DUNIA BISU Bab 3
Bab 3: Nostagie De La Boue
“Erza Dwi Ramadani”, kuketikkan namanya di kolom pencarian Google. Hasilnya adalah beberapa foto sekaligus sederet link terkait pialang, pembicara publik, konsultan, serta penulis beberapa buku pengenalan pasar modal dan investasi bagi pemula. Status dan pencapaiannya luar biasa, apalagi mengingat betapa muda belianya dia, 27 tahun.
Aku kagum padanya. Erza selalu dihiasi pernik busana mahal yang mengedepankan citra korporat dan kecerdasan feminin. Aku bisa menebak mereknya, Jimmy Choo, Prada, Versus dan entah apa lagi. Riasannya? Tata rambutnya? Sama saja, sempurna.
Siapa sangka bahwa dulu dia sangat berbeda: nyaris gundul, buta mode, pendiam dengan segala pemikirannya. Lihat apa yang 7 tahun berikan padanya? Sebuah transformasi luar biasa. Dan apa yang 7 tahun berikan padaku?
Kuputuskan untuk bertanya pada dunia maya. Hasil pencarian untuk “Angela Amelia” muncul. Hanya dua link yang benar-benar tentang aku, itu pun cuma menuju data diriku selaku mahasiswi di universitas tempatku kuliah dulu. Sisanya adalah Angela Amelia lain. Kutahan senyumku, begini lebih baik, low profile, tidak terdeteksi.
Halaman internet yang memuat segala sesuatu tentang Erza kembali tampil setelah aku klik tombol touchpad. Inikah yang dikejarnya setelah meninggalkanku?
Aku benci padanya. Curang, kan? Dulu aku mengajaknya memperjuangkan cinta kami. Di luar dugaanku, dia menolak, memilih lari. Akhirnya aku tahu Erza lebih senang berjuang untuk kepentingannya sendiri. Mungkin dia merasa aku cuma akan menyusahkannya. Padahal apa yang takkan kuberikan demi sekadar berada di sisinya dan mendukungnya? Jual diri pun aku rela.
Tapi aku tahu, aku turut berubah dan berkembang meski tidak persis seperti Erza. Dia bermandikan lampu sorot, aku bergerak di balik layar. Dia memotivasi, aku mengatur. Dia berspekulasi, aku menentukan.
Lamunanku terputus ketika Anin meletakkan segelas susu cokelat hangat di meja tamu. Wanita yang lebih tua setahun dariku itu lantas duduk di sebelahku di sofa dan beringsut mendekat. Kubiarkan dia mengintip monitor laptop. Senyumnya terkembang mendapati Erza memenuhi layar. Ah, kebesaran hatinya memang tahan banting.
Dia bertanya apakah aku kangen pada mantanku tersebut. Aku menggeleng, menyatakan bahwa aku cuma break sejenak dari pekerjaan. Tawanya terlepas dan menerima bahwa begitu pun boleh. Sungguh tak ada prasangka buruk dalam pikirannya.
Iseng-iseng kutanyakan bagaimana jika aku ingin kembali pada Erza. Anin tertegun sementara sepasang mata teduhnya menatapku. Wajahnya bulat, biasa-biasa saja. Meski begitu, aku menemukan kecantikan dalam tanggapannya. Katanya tidak apa karena tak ada yang benar-benar dimilikinya dan bukankah hidup adalah rangkaian pertemuan dan perpisahan tanpa akhir? Jika aku enggan memperjuangkan kami, untuk apa pula dia memperjuangkannya sendirian? Bukankah lebih baik dilepas saja lalu nikmati kembali seandainya nostalgia itu muncul?
Aku terdiam dan kembali terpaku menghadap monitor. Ucapannya membuatku malu karena telah bersikap egois. Lirih maaf itu terucap, tapi dia malah tertawa lantas memelukku. Wangi lavender dari sabun kesukaannya dan kesegaran tubuh kekasihku serta-merta menenangkanku, apalagi ketika dia membisikkan aku tidak perlu minta maaf karena tak ada yang perlu dimaafkan. Kecupannya di pipiku kian menegaskan bahwa cintanya membebaskan, terasa ironis karena justru aku yang mengurung perasaanku dalam kenangan.
Anin bangkit dan berjalan menuju ruang latihan. Dari belakang pun terlihat keistimewaannya dibandingkan butchy-butchy lain yang pernah kutemui. Badannya tinggi tegap berotot dengan kulit gelap terbakar matahari. Rambutnya lurus sebahu, mengayun seirama langkahnya yang mantap tanpa dibuat-buat, menegaskan apa dan siapa dirinya: Anindita Maharani, drumer kebanggaan Larung Kencana, band yang kumanajeri.
Sungguh, menyaksikan Anin tampil live merupakan pengalaman tiada duanya. Berbekal celana hot pants dan kutang favoritnya, kekasihku menggebuk instrumennya sampai peluhnya membanjir, hanya untuk diguyur sebotol air dingin di tengah jeda lagu, sebelum akhirnya kembali melanjutkan aksinya yang meledak-ledak. Jeritannya sesekali membahana, mengiringi kidung Jawa yang dilantunkan nyaris mistis oleh Amirah sang mantan sinden eks santriwati pembaca tilawah, serta gerungan cadas Mat Topeng, vokalis kedua kami.
Banyak yang menyebut duet seperti itu sebagai “beauty and beast”. Lembut dan garang, manis dan sangar, satu kesatuan tak terpisahkan. Dilengkapi aksi teatrikal yang kujamin tak ada di band lain, Larung Kencana mengukuhkan statusnya sebagai fenomena musikal paling gres di tanah air sekaligus band gotik metal terdepan baik di kancah underground atau ranah mainstream.
Tentu aku takkan puas hanya sampai di situ. Mati-matian aku berjuang membawa mereka setidaknya tampil sekali dua kali di luar negeri demi membangun reputasi. Hasilnya lumayan mengingat kami baru saja kembali dari Malaysia dan Jepang dengan sambutan meriah penonton yang masih menggaung di hati. Lumayanlah untuk ukuran manajer pemula seperti aku.
Jika kupikir kembali, aku memang anak kemarin sore di bidang ini. Tak lebih dari 6 tahun lalu, aku hanya asisten seorang manajer veteran bernama Mbak Diah. Saat itu Beliau sedang gencar-gencarnya mengorbitkan Larung Kencana, band baru yang diprediksinya sebagai the next big thing. Dari sinilah awal pertemuanku dengan Anin dan kawan-kawan. Ketika akhirnya Mbak Diah wafat dalam kecelakaan pesawat, semua personel berkeras menunjukku sebagai penggantinya, otomatis mempertaruhkan karier mereka di tangan amatirku.
Kisah selanjutnya hanyalah cerita jatuh bangun biasa sampai akhirnya sekarang Larung Kencana bersiap merilis album ketiga. Kepercayaan penuh mereka terhadapku sejauh ini membuatku pantang main-main dalam bekerja … dan karena aku sudah menyinggung soal kerja, mungkin sudah saatnya aku kembali menjalankan fungsiku sebagai manajer.
Aku tutup browser internet yang menampilkan Erza lalu kubuka attachment email berisi gambar-gambar koleksi terbaru Iwan Tirta. Kostum untuk sesi pemotretan album harus segera dipilih dan mustahil aku melepaskan aura gotik batik yang sejak awal merupakan salah satu ciri khas Larung Kencana. Band ini memang tak pernah jauh-jauh dari busana lokal sebagai pelengkap aksi panggungnya, membuat citranya lebih membumi.
Setelah mengecilkan pilihan menjadi sekitar lima alternatif bagi tiap personel, aku beralih ke hal menyebalkan yaitu draf kontrak terkait jingle iklan dan pemasaran lagu-lagu baru sebagai ring back tones. Teman-teman kurang suka karya mereka dimutilasi agar potongan-potongannya bisa dijual begitu saja atau diubah sesuai keinginan klien, tapi mau bagaimana lagi? Biar bagaimana pun, ini band komersial dan uang bicara dalam bahasa dewa.
Sambil menyesap susu cokelat, pelan-pelan kubaca rancangan perjanjian tersebut. Secara garis besar sama saja dengan yang pernah kami tanda tangani pada album sebelumnya. Walau begitu, mustahil aku tidak minta pendapat Bang Jerman, kuasa hukum kami. Setelah mengirim email atur jadwal soal diskusi kontrak, pikiranku kembali melayang. Seperti biasa, Erza lagi, Erza lagi.
Bosan memikirkannya, kubawa laptop menuju ruang latihan. Begitu membuka pintunya, pendengaranku langsung dihajar dentuman drum menggebu-gebu, cepat dan kuat. Pastilah Anin tengah mengiringi lagu speed metal dari headset besar di telinganya. Sang drumer sendiri bermandikan keringat dan hanya mengenakan bra sedangkan kaus yang tadi dipakainya tercecer begitu saja di lantai.
Aku hanya bisa mesem, sadar bahwa Anin paling senang latihan atau tampil saat badannya segar. Harus mandi lagi sesudahnya sama sekali bukan masalah baginya. Karena itulah kubuat diriku senyaman mungkin, duduk di lantai dan bersandar pada tembok. Di sini, di hadapan kekasihku dan dalam dekapan musiknya yang melingkupi, aku merasa tenang. Setidaknya dengan begini aku konstan teringat bahwa aku sudah ada yang punya.
Benar saja, urusan pekerjaan jadi lancar meski harus kuakui telingaku berdenging hebat. Tidak apa, yang penting semuanya beres. Anin juga sepertinya sudah selesai karena suasana mendadak sunyi.
Ketika kepalaku mendongak, aku mendapati dirinya tegak di hadapanku. Buas matanya memandangku; ada nafsu di sana. Ah, apa yang lebih disukainya selain bercinta dengan tubuh panas oleh keringat dan napas menderu? Karena itulah kusingkirkan laptop ke samping. Kupasrahkan apa pun yang ingin dilakukannya padaku.
Melihatku demikian, kekasihku berlutut kemudian merangkak seksi ke arahku. Semakin dekat, semakin tajam hidungku membaui aroma tubuhnya yang diterjemahkan otakku sebagai wangi cinta. Wajah kami kini hanya terpisah beberapa sentimeter saja. Anin menunggu, aku tahu, karena itu sengaja kubiarkan dia menanti lebih lama.
Menyadari ulahku, senyuman nakalnya mengembang. Diantarkannya bibirnya menuju bibirku. Aku siap menyambut, tapi tidak diberikannya ciuman itu. Anin malah mengangkat daguku menggunakan pipinya, lembut memaksaku menengadah. Leherku kini terbuka untuk serangan langsung dan serta-merta dihujaninya dengan kecupan, jilatan, serta gigitan-gigitan kecil yang membuatku menjerit bak anak kecil.
Tentu dia takkan puas hanya dengan leherku. Alhasil kepalanya mulai turun ke bawah, menuju dadaku. Enggan dihalangi, kekasihku merobek blus yang kukenakan, membuka akses penuh bagi tangan dan mulutnya untuk menikmati apa-apa yang bisa mereka jangkau.
Di tengah desahan dan kecipak air ludah, bayangan wanita keparat itu kembali melintas. Kenapa? Kenapa sekarang aku harus membandingkan gaya bercinta Anin yang liar membakar dengan permainan asmara Erza yang manis puitis?
Nostalgie de la boue? Seingatku begitulah mantanku tersayang menyebut keadaan seperti yang kualami sekarang. Nostalgia lumpur, hasrat untuk kembali pada kekacauan dan keburukan. Mungkinkah aku ingin kembali ke keadaan demikian? Terlunta-lunta tanpa cinta yang tulus dan penghidupan layak saat bersama Erza? Itukah yang kudambakan? Mungkin memang harus kupastikan.
Kuulurkan lengan kanan menekan tombol di laptop guna menampilkan jadwal Larung Kencana beberapa bulan ke depan. Anin yang sudah tiba di antara kedua pahaku langsung menggumam soal menangguhkan urusan kerja, tapi kubungkam dia dengan mendorong kepalanya ke selangkanganku.
Daftar itu terbagi dua kolom: sebelah kiri berisikan deretan konser, jumpa pers, dan lain-lain berikut waktu dan tempatnya sedangkan sebelah kanan merupakan check box penanda apakah kegiatan-kegiatan tersebut akan di-follow up atau tidak. Salah satu yang masih belum kuputuskan adalah acara talk show di salah satu stasiun televisi berita yang belakangan kuketahui turut menghadirkan narasumber lain bernama Erza Dwi Ramadani.
Tak tahan aku menyeringai. Apa ini berarti masa lalu ingin bertemu kembali denganku? Begitu, kah? Jika iya, aku takkan lari atau sembunyi. Seandainya kami akhirnya bertemu lagi, akan kutunjukkan padanya bahwa aku bisa berdiri sendiri, bahwa aku telah memiliki pasangan hati … bahwa Erza sudah tak berarti bagi Anggi.
Karena itulah, tanpa ragu kuconteng jadwal talk show tadi lantas berpaling pada Anin, menariknya ke arahku dan melumat bibirnya habis-habisan.