PETUALANGAN BIAWAK Bab 3
Bab 3: Coram Deo
Halaman belakang yang porak poranda ini kosong. Pemadam kebakaran serta para penyelidik baik dari kepolisian atau dari organisasi tempatku bernaung sudah lama pergi. Begitu pula penyebab kekacauan ini. Apa pun makhluk tersebut, dia lenyap tanpa jejak sama sekali … begitu pula Vara dan Salva.
“Ed, lu yakin itu bukan buruan kita?” Anjas bertanya dari belakang.
Kuamati jejak raksasa di permukaan tanah, ukurannya sekitar tiga kali lipat lebih besar dari telapak tanganku, “Iya, baunya beda.”
Aku bangkit lantas menginspeksi keadaan. Hanya beberapa batang cemara yang tetap berdiri utuh, sebagian hangus, sedangkan sisanya tumbang. Lampu-lampu taman juga bernasib serupa, cuma satu satu dua saja yang masih berfungsi, mengakibatkan suasana nyaris gelap gulita.
Monster yang menghasikan kerusakan di sini memang berukuran besar, bersayap pula. Meski demikian, aku tahu dia bukan dari spesies yang biasa kami buru. Selain baunya, ada satu hal lagi yang meneguhkan keyakinanku.
Kubalikkan badan, “Njas, lu inget soal riak yang pernah gue ceritain?”
Siluet itu mencabut rokok dari mulutnya, “Kekuatan lu, kan?”
“Iya.”
Aku dan saudara-saudaraku memiliki bakat istimewa. Adikku yang satu ini, Anjas, memiliki kekuatan telekinesis di luar akal sehat. Punyaku lebih unik yaitu kemampuan merasakan riak aneh melintasi sela-sela jariku, gelombang transparan menerpa wajahku, juga kecipak misterius yang kadang dihasilkan langkahku. Aku selalu merasa kekuatanku sia-sia karena tidak jelas apa kegunaannya, tapi rangkaian kejadian malam ini telah menunjukkan hal yang sangat menarik.
“Memangnya kenapa?” tanyanya santai sambil mengembuskan asap.
“Gue ngerasain riak yang sama sebelum monster itu muncul,” kataku.
Dia bengong sesaat, “Maksud?”
Meski tidak gatal, kugaruk kepalaku, “Gimana, ya? Gue nggak ngeliat langsung, tapi kayaknya dia keluar dari riak itu.”
Anjas bengong lagi, “Maksud?”
Malas meladeni ketololannya, aku menjelaskan sebisaku, “Gini, selain di sekitar badan gue, gue nggak pernah ngedeteksi keberadaan riak di tempat lain, tapi malam ini beda. Gue bisa ngerasainnya, jelas, sama kayak gue ngerasain itu kampret keluar dari sana.” Melihat adikku masih mematung, aku menambahkan, “Kalo lu tanya ‘maksud’ lagi, sumpah, gue tonjok!”
Lawan bicaraku terkekeh, “Kesimpulannya?”
Nah, aku jadi ragu sendiri, “Kayaknya … kayaknya, sih, dia dari tempat atau dunia lain terus Vara sama Salva dibawa ke sana.”
“Kenapa mikir gitu?”
Telunjukku mengarah langit, “Sampe sekarang, sekitar 10 meter di atas kita masih ada riak yang gede banget dan bau Vara Salva juga putus di sana. Asumsi gue, riak ini ada hubungannya sama teleportasi, dimensi atau apalah.”
Kepalanya mendongak, tapi pasti dia tidak melihat apa pun di sana, “Terus lu mau ngapain sekarang?” selidiknya sambil kembali mengisap rokok.
“Gue mau nyusul. Kekuatan gue pasti ada gunanya untuk hal-hal kayak gini,” jawabku mantap.
“Gue ikut,” enteng saja Anjas menanggapiku.
Respons yang demikian sudah kuperkirakan, “Lu percaya sama ocehan gue?”
Bayangan di depanku mengangkat bahu, “Nggak ada alasan untuk nggak percaya.”
Baiklah kalau begitu, “Nggak boleh,” suaraku menegas, “gue aja nggak tau risikonya buat gue, apalagi buat lu yang nggak bisa ngedeteksi riak.”
“Memangnya lu mau nyusul kayak gimana?” tanyanya skeptis, mungkin kesal karena kularang.
“Gue mau coba-coba dulu, siapa tau bisa.” Kuambil kunci mobilku dari saku celana lalu kulempar padanya, “Kalo berhasil, tolong jagain mobil gue.”
Ditangkapnya benda itu, “Kalo berhasil dan lu nggak balik-balik, mobil lu gue jual.”
Kami tertawa. Aku mulai berkonsentrasi. Gelombang yang melintasi tanganku pelan-pelan mengumpul. Sejak dulu aku bisa memanipulasinya dengan pikiran, tapi selalu gagal menemukan kegunaannya. Mungkin kali ini aku bisa tahu tujuan dari kekuatan yang kumiliki.
Saat aliran tembus pandang tersebut kian cepat mengumpar di sekitar jemariku, Anjas membuang puntung rokoknya, “Cih, rasanya nggak enak, pait.”
Aku menyeringai, “Lah, kenapa juga lu pilih kretek? Coba yang mentol.”
Pemuda 19 tahun itu menggeleng, “Gue udah ilang minat sama rokok.”
Kini jari-jari tanganku bagaikan dibungkus tornado tak kasat mata. Untuk melengkapinya, cakar-cakarku mengeras menajam. Aku siap, tapi sebelum itu ….
“Njas,” kuutarakan kecemasanku, “gue udah bilang, kan, tadi gue pingsan?”
“Iya, dan gue yakin bukan gara-gara nabrak pohon doang,” ada kecemasan dalam suaranya.
“Gue juga mikir gitu. Rasanya kayak ada yang ngintervensi terus mutusin otak gue.”
“Kalo lu mau gue ikut, bilang aja,” katanya datar.
Kutatap adikku yang sayangnya lebih tinggi 13 sentimeter dariku, “Nggak, gue cuma mau minta izin untuk …” inilah bagian terberatnya, “make kekuatan gue seandainya dibutuhin.”
Dia menghela napas, tentunya memahami maksudku, “Lakuin apa yang perlu lu lakuin, gue percaya sama penilaian lu. Itu aja.”
Mau tak mau aku tersenyum, “Thanks, Bro.”
Pandanganku beralih ke atas. Aku tak bisa melihatnya, tapi jika kupejamkan mata, di sana riak-riak mewujud dalam kegelapan, berpusat pada satu titik.
Sekarang atau nggak sama sekali!
Setelah mengambil ancang-ancang dan memusatkan kekuatan pada pijakan, aku meloncat. Kini cakar kananku menghujam deras tepat menuju titik tersebut. Entah apa ekspektasiku sampai ke sini atau tidak, yang jelas, seranganku menembus sesuatu yang nyata; tidak terlihat, tapi ada. Aura dingin langsung menjalari badanku. Selain itu aku bisa merasakan riak-riak merapat, menjepit kencang jemariku seolah hendak memutuskannya demi menutup diri secara paksa.
Dengan satu lengan tergantung di langit, pilihanku cuma mengirimkan cakar kiri untuk menggedor riak itu habis-habisan. Lambat laun, indraku mendeteksi sebuah celah membuka dan aroma parfum kedua bersaudari itu menguar dari dalamnya.
Tunguin gue, Var! Gue dateng!
***
Kehangatan menyapu wajahku dan riuh kicau burung menyapa telinga. Sepoi-sepoi angin turut membelai kulit sedangkan wangi bunga menggoda hidung. Cahaya redup itu pun memenuhi pandangan, namun kelopak mata terus terkatup erat.
“Tuan,” seorang gadis berkata dari sebelah kanan, “sepertinya dia mau bangun.”
“Kalau begitu, bukakan kelambunya,” di tempat agak jauh, pria yang dimaksud memberi tanggapan, sopan dan ramah.
Dengung halus diiringi suara rel tirai disingkap teratur. Kehangatan kian menjadi dan sinar tadi bertambah terang. Meski begitu, aku tetap terpejam.
“Tuan, pelupuknya berkedut, apa saya harus membantu membukakannya?”
“Biarkan saja.”
Sesaat kemudian, “Tuan, saya bosan. Saya bukakan.”
“Sabar sedikit, Ri. Jika bangun saja tidak bisa, apa gunanya dia hidup?”
Ucapan laki-laki itu dingin, membangkitkan sebuah ketakutan yang amat nyata. Bagaimana jika aku harus menghabiskan sisa hidup seperti ini, terbujur tak berdaya dan tanpa kendali atas tubuhku sendiri? Tidak bisa begitu! Aku harus terjaga!
“Tuan, detak jantung dan rasio respirasinya meningkat.”
“Salva,” mengabaikan ucapan si gadis, sang lelaki memanggilku, menenangkanku, “pelan-pelan saja, jangan buru-buru.”
Bak mematuhi permintaannya, lapisan kulit yang menutupi pandanganku perlahan membuka. Awalnya kabur, hanya tampak kabut kelabu, menaungi dan melingkupi penglihatanku.
“Ciri, tolong set ranjangnya.”
“Baik, Tuan.”
Mulai dari bagian punggung ke kepala, tempat tidurku melipat ke atas, membuatku duduk bersandar nyaman. Sesosok bayangan putih dengan mata biru besar muncul di sampingku. Makhluk itu mengamatiku, lantas mengantarkan salah satu jarinya menyusuri pipiku. Kubiarkan aksi tersebut karena sepertinya dia penasaran, tapi mustahil aku tak merasakan betapa sentuhannya dingin, sama sekali berbeda dari manusia.
“Hantu?” aku bertanya-tanya, bukannya takut atau apa, cuma heran.
Figur tersebut terkikik, “Bukan, matamu belum fokus,” tangannya kemudian hati-hati memegang daguku, “perlu dirangsang sedikit,” dan mengarahkan kepalaku agar menatap lurus ke depan, persis yang dilakukan kapster salon langgananku.
Dalam posisiku sekarang, pancaran kemerahan yang lembut dan tidak menyilaukan menerpaku. Itu pasti matahari terbit. Dan benar, lambat laun semuanya menjadi jelas.
Sedikit ke kiri dari hadapanku, seseorang duduk di kursi besar berlapis kulit kecokelatan. Yang bisa kulihat hanyalah siku berbalut pakaian putih pada sandaran lengan. Dugaanku dia adalah pemilik suara laki-laki tadi.
Di latar belakang, tampak lembah membentang hingga pegunungan berselimut gumpalan awan jingga. Itu dan rerumputan di bawah furnitur tempat sang pria menikmati paginya meyakinkanku bahwa kami sedang berada di sebuah bukit.
Kutolehkan kepalaku ke kanan untuk lebih mendapat gambaran mengenai lingkungan sekitarku serta gadis hantu tadi. Dia di sisi tempat tidur, berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang seolah menyuruhku mengamatinya baik-baik. Dan itulah yang kulakukan.
Selain perut dan persendiannya yang hitam berkilap, sekujur tubuhnya putih metalik, persis cat mobil. Posturnya seperti gadis remaja, lengkap dengan tonjolan serupa payudara di dada. Bagian pinggang sampai pangkal pahanya sedikit melebar, menimbulkan impresi dia mengenakan rok mini. Wajahnya rata tanpa hidung, mulut dan telinga, hanya ada sepasang mata besar dan berpijar biru laksana lampu neon. Selain itu, dari ubun-ubunnya, dua lempeng logam menjuntai mendekati panggul, sekilas mirip rambut dikucir dua.
Lengannya terulur, “Perkenalkan,” suaranya jernih, seolah tidak teredam atau terhalang sesuatu, “namaku Ciri.”
“Salva,” balasku sambil menjabat tangannya seraya memberi penilaian, Gadis aneh berkostum robot … atau robot betulan.
Setelah bersalaman, dia mengamatiku, “Kau tidak bertanya apakah ini kostum ataukah aku benar-benar robot?”
Aku bengong.
Si ‘robot’ mencerocos, “Biasanya, sih, orang-orang langsung nanya, ‘Eh, itu kostum, kan?’” Dia bersedekap, “Gue paling benci kalo ditanya kayak gitu, emangnya gue ….”
“Ciri, perhatikan bahasamu,” pria itu menyelanya.
“Baik, Tuan,” dia membungkuk dan berbisik, “jangan didengerin, dia emang kayak gitu, kaku, nggak asyik.”
Cengar-cengir aku dibuatnya. Terserah dia robot atau maniak kostum, pembawaannya yang ceria bersahabat membuatku langsung menyukainya.
“Ciri, aku bisa dengar,” tambah sang tuan.
Yang bersangkutan terkikik lagi, “Ya, sudahlah. Kau sudah kuat untuk turun?”
Pertanyaannya membuatku sadar bahwa badanku bugar dan pikiranku enteng, “Ya,” jawabku sambil melakukan apa yang dimintanya, di saat yang sama mendapati piyama biru polos melekat di tubuh.
Mungkin sadar aku mengamati pakaianku, Ciri angkat bicara, “Tuan sendiri yang memilihkannya untukmu. Suka?”
Meski agak sederhana untuk seleraku, aku tersenyum, “Ya,” jawabku jujur sambil mengenakan selop yang sepertinya disediakan untukku, “enak di kulit.” Pandanganku beralih ke kursi besar itu, “Kayaknya gue harus ngucapin terima kasih.”
Tangannya mengibas, “Sebenarnya tidak perlu, tapi, yah, sudah saatnya kalian bertatap muka.” Dipersilakannya aku ke arah majikannya, “Mari,” ajaknya.
Kuikuti Ciri ke kursi besar itu. Yang duduk di sana adalah seorang pria berkulit cerah dan berpakaian serba putih. Usianya kutaksir sekitar 30-35 tahun. Rambutnya cokelat, disisir menyamping, klop dengan berewok rapi yang membuat wajah perseginya nan halus mulus tampak jantan sekaligus terpelajar.
Walau begitu, ada satu hal yang agak menganggu, matanya. Hijau dan enak dipandang, tapi entah kenapa terasa kosong, seolah nihil jiwa di baliknya. Pikiran itu membuatku sedikit merinding, dan langsung terganti anggapan bahwa dia hanya tidak tertarik terhadap vista di depan kami.
“Tuan,” Ciri memanggilnya.
Sang tuan menoleh menghadapku. Sepasang bola mata tersebut seketika menyala oleh ketertarikan, minat … dan hasrat. Dalam kata lain, dia menelanjangiku dengan pandangannya, membuatku risih bukan kepalang.
“Lu nggak pernah diajarin untuk nggak melototin cewek?” tanyaku ketus.
Senyumnya terkembang, “Maaf.” Dirinya sekali lagi menikmati pemandangan dengan tatapan yang kembali hampa, menyiratkan kondisi mental yang terlepas sepenuhnya dari lingkungannya. “Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
Otomatis aku tidak enak sendiri, “Bukan begitu, gue ….”
“Perkenalkan,” tangan kanannya tiba-tiba tersodor, “namaku Halesi.” Ketika aku menjabatnya, ucapannya tersambung, “dan sebelum kau menanyakan apa yang terjadi, di mana kau sekarang, bagaimana keadaan Vara, Edward, Omen, dan Tante Lus, ketahuilah bahwa kau sekarang berada di rumah sendiri.”
Mendadak otakku bekerja di luar kendali. Serta merta aku teringat pertarungan melawan naga serta sepasang penculik yang benar-benar menyerupai aku dan Vara. Sontak aku bingung soal tempatku berada sekarang. Tiba-tiba aku mencemaskan keselamatan saudari kembarku, Ed, Omen dan Tante Lus. Ada apa ini? Kenapa aku bisa lupa semua itu?
“Jangan cemas,” lagi-lagi Halesi menenangkanku, “Edward, Omen dan Tante Lus baik-baik saja. Vara juga, dan kau akan segera berjumpa dengannya.” Diakhirinya salaman antara kami, “Tapi kalian berdua takkan bisa menemui mereka lagi.”
“Kenapa?” sergahku.
Tanpa jawaban, dia menunjuk lembah. Mataku otomatis mengikuti. Bentangan hijau kini tampak jelas berikut puluhan batang pohon yang jauh lebih besar dan menjulang lebih tinggi dibanding yang lain.
Mulutku menganga, “A … apa ini?”
Pada tetumbuhan raksasa tadi terdapat pencakar langit sejenis yang biasa kulihat di kota-kota besar di seluruh penjuru dunia, menyatu sempurna bagaikan diukir langsung pada batangnya. Bentuk tiap bangunan berbeda: ada yang mengusung gaya arsitektur Yunani kuno berikut pilar-pilar megah, ada yang persegi biasa saja namun beratap kubah, ada pula yang serupa katedral gotik berjendela-jendela besar melengkung dihias kaca mozaik warna-warni. Persamaan mereka adalah semuanya memiliki celah-celah tempat begitu banyak dahan dan cabang berukuran masif menjulur memanjang.
Tak hanya itu, di seluruh penjuru lembah aku dapat melihat puncak dari gedung-gedung lain yang lebih kecil menyembul dari sela-sela kerimbunan. Jalan-jalan layang pun tampak seperti jembatan yang pangkal dan ujungnya terbenam lautan dedaunan. Sinar ratusan atau bahkan ribuan lampu turut pula menerobos dari balik lebatnya hutan. Kawanan burung beterbangan, suara-suara satwa asing serta deru baling-baling yang mungkin dari helikopter di kejauhan makin memperkuat nuansa kemegahan metropolis berpadu keliaran rimba.
“Ini adalah Kota Bumi,” kata Halesi.
Antara ragu dan tak percaya, kugaruk kepala, “Kita di Lampung? Yang bener aja.”
Ciri terkikik. Halesi berdeham. Suasana kembali sunyi.
“Aku tidak membantah bahwa memang ada tempat bernama Kotabumi di negara tempat tinggalmu, di dunia sana.” Dia melirik dan sekilas tatapannya kembali berapi-api, “Sayangnya, kita sekarang berada di dunia yang sama sekali berbeda. Itu sebabnya kalian tidak bisa bertemu Edward, Omen dan Tante Lus lagi, karena mereka tidak ada di sini.”
Ucapannya sangat berbelit-belit dan membingungkan, “Beda dunia? Maksud lu apa, sih?”
“Maksudku, kalian takkan kembali ke sana, tapi seperti yang sudah kubilang tadi, di sinilah kau seharusnya berada.”
Penjelasannya makin membuatku kesal, “Lu udah gila kali, ya? Mentang-mentang lu ngebawa gue ke tempat aneh kayak gini, lu ….”
“Cukup,” pria itu memotong lalu bangkit, “sudah kuduga kau takkan mendengarkan atau menyimak jika wujudku seperti ini.”
Saat dia mulai berjalan ke arah lembah, tahu-tahu Ciri berbisik, “Hebat, ini rekor baru. Biasanya Hal paling sabar kalo lagi ngasih penjelasan.”
Aku menengok, “Maksud lu?”
Si robot putih menunjuk majikannya, “Lu boleh kaget, boleh nangis, boleh pingsan juga kalo mau, tapi tolong jangan sampe pipis di celana, itu nggak banget.”
“Hah?” masih belum memahami ucapannya, otomatis aku memandang pria itu.
Apa yang kusaksikan sungguh mengejutkan. Matahari kini bulat sempurna, panas dan cemerlang sementara awan hitam berpusar cepat mengelilinginya sambil terus-menerus menyemburkan halilintar. Kendati demikian, fenomena luar biasa itu bagaikan remeh dibandingkan figur yang melayang anggun di pusatnya.
Tanpa bisa kukendalikan, air mataku mengucur menyaksikan transformasi Halesi. Posturnya yang maskulin kini melembut, menonjolkan karakteristik kewanitaan. Rambutnya tumbuh mengombak sedangkan cambangnya sirna. Kemeja dan celananya meleleh melebur, membentuk gaun lurus panjang dengan permainan renda di sekitar dada serta draperi pada bagian pinggang yang mengembang laksana sayap bidadari.
Sosok tersebut memancarkan keagungan yang bahkan melebihi bola api raksasa di belakangnya, membuat jiwaku seakan nyaris melayang hanya melihat dan merasakannya. Anehnya, entah bagaimana benakku mengenali dirinya. Kekuatannya, kelembutannya, kekejamannya, kasih sayangnya, kemurniannya, korupnya. Semua mendefinisikan keberadaan dirinya dalam cara yang sama sekali di luar pemahamanku.
Namun, ada satu hal yang mustahil terbantahkan. Wajahnya … wajahku.
Sangat perlahan, kedua lengannya terentang dan bersamaan aku merasakan tangan-tangan perkasa tak kasat mata di pipiku. Tangisanku makin menjadi-jadi terdorong oleh ketakutan dan perasaan lemas yang menyesakkan. Walau begitu, aku tidak bisa berpaling sedikit pun dari sepasang matanya yang keperakan, yang kuyakini melihat segala.
Salva, bisikannya halus, tapi mendera seperti cambuk tajam tipis … dan aku tahu suara itu serupa dengan yang selalu keluar dari mulutku, takutkah engkau padaku?
Aku gagal menjawab. Separuhnya karena terlalu takut, separuhnya lagi karena sadar Halesi tidak membutuhkan jawaban karena maha mengetahui.
Pantang bagiku untuk melukaimu, karena itu, tolonglah percaya padaku. Apakah engkau percaya padaku, Salva?
Susah payah aku mengangguk sekilas saja. Jujur, tak terpikir olehku untuk memberikan respons lain.
Terima kasih, senyuman menghiasi parasnya, memberiku kelegaan luar biasa.
Lambat laun awan hitam menelan dirinya dan menutupi matahari. Seketika aku tersadar. Sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin sedangkan sisa tangisan masih membekas di pipiku. Aku menoleh dan mendapati Halesi, dalam wujud pria, duduk di kursinya, seolah tidak pernah beranjak dari sana.
“Apakah sekarang kau mau mendengarkan penjelasanku?” tanyanya sopan meski tidak repot-repot melepaskan pandangannya dari lembah.
Kepalaku mengangguk lemah. Kurasa aku tidak punya pilihan.
“Sebelum itu,” lirikan yang dilemparkannya kepadaku agak mengganggu, “Ciri, tolong siapkan pakaian ganti untuk Salva.”
Secara naluriah aku mengecek apa yang dilihat oleh Hal. Wajahku mendadak panas sampai telinga. Jeritan histerisku terlepas begitu saja sementara Ciri terbahak-bahak. Penyebabnya sederhana yaitu sebuah noda basah besar ditemani kehangatan memuakkan … di selangkanganku.