MAHAKARYA

December 27, 2011 at 5:22 am (Uncategorized)

Cerpen yang diikutsertakan dalam Kontes Cerpen Vandaria

Sempurna, batinku saat memasangkan batu mulia terakhir ke mahakaryaku.

Dan betapa gaun putih panjang menyapu lantai ini layak disebut mahakarya. Dia dihiasi taburan kristal berikut aksen renda mewah nan elegan yang memanjang hingga ke bawah. Namun dekorasi pamungkasnya terletak di bagian atas: delima api besar berbentuk hati pada pangkal belahan dada dipadu rangkaian berlian pada kerah halter V-neck.

Aku nyaris menghabiskan tabungan dan aset pribadiku demi mendapatkan permata-permata tersebut. Mereka pulalah yang mengatrol harga busana ini hingga ke luar akal sehat jika aku memutuskan menjualnya. Di benakku, cuma segelintir yang mau serta mampu membelinya. Biarlah. Aku juga tidak berniat melego atau sekadar memamerkannya. Dia akan jadi milikku saja.

Kontemplasiku terhenti karena bel di atas pintu depan berdenting, menandakan seseorang memasuki tokoku. Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi. Aku memang sudah memasang tanda buka, tapi jelas tak mengira ada yang berkunjung sepagi ini. Karyawanku bahkan belum tiba dan mereka selalu lewat pintu samping.

“Selamat datang di Carrousel Boutique yang chic, unique dan magnifique,” kataku saat berbelok memasuki galeri utama butikku dan menemukan seorang wanita tengah mengamati karya-karyaku.

Sekali lirik, aku langsung menyadari busananya santai, namun tetap modis. Celana jin cutbrai hitam, blus putih lengan panjang yang digulung, sepatu platform, dan tas satchel, pas dengan postur tinggi semampainya. Namun wajahnyalah yang membuatku terkesiap.

“Skara Brae,” aku mendengar mulutku berbisik takjub, “ratu pop.”

Pemilik rambut pirang bergelombang tersebut menoleh, senyuman manis kian memperindah bibir merah mudanya, “Selamat pagi, Nona Cher.”

Sialnya responsku malah melantur udik, “Kautahu namaku?”

Alis kirinya terangkat, “Setelah Majalah Vogue berbusa-busa menyanjungmu sebagai sang penyelamat mode, siapa yang tidak kenal Charity alias Cher?” entah mana yang lebih merdu, suaranya atau pujiannya.

Bila aku bermimpi, jangan bangunkan aku! “Ahem, ada yang bisa kubantu, Nona Brae?”

“Panggil aku Skara,” jawaban lugasnya otomatis memenangkan hatiku.

“Ada yang bisa kubantu, Skara?” kakiku melangkah riang mendekatinya.

Dipilah-pilahnya rancangan-rancanganku di rak baju gawang, “Aku diundang mengisi resepsi pernikahan Putri Lydian dari Syarikat Candrasa.”

Syarikat Candrasa, seingatku mereka telah berulang kali menyelamatkan dunia. Jika tidak salah, perkumpulan para pendekar pedang tersebut berperan besar mengalahkan Raja Tunggal saat bangkit kembali beberapa ratus tahun lalu.

“Pernikahan abad ini,” aku membeo cara media menyebut perkawinan Putri Lydian dengan Kaebold Algo, putra Presiden Kobold Algo dari Tenka Hexen Baru.

Ratu pop menengok, “Benar sekali, karena itu aku harus tampil maksimal.”

Memahami kondisinya, sebuah ide sekonyong-konyong melintas, dan sesopan mungkin kuulurkan lengan kananku, “Aku punya apa yang kaubutuhkan.”

Gayung bersambut, diterimanya tawaranku tanpa sungkan, “Sudah kuduga.”

Sentuhan kami serta-merta mengantarkan emosinya: antusias, semangat, penasaran, gembira. Semuanya tulus, layak dibalas sebaik-baiknya.

Karena itulah kutuntun dia ke ruang kerja di sayap kiri bagian belakang butik, “Skara Brae, bersiaplah untuk menyaksikan pièce de résistance de la haute couture!”

Secara dramatis, lengan kiriku mengarah ke adikaryaku pada sebuah maneken di tengah ruangan. Melihat busana yang kumaksud, sepasang mata birunya berbinar. Kulepaskan tautan kami dan bak tersihir, dihampirinya gaun teranyarku. Saking terpesonanya, kondisi atelirku yang bisa dibilang seperti kapal pecah seolah luput dari pandangannya.

Yakin umpan telah termakan, narasi profesionalku pun mengudara, “Bahannya satin dan sifon kualitas terbaik, diperkaya total 150 kristal kirana yang dipilih sendiri oleh Diero Severousky.”

Menggunakan telekinesis, kuredupkan penerangan dan kukendalikan arah pancaran lampu-lampu sorot di langit-langit. Sekarang karyatamaku bermandikan corong-corong cahaya dari beberapa penjuru. Alhasil, tampaklah sulur-sulur keemasan yang seakan mengalir ke bagian ekor gaun, lintasan mereka bagai membelah pendar samar yang melingkupi pakaian tersebut.

“A … aura apa ini? Sihir?” reaksinya terhadap efek visual ciptaanku sangat wajar.

Dan aku amat bersedia menjelaskannya, “Refraksi ganda, pembiasan sinar oleh kristal dan sihir di dalamnya. Harus kuakui, aku setengah mati memikirkannya, tapi terbukti, hasilnya luar biasa, bukan?”

Tamuku menganggut setuju, “Kalau yang itu?” ditunjuknya deraian-deraian keemasan pada permukaan kain.

“Sulaman vicuna aurum terberkati, hanya muncul jika tertimpa cahaya dari sudut-sudut tertentu.”

“Apa dapat terekam kamera?”

Anggukanku mantap, “Aku jamin.”

Penegasanku mendorong Skara mengalihkan perhatiannya ke hidangan utama, dimulai dari deretan permata pada kerah halter V-neck, “Sepuluh,” katanya lirih.

Penuh kebanggaan, kusambung ucapannya, “Berlian 25 karat dengan potongan serta kejernihan sempurna, diseleksi khusus untuk gaun ini, dilengkapi sertifikasi dari De Bears.”

Kekagumannya segera berpindah seiring gerak ragu jemarinya meraba aksesori utama yang terletak di pangkal belahan dada, “Delima api?”

Crème de la crème, 130 karat, faset sempurna, bebas inklusi, dan secara resmi diakui De Bears dan Caulson sebagai delima api terbesar di dunia.”

“Aku bahkan tak tahu ada yang sebesar ini,” gumamnya lemah.

“Karena sebelumnya memang tak pernah ada. Dia hasil fusi empat delima api. Proses penyatuannya dilaksanakan di bawah pengawasan Magus Agung Gefero dan Profesor Doktor Jeonah Machem.”

Sang diva menyeringai “Mereka terdengar … penting.”

Aku tertawa tertahan, “Sebenarnya aku juga tidak kenal, tapi kupikir bisa berguna untuk promosi, jadi kusebutkan saja.”

Dia memetikkan jari, “Aha, taktik licik, aku suka.” Kami terkekeh, namun Skara kembali serius, “Soal ukurannya ….”

“Jangan khawatir,” walau berisiko dianggap kurang ajar karena menyelanya, aku harus meyakinkan calon pembeliku, “sebetulnya aku merancangnya kurang lebih berdasarkan dirimu.”

Bibirnya terkembang, “Wah, sungguh?”

Tentu saja tidak, aku merancangnya untukku sendiri! Kendati demikian, sejak kedatangannya, aku mampu menaksir bahwa tinggi serta ukuran tubuh kami mirip. Atas dasar itu pula aku berani menawarinya … juga karena dia sanggup membayar.

“Sungguh, segalanya lebih mudah jika membayangkan merancang untuk figur terkenal, apalagi kalau figurnya sebagus dirimu,” bualku, “tapi jujur aku tak berani berkhayal kau mau mengenakannya.”

“Gaun sebagus ini, siapa yang tak mau?” Dia melirik dan senyumannya mencuat, “Oh, figurmu juga bagus, kok.”

“Terima kasih,” aku menunduk menerima pujiannya. “Nah, ada lagi yang ingin kautanyakan? Atau apa kau mau mencoba mengenakannya?”

“Sayangnya tidak, aku harus berangkat satu jam lagi, tapi aku yakin dia pasti pas karena sepertinya ukuran kita sama.”

Ah, ternyata Skara Brae cukup jeli dan tak sedangkal dugaanku, “Baiklah, jika kau berkenan ….”

Memahami maksudku, si penyanyi menukas cepat, “Aku berkenan. Sebutkan hargamu.”

Sebuah bidang hologram terbentuk di antara kami, menampilkan detail materi, teknik pengerjaan, berikut berbagai sertifikat. Pada bagian paling bawah terdapat tujuh digit angka.

Ekspresinya tetap sama, “Hmm … harga yang sangat murah hati mengingat kau pasti menghabiskan begitu banyak uang demi membuatnya.”

Dia benar, harga patokanku cuma sekadar menutupi pembelian batu-batu berharga yang kugunakan, tapi sudahlah, “Sebagai perancang busana, tak ada yang terlalu mahal untuk sebuah pernyataan fashion.”

Lawan bicaraku mengerling, “Dan sebagai pembeli, harusnya aku yang bilang begitu.” Diamatinya lagi jumlah tersebut, “Aku bersedia membayar lebih mahal seandainya barangnya memang layak,” lalu ditatapnya aku lekat-lekat, “kauyakin tidak mau menaikkan harganya?”

Percuma, uang tak pernah menjadi pertimbanganku tatkala mendesainnya, “Bila kau benar-benar memakainya pada resepsi Putri Lydian, maka itu sebuah kehormatan besar bagiku dan promosi tak ternilai bagi bisnisku.”

Sang biduanita tersohor menghela napas, “Baiklah, tapi nanti kalau ada apa-apa, tolong dibantu, ya?”

“Dengan senang hati. Jadi, apa kita sepakat?”

Anggun lengan kanannya terangkat menyentuh layar digital tersebut, “Sepakat.”

Proyeksi tadi bersinar dan kini tampilannya berubah. Pada sisiku menunjukkan jumlah uang yang ditransfer ke rekeningku, sedangkan pada sisi Skara memberitahukan jumlah uang yang dideduksi dari rekeningnya.

“Terima kasih. Mau dikirim ke mana?” tanyaku.

“Nanti kukabari, sekarang aku harus permisi, timku pasti sudah panik mencari-cariku,” katanya sambil berbalik dan melangkah menjauh diikuti olehku, “Aku terkesan. Awalnya aku ke sini karena iseng, tapi akhirnya pulang membayar hampir sepuluh juta untuk sebuah gaun.”

“Aku hanya berharap layananku tak mengecewakan,” merendah selalu merupakan respons terbaik bagi orang di posisiku.

“Kecewa? Mustahil.” Sebelum berbelok ke galeri utama, dia berhenti dan melemparkan pandangan syahdu ke karyaku yang sekarang miliknya, “Akhirnya aku paham kenapa mereka menjulukimu sang penyelamat mode.” Ditatapnya aku lekat-lekat, “Hasil karyamu bukan sekadar busana atau tren, melainkan karya seni tingkat tinggi.”

“Terima kasih,” kuantar dia ke pintu depan, “semoga kau sudi berkunjung lagi.”

“Pasti, sampai jumpa, Nona Cher.”

“Anu, Cher saja.”

“Lancangnya aku. Sampai jumpa, Cher,” ucapnya disusul cium pipi kiri dan kanan.

Terus terang keramahannya membuatku kikuk, “Ah, ya, sampai jumpa.”

Setelah pelangganku meninggalkan butik, mendadak hawa dingin menjalari tengkukku, membuat kekuatanku bergolak bangkit. Ada penyusup! Secepat kilat aku melesat balik ke sanggar tempat sensasi ganjil tersebut bersumber. Dia pasti di sana!

Dan memang di sanalah dia berada, berdiri mengamati kreasi terbaruku. Seorang dewi, demikianlah deskripsi paling mendekati, setidaknya berdasarkan penglihatan tingkat tinggiku. Matanya adalah kanta nirwana, kulitnya bias pelita, busananya bara baskara, dan rambutnya gugus kartika … duh, kenapa aku jadi puitis begini tiap kali menjumpainya?

Selamat pagi, suaranya pun menyerupai guntur semesta.

Aku memejam dan memijat kening, berupaya menenangkan indra-indraku. Saat kelopakku membuka, yang kulihat adalah seorang wanita mungil berkulit cerah, cenderung pucat. Wajahnya mulus manis dengan hidung bangir dan bibir tipis. Rambutnya pendek sebahu, hitam pekat, multi-layered, disertai poni yang menyembunyikan mata kanannya, sedangkan mata kirinya menunjukkan binar hijau sendu.

Selain itu penampilannya biasa saja, seperti biasa. Busananya semi formal: celana panjang dan blazer hitam yang tidak dikancing dipadu blus putih.  Riasan pun nyaris tiada.

“Selamat pagi, Zee,” sapaku seraya memendam emosi dalam-dalam, “tapi mungkin lain kali lewat pintu depan saja. Bagaimana jika kau teleportasi ke sini saat ada pembeli?”

Dia menggeleng dan kembali menjenaki karyaku, “Tidak akan,” responsnya terdengar amat halus bagi telinga normalku.

Aku mendesah, “Ya, ya, aku tahu kau selalu mengintipku dari jauh,” dan aku takkan mengatakannya, tapi aku menyukai atensinya.

“Memerhatikan,” koreksinya acuh tak acuh.

“Sama saja,” aku pura-pura cuek. “Omong-omong, bukannya kau seharusnya mengawal Celestia?”

Menyebut namanya mengingatkanku pada pertemuan pertama kami beberapa tahun lalu. Saat itu aku baru memulai karier sebagai perancang busana dan mengembangkan bisnis butik menggunakan uang warisan mendiang orang tuaku. Mereka berlima mendatangiku sebagai rombongan teraneh yang pernah kutemui: politikus terkenal Celestia Nichols dan putri badungnya Luna; pasangan pelacur-germo, Seraph dan Gemiere; serta Zee alias Zephyr yang mengaku sebagai Frameless atau penyihir atau Homo magicus terakhir.

Mereka menyatakan aku adalah Sublimis Persona dan kekuatanku dibutuhkan untuk mengalahkan Sublimis Persona lain bernama Deus. Awalnya aku menolak karena tidak percaya, juga lantaran yakin mereka sudah gila. Alhasil mereka nekat menculikku serta menunjukkan padaku wajah Vandaria yang sebenarnya: kacau, carut-marut dan tidak jelas. Setelahnya, aku memutuskan bergabung, bahkan sampai mendeklarasikan akan menyelamatkan dunia melalui mode. Haha, konyol sekali aku yang dulu.

“Celestia sedang mengikuti pertemuan tingkat kepala negara di Persatuan Bangsa-Bangsa,” jawabannya mengembalikanku ke masa kini. “Protokol keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa nomor satu, ‘Persatuan Bangsa-Bangsa melalui pasukan keamanannya bertanggung jawab penuh terhadap keamanan’. Protokol keamanan pertemuan tingkat kepala negara Persatuan Bangsa-Bangsa nomor satu ….”

“Aku mengerti,” potongku, “pengawal kepala negara tidak diizinkan masuk, tapi bukannya kau harus tetap siaga menunggu di sana?”

“Bosan,” tanggapnya pelan sementara lengan kirinya terulur menjangkau gaun Skara, “ini bagus.”

Kuhentikan dia dengan menepak punggung tangannya, “Jangan dipegang, sudah dibeli orang.”

Ditatapnya aku menggunakan pandangan menyelidik, “Kesal sekaligus gembira? Kenapa perasaanmu aneh sekali?”

Sialan! Aksiku menghalanginya membaca emosiku melalui gaun rancanganku malah membuatnya membaca emosiku melalui sentuhan kami. Panik, kuambil sebuah kotak kulit dari meja menggunakan telekinesis. Sesaat kemudian, sebatang rokok sudah bertengger di antara bibirku, menyala tanpa disulut.

“Aku kesal karena kukira ada pencuri masuk dan aku bukan gembira melainkan lega ternyata cuma kau yang datang,” aku berkelit.

Mata hijaunya menatapku sangsi sedangkan tangannya perlahan mengambil gulungan tembakau tipis itu dari mulutku, “Merokok merusak kesehatan.”

“Apa pedulimu?”

“Aku peduli.”

Boleh jadi terbebani keharusan menyembunyikan afeksi, jawabannya malah membuatku dongkol, “Tidak, kau tak peduli! Kau hanya merasa berutang budi karena aku menyelamatkan bokongmu dari serangan Deus!”

Meski aku langsung menyesali ucapanku barusan, aku takkan pernah menyesal telah melindunginya dalam konfrontasi terakhir melawan Deus. Seandainya harus mengulanginya lagi dan lagi, aku akan terus membuat pilihan yang sama walau akibatnya terlalu fatal bagiku.

Kala itu Zee dan Seraph tengah merapal sihir yang dirancang khusus untuk menandingi Grand Ark, serangan terkuat Deus. Matian-matian aku, Gemiere, Luna dan Celestia menghadang musuh agar tak mencapai kedua rekan kami. Pada saat penentuan, setelah kehabisan pilihan, aku melemparkan diri sebagai pagar betis terakhir bagi Zee. Pedang sang penjahat menembus tubuhku.

Pengorbananku memberikan cukup waktu demi menyelesaikan mantra andalan kami, Ultima Ratio Reginarum. Dan betapa sihir itu membuat kelompokku mengamuk laksana gerombolan dewi yang tengah dilanda nyeri menstruasi. Kawananku memelonco Deus, menjadikannya ibarat kain untuk mengepel Vandaria sebelum akhirnya mengebirinya lalu menjadikan kepalanya sebagai bola sepak.

“Masa lalu,” sontak aku tersadar dan mendapati Zee memegang pipiku, “seandainya aku bisa mengubahnya agar kau tak harus mengambil keputusan menyakitkan itu,” kepedihan memenuhi suaranya, “aku pasti ….”

Takut dia membaca lebih jauh, aku melepaskan diri, “Sudah kubilang, kau tak berutang apa pun padaku. Aku akan melakukan hal serupa untuk teman-teman kita yang lain, karena itulah yang teman lakukan, saling melindungi.”

“Teman?” tanyanya bimbang.

“Ya, teman,” karena lebih dari itu, kau akan menjauhiku, mengganggapku aneh, membenciku!

Suaranya berubah serius, “Cher.”

“Ya?”

“Aku tahu …” mendadak parasnya menegang, mata kirinya membeliak dan bersinar kehijauan sementara binar ungu memancar dari sela-sela poni yang menutupi mata kanannya.

Cemas, sigap kuggenggam tangannya dan sepotong suara wanita tua nan hangat merasuki pikiranku, Mereka bersenjata lengkap, jumlahnya puluhan … oh, hai, Cher.

Halo, Tia, kusapa rekanku Celestia, ada apa? Sepertinya serius sekali.

Teroris mengambil alih Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa, mereka menyandera semua orang, menilik ketenangannya, sepertinya dia tak terlalu khawatir.

Tuntutan mereka? tanya Zee.

Belum ada, tapi terus terang, aku malas menunggu dan memberi mereka waktu berbuat macam-macam, ujarnya kalem, namun aku mengenali percikan semangat di balik pesannya.

Kenapa tidak kauhajar sendiri saja? Kau pasti sudah tak sabar, kan? pancingku.

Apa kata dunia kalau sekelompok teroris dihajar nenek-nenek birokrat? responsnya memaksaku dan Zee cengar-cengir. Tidak, aku akan duduk manis sambil minum teh sementara kalian menyelamatkanku.

Zee menatapku tajam, lalu menanggapi, Aku sendiri sudah cukup, berikan mandatnya padaku.

Terserah, tapi jangan lama-lama. Hening, kemudian, Melalui Mandat Darurat Nomor 1 Tahun 1401, saya, Celestia Nichols selaku Presiden Republik Neomenia, memanggil dan memobilisasi Unit Khusus Sublimis Personae untuk mengambil tindakan drastis demi memberantas teroris dan memulihkan keamanan di Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa.

Zee meletakkan telapak kanannya di dada, Frameless Zephyr siap menjawab panggilan Presiden Celestia Nichols.

Kutirukan aksinya dan kusebutkan identitas asliku, Sublimis Persona Cyalle siap menjawab panggilan Presiden Celestia Nichols, akibatnya rekanku cemberut.

Bukannya mengucapkan penutup, Celestia ikut-ikutan menggunakan alter egonya yang tegas, keras dan terdengar jauh lebih muda, Sublimis Persona Edessa siap menjawab panggilan Presiden Celestia Nichols!

Bilang saja kau sudah gatal mau rusuh, komentarku iseng.

Heh, berisik! Selanjutnya nadanya kembali menjadi khas kepala negara, Demikianlah mandat ini tertulis.

Dan demikianlah mandat ini akan terlaksana, kami bertiga menjawab serempak.

Sampai jumpa di medan laga, nona-nona. Tia, undur diri.

Setelah kawan kami memutuskan koneksi batin, Zee langsung mengecamku, “Untuk apa tadi itu?”

“Teman saling melindungi,” ucapku mantap. Apa pun yang terjadi, pantang kubiarkan dia bertarung sendirian!

“Tapi kau sudah pensiun, berhenti, takkan bertarung lagi!

“Aku takkan pernah pensiun sebagai Sublimis Persona,” sebagaimana aku takkan berhenti menyayangimu dan bertarung demi melindungimu.

“Tapi … kondisimu ….”

Kutempelkan telunjuk kiri ke bibirnya. Aku tahu dia tahu keadaanku sebenarnya, tapi biarlah tiada kata terucap di antara kami. Biarlah rasa sakit ini menjadi milikku saja.

“Sebaiknya kita bergegas, Tia benci menunggu lama-lama,” aku mengedipkan sebelah mata.

“Eh, anu,” sepertinya Zee kecolongan oleh perubahan sikapku yang 180 derajat, baguslah.

“Jadi, kita teleportasi ke sana?”

“Umm, tidak bisa, dalam keadaan darurat, akses intermaya dalam radius 15 kilometer dari Markas Besar diblokir secara otomatis untuk mencegah pelaku melarikan diri atau mendatangkan bantuan,” Zee yang kukenal lambat laun kembali.

Intermaya adalah jaringan sihir berbasis infrastruktur rune. Umumnya hanya digunakan sebagai tempat perdagangan virtual atau sekadar sarana bersosialisasi. Meski demikian, pengguna sihir tingkat tinggi dapat memanfaatkannya sebagai jalan raya super agar sampai ke tempat tujuan alias teleportasi.

“Jadi kita teleportasi ke area di luar blokade terus jalan kaki ke sana?”

Kepalanya menggeleng, “Bukan jalan kaki, terjun bebas.”

Aku melongo, “Maksud?”

“Secara vertikal, radius 15 kilometer itu di atas batas maksimum ketinggian jelajah pesawat terbang. Artinya para pelaku takkan bisa kabur dengan cara teleportasi ke pesawat terbang,” jelasnya panjang lebar. “Sekarang, berapa ketinggian maksimum yang bisa dicapai transmisi intermaya?”

Sebuah lampu menyala di kepalaku, “Sekitar 20 kilometer.”

“Benar sekali. Seperti katamu, kita teleportasi ke atas Markas Besar tepat di luar blokade intermaya, meluncur turun, kalahkan musuh, pulang.”

“Pertahanan udara macam apa yang akan kita temui?” bukannya takut atau apa, namun alangkah baiknya mengetahui kekuatan lawan yang akan kami hadapi.

“Kuperkirakan cuma misil anti serangan udara, pesawat tak berawak, atau paling parah pesawat tempur.” Meski ronanya berbeda, sepasang matanya memancarkan kecemasan, “Tapi aku tetap keberatan kau ikut serta.”

Kubelai pipinya, “Terima kasih telah memedulikanku.”

Andai harus mati saat ini juga, aku ikhlas. Yang kuinginkan hanya seseorang memerhatikanku, mengetahui keberadaanku, dan mungkin mengingatku saat aku telah tiada. Jika aku bisa membuat seseorang, satu orang saja, merasa kehilangan atas kepergianku, maka seluruh penderitaan dan kesepian yang kurasakan terbayar sudah.

Tapi aku takkan mati di sini, “Ayo,” ajakku.

Terjadilah. Pola matahari merah menyala di dada Zee, menembus pakaiannya. Serupa tapi tak sama, citra surya dalam naungan bulan sabit terbentuk di punggung tangan kiriku. Seiring itu, pakaian kami membara sirna, tergantikan full body suit ketat terbuat dari serat-serat mana, putih untukku, hitam bagi pasanganku. Selanjutnya pelindung dada, tulang kering, lengan, dan bahu mewujud, sekeras berlian, seringan kapas, seragam dengan warna utama kami.

Mencapai puncak transformasi, segenap eksistensi dan kekuatanku bak tertarik menuju bagian belakang disertai sensasi yang membuatku mendesah tak berdaya. Setelahnya, energi kembali tersebar merata melingkupi badanku. Tak hanya itu, kini di punggungku mencuatlah sayap kupu-kupu demonik bercorak gradasi biru ungu dan hitam.

Mitraku juga telah menuntaskan perubahannya. Rambutnya berkilau keperakan. Sosoknya pun terlihat agung berkat sayap logam yang memanjang dari sebuah simpai besar penuh ukiran indah yang mengambang di balik badannya.

“Zephyr,” tegurku.

“Cyalle,” balasnya, “kau menawan, seperti biasa.”

Refleks aku melangkah ke cermin besar di pinggir ruangan demi mengonfirmasikan pernyataannya, “Setahun lebih aku tidak tampil seperti ini.” Kusentuh ujung rambutku yang melingkar, “Dan aku selalu bersyukur tiap kali menyadari gaya rambutku tidak rusak.”

“Siap?” topeng mulus yang hanya menunjukkan sepasang mata berpijar keemasan membentuk menutupi paras Zee.

Aku memejam. Seluruh pintu dan jendela gedung lantas mengunci. Terakhir, kukirimkan pesan ke semua karyawanku, memberitahukan bahwa hari ini butik tutup karena aku ada urusan mendadak.

“Siap,” jawabku seraya merealisasikan pelindung wajah.

Zee mengulurkan kedua lengan yang dengan senang hati kusambut. Kegelapan kemudian merembet turun dan badan kami berdenyar seakan hendak melawannya. Segalanya akhirnya sirna ditelan ketiadaan, menyisakan aku dan dia yang berhadap-hadapan. Kendati tak keberatan bila seterusnya begini saja, cahaya mendadak menyoroti dari sisi kanan atas. Aku menengok dan mendapati sumbernya adalah matahari. Melongok ke bawah, daratan membentang luas, nihil awan.

Dilepaskannya tautan kami lalu energi sihir alami menjalari tangan kanannya, serta-merta mematerialisasi sebagai sebilah pedang keperakan, Mana senjatamu?

Aku mengerising, membentangkan kedua lengan selebar-lebarnya. Riak-riak ruang waktu bermunculan di sekitarku. Masing-masing mengeluarkan sepucuk  senjata api. Pistol, senapan, shotgun, minigun, peluncur roket, ratusan jumlahnya, menyebar laksana perpanjangan sayapku. Belum cukup, lima buah jangkar raksasa turut pula menyembul, salah satunya lebih masif dari yang lain.

Zephyr menyeringai puas, Jangan kecewakan aku, Imitasi!

Rekanku jungkir balik dan melesat ke Vandaria, menyisakan jejak-jejak emisi energi murni. Santai saja aku mengikutinya dibuntuti semua perkakasku kecuali sauh-sauh tadi.

Tatkala misil-misil anti serangan udara menyambut Zee, aku balas meledek, Tunjukkan kemampuanmu, Penyihir!

Hal itulah yang dilakukannya. Tanpa mengurangi kecepatan, sang frameless meliuk menghindari sebagian besar rudal serta menebas yang berada di hadapannya. Ledakan demi ledakan mengguncang langit. Dia pun hilang ditelan gumpalan asap, sesekali siluetnya berkelebat sebelum tertutupi oleh eksplosi lain.

Sadar peluru-peluru kendali itu sepertinya mengunci rekanku, aku memutuskan menahan posisi di ketinggian. Sepucuk senapan melayang ke lenganku.
Sembari membidik, aku bersenandung, Charity, Charity, tunjukkan kemurahan hati.

Jangan menyanyi! pekikan hati Zee menjangkauku.

Kuabaikan dia, Karena tiada yang kauberi, kecuali peluru dan artileri.

Bedilku menggelegar menghasilkan semburat biru tipis secepat kilat. Lintasan awalnya lurus, tetapi kurang sedetik kemudian berbelok zig-zag ke segala penjuru, menembus satu per satu misil. Desingnya disusul gemuruh bertalu-talu. Sasaran terakhirnya adalah Zephyr yang tangkas menangkisnya memakai pedang.

Satu peluru, batinku sombong karena berhasil membersihkan cakrawala dari gelombang pertama pertahanan Markas Besar.

Sobatku melaju lagi, Lumayan.

Baru sebentar merasa jemawa, telingaku menangkap dengungan laksana gerombolan hama neraka. Menggunakan penglihatan tingkat tinggi, aku menyaksikan sesuatu serupa sekumpulan tawon mengangkasa menuju tepat ke sini.

Pesawat tak berawak! Tetap di sana! Zee mengingatkan. Biar aku yang urus!

Pembesaran lebih lanjut membenarkan pernyataannya. Ukuran mereka boleh dibilang mini. Bentang sayapnya hanya sekitar lima meter ditambah dua jet kecil pada bagian ekor. Jumlahnya setidaknya ratusan, mungkin ribuan.

Mengingat rekanku sudah menerjang tepat ke pusat gerombolan tersebut, nyanyianku berlanjut, Charity, Charity, ayo kita berderma.

Zee mengerang kesal, Terserah kaulah!

Moncong-moncong senjataku serentak mengarah ke para pendatang, Charity, Charity, tembaki mereka dengan bazoka.

Bukan hanya bazoka, seluruh bawaanku berdegar silih berganti, menghujani kapal-kapal terbang tersebut dengan amunisi. Serpihan-serpihan logam berguguran. Walau begitu, sebagian besarnya berhasil mengelak dan balik menggempur kami dengan  rudal dan proyektil sihir hijau pucat.

Melengkapi gerak manuverku, belasan senapan serta-merta mengorbitku, menargetkan pesawat-pesawat yang mendekat, Berapa jauh lagi?

Baru setengah jalan! Sudah kubilang tak usah ikut! sobatku merepet.

Kesal dimarahi, kusambar sepasang senapan gatling, satu untuk tiap tangan. Tergelak-gelak layaknya seorang maniak, kuberondong lawan-lawanku.

Berhentilah bermain-main!

Baik, Nyonya, patuh, kusandangkan sebuah meriam mana berukuran jumbo di bahu kanan.

Dua detik kemudian, kulepaskan energinya, menyapu bersih musuh sederet penuh. Selanjutnya menghindar, menukik, tembak lagi, ulangi prosesnya, bosan.

Hati-hati! Ada lagi yang datang!

Pesawat tempur?  antusiasmeku mengambil alih.

Bukan … roket!

Puluhan benda yang dimaksud menghampiri kami. Ukurannya jauh melebihi misil, mirip yang sering diluncurkan dalam misi eksplorasi angkasa. Aku membidik salah satunya, namun bagian-bagian roket tersebut mendadak terlepas. Dari sisi-sisinya, dua ekor makhluk melesat membebaskan diri. Kecepatan mereka mengagumkan dan bentuknya tak salah lagi.

Bersisik berkilau, bersayap selaput, empat kaki, ekor panjang, leher agak panjang, kepala kadal, bertanduk, apa lagi kalau bukan, Naga!

Jangan panik! jeritan batin pasanganku membahana.

Tawaku meledak, Siapa yang panik?

Aku menambah ketinggian, menjauhi hiruk pikuk pertarungan udara sambil terus menembaki pesawat-pesawat tak berawak. Sekawanan reptil terbang mengejar. Bagus.

Setibanya di langit nan lega, kuangkat tanganku ke atas sedramatis mungkin dan mengaum, “Lihatlah aku, Vandaria! Akulah! Charity!”

Serempak jangkar-jangkarku terjun bebas gila-gilaan, telak mengenai sekaligus meluluhlantakkan lima ekor dragon. Sisanya terdisintegrasi oleh serangan kanon-kanon sihir yang berdentum-dentum.

Penuh khidmat, haluan-haluan kapal tiba di samping kiri dan kananku, di atas dan bawahku serta di belakangku. Inilah armada yang kucuri sepanjang petualangan kami dulu: empat kapal perusak dan satu kapal induk super.

Dasar gila!

Tidak segila itu hingga membawa sauh tanpa kapalnya, bantahku. Yakin pertempuran ini telah mencapai klimaks, giliranku memperingati Zee, Menyingkirlah!

Sudah! Tembak saja, jangan pikirkan aku!

Meski mustahil bagiku tidak memikirkannya, kuturuti permintaannya yang lain, “Magnum opus! Maksimum salvo!” komandoku menggelegar.

Seluruh senjataku, baik yang melayang di udara dan terpasang di kapal-kapal perang, menembak secara bersamaan. Mulai dari torpedo hingga rail gun,  semua pantang mengampuni target. Pesawat-pesawatku turut lepas landas, memburu, menghancurkan, menjadikan langit sebagai lambang supremasiku.

Daguku terangkat, bangga terhadap pembantaian sepihak yang dilakukan pihakku. Apa pun yang diluncurkan teroris dari Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa,  bala tentaraku akan meremukkannya seperti serangga. Inilah akibatnya jika berani merebut … eh, apa itu tadi?

Aku yakin mataku menangkap sesuatu di sebelah kanan. Bagian itu, seperti bagian lainnya, penuh kekacauan. Unit-unit tak berawak milikku menghabisi punya musuh dan kadal terbang. Salah satu naga tersebut tunggang langgang, sayapnya terentang, mengingatkanku pada …kibaran lengan baju … model lonceng.

Ragu, aku menengok ke sebelah kiri. Gambaran serupa kutemui di sana. Di bagian tengah, pesawat terbang musuh jatuh berputar-putar, lamun yang kulihat hanyalah … pola bordir.

Tak bisa dipercaya, sungguh tiada terduga, wahyu tersuci di tengah medan laga, “Inspirasi!” aku melengking.

Bidang hologram transparan mewujud di depanku. Mana merealisasikan pensil virtual di kedua tanganku. Jiwa ragaku siap mengubah ilham menjadi karya. Dan mulailah aku berkreasi.

Mengikuti goresan kerasku ke kanan pada permukaan kanvas digital, rudal-rudalku menerjang ke arah yang sama, menyisakan jejak asap yang sungguh enak dipandang. Tangan kiriku pun sigap menerjemahkan semburan api dragon dan detonasi sebagai motif dan warna bulu merak.

Saking asyiknya, aku baru sadar kami telah mendarat ketika rancanganku selesai. Para teroris? Berserakan di sekitar kami, di antara rongsokan pesawat tak berawak dan bangkai naga. Edessa menjalankan tugasnya secara profesional, seperti biasa.

Malamnya, setelah seharian mengawal Presiden Celestia sebagai anggota unit elite Sublimis Personae, aku dan Zee bersantai di balkon kamar hotel kami yang menghadap pantai. Di atas sana, bulan purnama bersinar menemani kemilau bintang-bintang.

“Indah,” Zee yang duduk di birai mengomentari desain teranyarku pada bidang hologram.

Tanpa mengubah posisi berbaringku di sofa chaise longue, kuterima layar virtual tersebut, “Terima kasih.”

Kuamati rancanganku sejenak. Tak ada kata yang bisa mendeskripsikannya. Mungkin memang tidak perlu dielaborasikan selama aku mampu menjadikannya sesuatu yang nyata. Dan aku pasti mampu!

Pada saat itulah aku menyadari kesunyian di antara kami. Hening, seolah suara cuma akan menodai kebersamaan kami.

Hingga akhirnya, “Cher.”

“Ya?”

“Aku tahu.”

Kutenggak botol minuman ringanku, “Soal apa?” Keadaan kesehatanku? Perasaanku padanya?

“Semuanya.”

Aku membeku.

“Aku hanya ingin kautahu, aku di sini untukmu … sebagai teman.”

Tidak lebih, tidak kurang. Jujur saja, hatiku hancur. Anehnya, tidak sesakit yang kukira. Mungkin aku ikhlas, bisa jadi aku pasrah, atau malah gara-gara sudah tahu akhirnya akan begini?

Yang jelas, aku dapat mendengar mulutku bicara, “Hanya itu yang kupinta darimu, tidak kurang, tidak lebih.”

Kuperhatikan desainku. Seketika itu pula goresan dan warnanya mengingatkanku bahwa aku masih punya cinta yang lain. Cinta yang cukup layak untuk diperjuangkan, dipertahankan. Cinta terhadap keindahan busana dan segala kemewahannya.

“Dan jangan cemas, aku akan bertahan hidup, dari hari ke hari,” Karena itu, kutunjukkan karyaku padanya dengan penuh kebanggaan seorang desainer kelas dunia, “Dari mahakarya ke mahakarya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.