terkunci secara otomatis. Takkan ada yang bisa mengganggu kami di sini.</p>
<p>Saatnya bekerja. Yang pertama kali aku lakukan adalah menghubungi suamiku. Sambil menunggu koneksi konferensi video, aku membuat laporan resmi tentang pertemuanku dengan Anjas, mencakup dialog, pengamatan tingkah laku dan pembawaan, serta analisis singkat terhadap kondisi mentalnya. Selain itu aku juga merangkum berbagai hasil rekaman kamera CCTV tersembunyi yang tersebar di pekarangan rumahku. Semua ini penting sebagai bahan pertimbangan jika kami akhirnya ditugaskan untuk memburu dan menghabisinya.</p>
<p>Tak lama berselang, terdengarlah bunyi berdenting dan suamiku muncul di layar dalam jendela baru. Wajahnya yang persegi dengan rambut cepak membuatnya gagah, tapi sinar matanya yang lembutlah yang memberikan ketenangan tersendiri di hatiku.</p>
<p>“Napa, Mar?” dari latar belakangnya dan hiruk pikuk suara yang terdengar, aku menduga dia sekarang sedang berada bangsal medis Kantor Wilayah.</p>
<p>“Tadi Anjas ke sini, Bang.”</p>
<p>Keningnya langsung berkerut, “Oh, ya? Dia bilang apa?”</p>
<p>Aku melirik ke catatan dialog kami di jendela yang berbeda, “Intinya, sih, supaya mulai sekarang dia sama kelompoknya nggak diganggu gugat lagi.”</p>
<p>“Oke, siapin aja laporannya, nanti Abang pelajari,” ujarnya.</p>
<p>Sejenak aku ingin menceritakan ketakutan yang kualami tadi, tapi kuurungkan niat tersebut. Akan lebih baik jika hal itu kubicarakan empat mata dengan suamiku. Untuk sekarang, aku harus mencari tahu sebanyak mungkin apa yang dilakukan Anjas dan kelompoknya, “Modus operandi?”</p>
<p>Dia mendesah, “Mereka bergerak dalam dua kelompok. Kelompok pertama mencegat Target I di Cengkareng. Dari proyektil, selongsong peluru dan luka gorok, kayaknya Mel sama Dien.”</p>
<p>“Jadi yang ke Pondok Indah, tuh, cowok-cowok?” tanyaku lagi.</p>
<p>Suamiku mengangguk, “Dan bawa mahkota. Kita ketemu B.A. di kepala Wirya, di kepala Target II dan rahim Target Sekunder II.1.”</p>
<p>B.A., <em>Bacillus aygerinos</em>, bakteri tak berbahaya. Jenis ini biasanya hanya ada di tubuh mahkota iblis yang belum menyatu dengan inangnya.</p>
<p>Dapat disimpulkan bahwa Anjas, Ed, dan Lee membawa salah satu atau kedua mahkota yang dimiliki rekan-rekan wanita mereka. Fakta yang menarik mengingat ketiga orang itu sangat jarang atau bahkan boleh dibilang tak pernah menggunakan mahkota sebagai senjata. Di sisi lain, mungkin itu hanya tindakan jaga-jaga karena Target II alias Brata Supama adalah iblis bermahkota.</p>
<p>Yang lebih mencemaskanku adalah kata-kata terakhir suamiku, “Ada target sekunder juga?”</p>
<p>“Target Sekunder I.1-4 dan Target Sekunder II.1,” suamiku menggeleng dengan berat, “kelompok Anjas sudah gila.”</p>
<p>Target sekunder adalah istilah untuk menyebut keluarga atau orang-orang terdekat dengan target utama. <em>Operasi Sapu Bersih</em>, batinku masam. Mungkinkah pemurnian ras manusia ada di benak Anjas saat melakukan tindakan keji tersebut?</p>
<p>Untuk sesaat hanya terdengar suara kesibukan di latar belakang sampai akhirnya suamiku kembali angkat bicara, “Kira-kira mereka bakal ngapain lagi terus kapan?”</p>
<p>Aku bersandar di kursiku dan mulai menganalisis pola serangan yang terjadi fajar ini. Dua kelompok untuk dua target berstatus ‘penduduk’ berikut keluarganya. Lima anak itu menargetkan iblis taat peraturan dan total korban pun sedikit, tak lebih dari sepuluh. Mengingat kami berhasil mendeteksi pergerakan awal mereka, kemungkinan besar kelompok Anjas akan mengincar buruan yang berbalik 180 derajat dari sebelumnya.</p>
<p>“Perkumpulan iblis,” aku mulai menyebutkan kategori yang mungkin disatroni oleh Anjas dan rekan-rekannya, “yang paling ramai dan ilegal.”</p>
<p>“Demon Dance,” kata suamiku mantap.</p>
<p>Kelab malam Demon Dance yang terletak di Cawang adalah tempat iblis-iblis pemangsa berkumpul dan bersosialisasi. Dari dulu sampai sekarang kami sudah berulang kali menyerbu sekaligus membakarnya, tapi ada saja yang membangun dan membukanya kembali. Kurasa sikap tak kenal jera bukan hanya milik manusia.</p>
<p>Aku mengamininya, “Ya, dalam waktu dekat, mungkin malam ini.”</p>
<p>Efisiensi waktu adalah salah satu nilai kuat kelompok Anjas sebagai pemburu iblis. Kurasa pemecatan takkan mengubah hal itu.</p>
<p>Suamiku menggaruk kepalanya, “Oke, coba Abang dengar dulu apa kata Suroto. Kalau dia sependapat, nanti kita rundingin dengan rekan-rekan di Kekaisaran biar enaknya gimana ngadepin si Anjas.” Dia termenung sesaat, “Ada temen yang ngusulin kita gerebek rumah mereka pake kekuatan penuh. Menurut kamu?”</p>
<p>Ide yang sangat buruk. Kelompok Anjas masing-masing tinggal di daerah pemukiman padat penduduk atau di pusat keramaian. Di medan seperti itu, penggunaan persenjataan berat sama saja menumpahkan darah orang tak berdosa. Evakuasi dini mungkin bisa menjadi opsi, tapi takkan ada jaminan anak-anak itu akan berdiam diri menunggu kami selesai mengungsikan warga.</p>
<p>Dalam kondisi ideal pun, aku meragukan keefektifan metode agresif. Anjas dan kawan-kawan adalah iblis dengan kekuatan yang jauh di atas rata-rata. Dua di antara mereka memiliki mahkota. Itu belum memperhitungkan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari kami.</p>
<p>“Jangan, deh, Bang,” kataku tanpa minat. “Nggak akan ada gunanya.”</p>
<p>Si Abang terkekeh, “Abang juga bilang begitu. Ada lagi yang mau disampein?”</p>
<p>“Nggak ada, Bang, aku cuma mau laporan soal Anjas doang.”</p>
<p>“Mar,” kali ini suara suamiku terdengar serius dan dia tampak berjalan menjauhi keriuhan di belakangnya, “mungkin kita berdua bakal ditugasin untuk ngeburu Anjas. Kalo kamu nggak mau ikut, Abang bisa ngomong sama Kantor Pusat supaya &#8230;.”</p>
<p>“Nggak usah, Bang,” aku menyelanya. Suamiku tak mengucapkannya, tapi aku tahu dia tak ingin perasaanku terhadap salah satu junior kesayangan memengaruhi penilaianku. “Biar gini-gini aku juga pemburu. Lagian Anjas bukan anggota kita lagi, dia cuma &#8230; tukang jagal.”</p>
<p>Matanya yang bulat menatapku, “Tapi inget, kalo kita bener-bener ditugasin ngeburu mereka, itu bukan untuk balas dendam, tapi untuk mencegah jatuhnya korban lain.”</p>
<p>Aku hanya bisa mengangguk, “Iya, Bang.”</p>
<p>“Gimana Andre?” tanyanya.</p>
<p>Aku segera bangkit dan mengangkat Andre ke depan kamera komputer. Dia langsung tertawa lucu saat melihat wajah suamiku di layar.</p>
<p>“Jaga dia baik-baik, ya,” suamiku berbisik melalui peranti dengar.</p>
<p>Aku mencium ubun-ubun putraku, “Pasti.”</p>
<p>“Udah dulu. Nanti malah nggak kerja, pengennya ngeliatin muka anak Abang yang lucu dan ganteng kayak papanya,” ucapnya dengan ceria.</p>
<p>Aku hanya bisa tersenyum, “Iya, deh, Papa kerja yang rajin, ya!”</p>
<p>Aku pegang tangan kanan anakku dan kulambai-lambaikan ke arah kamera. Suamiku tertawa kecil sebelum akhirnya jendela tersebut berubah hitam. Andre terdiam, bingung karena wajah papanya menghilang.</p>
<p>Kukembalikan dia ke boks dan kubelai wajahnya, “Nanti main lagi sama Papa, ya? Sekarang sama Mama aja dulu.”</p>
<p>Andre segera larut dalam keasyikannya bermain-main sendirian. Ocehannya kembali membahana di ruangan ini, gembira dan tanpa beban.</p>
<p>Sambil meletakkan peranti dengar, kugerakkan tetikus dan mengklik ikon kamera di layar. Sebuah jendela baru berisi beberapa ikon lain pun muncul. Kali ini yang kuklik adalah ikon senapan. Tampilan di layar pun berubah, kini menunjukkan keadaan di ruang penyimpanan senjata.</p>
<p>Yang tampak adalah ruangan berisi empat lemari khusus berukuran besar berjajar dari kiri ke kanan. Tembok-tembok pun dihiasi rak-rak dengan berbagai jenis senapan dan pistol. Di salah satu rak tersebut, aku dapat melihat senjataku terpajang, menonjol sendirian karena berbeda dari yang lain.</p>
<p>‘Murka Kristus’, begitu Anjas menyebut tombak berbilah tiga milikku. Sudah pasti penamaan lancang itu berasal dari bentuknya yang menyerupai salib dengan lengan pendek. Dari sudut pandang lain, nama itu juga menyiratkan bahaya yang dimilikinya mengingat ujung satunya lagi runcing seperti sula, membuat sang pengguna selalu terancam tertusuk jika tidak hati-hati atau lengah.</p>
<p>Entah sudah berapa kali bilahnya yang terbuat dari logam Damascus merobek tubuh Anjas dalam latih tanding. Ingatanku pun kembali melayang ke masa lalu. Dari kelima anak itu, memang hanya Anjas yang paling sering latih tanding denganku. Ed lebih senang latih tanding dengan Mel, Lee cenderung latihan sendiri, dan Dien menyukai latihan menembak daripada latihan bela diri.</p>
<p>Jika ditilik kembali, tidak mustahil untuk mengalahkan mereka dalam duel satu lawan satu. Aku pernah menimbulkan luka parah di leher Anjas dalam sesi latihan yang agak ‘lepas kendali’. Mungkinkah pertarungan jarak dekat merupakan solusi untuk mengalahkan mereka?</p>
<p>Seandainya memang pemenggalan adalah cara paling efektif untuk menghabisi mereka, seharusnya aku takkan kesulitan. Selama beberapa bulan terakhir aku telah berjuang mati-matian mengembalikan kondisi fisik serta memoles kemampuan bela diri yang mungkin memudar karena cuti hamil, melahirkan dan mengasuh anak. Hasilnya lumayan, tubuhku sudah proporsional, otot-ototku mengencang dan refleksku membaik. Aku siap jika diperintahkan untuk kembali bertugas, tapi dalam kasus ini muncul berbagai pertanyaan yang merisaukanku.</p>
<p>Apa penyebab tindakan keji kelompok Anjas? Kenapa tadi aku ketakutan luar biasa? Jika akhirnya aku berhadapan dengannya di medan laga, akankah aku merasa takut seperti yang kualami tadi?</p>
<p>Ada terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak yang tidak jelas dan tidak pasti. Hal itu bukan awal yang baik untuk memulai sebuah operasi. Meski demikian, kami tetap akan melakukannya, harus. Demi mencegah jatuhnya korban tak berdosa macam Brata, Ali, dan keluarga mereka, serta demi menegakkan keadilan atas dua puluh pemburu yang gugur hari ini, aku tak boleh goyah!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erwinadriansyah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erwinadriansyah.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erwinadriansyah.wordpress.com&amp;blog=10783327&amp;post=14&amp;subd=erwinadriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erwinadriansyah.wordpress.com/2009/12/03/forever-wicked-bab-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956737e0de00e5ad4cf0d8c0be5a3baa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ewing</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
