DUNIA BISU Bab 2
Bab 2: Angie
Angie, Angie ….
Lembut dan manis suara Mick Jagger mengalun melalui headset ketika kurebahkan kepala di bantal, seakan memanggil kembali kenangan lama akan wanita yang senama dengan idaman hati sang vokalis gaek.
When will those clouds all disappeared?
Sudah berapa lama, Gi? Sejak kita pisah? Tujuh tahun, ya? Dan sampai sekarang hari-hariku tidak pernah cerah.
Angie, Angie ….
Where will it lead us from here?
Terus terang aku tidak tahu ke mana hidup membawaku tanpa kamu. Rasanya cuma dari poin A ke poin B, tinggal masukkan tempat, pekerjaan atau seks ke dalam persamaan itu. Semua konstan berulang, menjemukan walau kadang menyenangkan … setidaknya sampai aku mengacaukannya seperti biasa
With no loving in our souls, and no money in our coats,
you can’t say we’re satisfied.
Kamu tahu, kan, Gi? Aku selalu cinta kamu meski aku bohong bahwa rasa itu hilang. Mungkin memang sebaiknya hilang, karena cinta itu mahal dan dulu aku cuma mahasiswi yang makan pun masih harus disuapi keluarga. Dan dalam kondisi itu kita mau ngotot kabur tanpa tujuan? Yeah, right ….
But Angie, Angie ….
You can’t say we never tried.
Katamu aku pecundang, tidak mau memperjuangkan cinta. Mungkin benar adanya … karena memang aku yang mengakhiri kisah kita. Tapi, Gi, kita sudah berusaha mendobrak segala stigma dan meloncati semua dogma. Kita telah berjuang menunjukkan bahwa kita bukan sepasang gadis yang terbakar sesat asmara belaka. Bahwa kita benar-benar punya cinta.
Angie, you’re beautiful,
but ain’t it time we said goodbye?
Gi, aku masih menyimpan foto terakhir kita. Di dalamnya ada kamu yang manis dengan rambut highlight cokelat kemerahan, hidung bangir di atas bibir padat berisi, serta sweter turtleneck dilapis jaket kulitku. Juga ada aku yang dulu serampangan, cepak, berkaus oblong dan bercelana jin. Sayang, beberapa hari setelahnya, jalan kita terbukti bercabang.
Angie, I still love you.
Remember all those nights we cried?
Aku masih cinta kamu. Dan itu terasa jauh lebih menyakitkan apabila mengingat malam-malam kala kita menangis berdua, merutuki takdir yang mengharuskan kita terlahir berjenis kelamin sama.
All the dreams we held so close,
seemed to all go up in smoke.
Kamu ingat, Gi? Dulu kita punya angan dan harapan, cita-cita dan impian. Tidak muluk, hanya sebuah rumah mungil berhias taman di halaman depan. Akhirnya semua menguap, meninggalkan pahit rasa kenangan. Tapi kamu tahu, Gi? Meski harus hidup bersama si Reza keparat, keinginan itu berhasil kuwujudkan. Namun semuanya hambar … karena kamu tak ada dalam jangkauan.
Let me whisper in your ear.
Pada saat seperti ini, ingin kubisikkan padamu bahwa aku ingin memulai kembali. Aku ingin melihat apa yang tersisa dari cerita dulu dibangun lagi.
Angie, Angie ….
Where will it lead us from here?
Gi, aku masih terkatung-katung tak tentu arah. Walau begitu, aku mulai bangkit, karena aku tahu, menungguku di ujung sana adalah hari yang cerah.
Angie, don’t you weep, all your kisses still taste sweet.
I hate the sadness in your eyes.
Aku masih ingat, dulu kamu bilang ciuman kita persis susu cokelat, manis dan hangat. Tapi, Gi, minuman tidak bisa sejernih kecupan dalam hal menyampaikan perasaan. Dan kecupan penuh air mata jelas lebih pahit daripada susu basi, dan itulah yang kurasakan ketika kita berciuman untuk terakhir kali.
But Angie, Angie ….
Ain’t it time we said goodbye?
Harusnya aku sudah melupakan kamu, tapi ada bagian dari diriku yang ingin berlama-lama dalam memori. Sialan, kan? Apalagi memori ini cuma sentimen busuk dari masa yang sudah lama mati.
With no loving in our souls, and no money in our coats,
you can’t say we’re satisfied.
Dulu aku menolak ajakan kamu untuk kabur dari rumah karena aku tidak mau kamu menderita kekurangan harta, tidak ingin kamu kelaparan di jalanan. Alasan klise dari jiwa kerdil, aku tahu, Gi. Dan aku akhirnya meninggalkan kamu. Iya, aku pengecut.
But Angie, I still love you, Baby.
Everywhere I look, I see your eyes.
Tapi aku masih dan akan terus mencintai kamu. Aku tidak bisa lari dari kamu, Gi. Ke mana-mana cuma ada kamu di benak aku, menghantui, menggerogoti … menemani.
There ain’t a woman that comes close to you.
Come on, Baby, dry your eyes.
Gi, jujur aku bosan mengenang kamu, tapi aku tidak punya pilihan karena ternyata tidak ada wanita yang bisa mencintai aku seperti kamu, apalagi pria. Apakah itu akan membuatmu makin sedih? Ataukah kamu menuruti permintaanku untuk berhenti menangisi kita?
But Angie, Angie ….
Ain’t it good to be alive?
Terlepas dari semuanya, sekarang aku mulai belajar bersyukur. Hidup tidak seburuk itu memperlakukan aku. Karier, tabungan, rumah, investasi, sekarang aku punya semua. Dan kamu tahu, umurku baru 27, masih ada begitu banyak waktu untuk mencari dan menemukanmu.
Angie, Angie ….
They can’t say we never tried.
Terserah orang mau bicara apa, aku akan mencarimu, dan aku pasti menemukanmu. Aku akan meyakinkanmu bahwa aku ingin kita mulai kembali. Dan mungkin … mungkin pada saat itu, bisa kubisikkan padamu sekali lagi ….
Bahwa Erza selamanya sayang Anggi.