DUNIA BISU Bab 1
Bab 1: Apati Yang Menelan Segala
“Departemen Pencitraan & Desain – Surat Perintah Kerja,” begitulah tulisan pada bagian paling atas lembaran yang diletakkan Isyana alias Nana di mejaku. Kuamati dia. Wanita keturunan usia 28-30 tahunan. Selain matanya yang terlalu sipit, secara keseluruhan atasanku ini menarik. Kaki jenjangnya dibungkus sepatu hak tinggi sedangkan tubuh sintalnya berbalut rok pensil dan blazer kelabu. Wajahnya bulat telur, dipermanis perona pipi lembut dan gincu merah marun, pas sekali dengan kulit kuning langsatnya. Gaya rambut sanggul modern melengkapi semuanya.
Puas memandanginya selama 1,5 detik, aku mengangguk. Dia juga. Kami saling mengerti, tak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya ada di kertas itu. Aku cuma perlu membacanya, lalu menyelesaikan tugas yang tercantum di dalamnya sebelum tenggat. Mudah, seperti biasa.
Perkenalkan, namaku Reza, penulis advertensi di Multimedia Wawa. Orang awam mungkin lebih familiar dengan istilah “copywriter”, tapi di sini kami memegang teguh bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meski kadang prinsip linguistik itu menimbulkan masalah terhadap klien yang lebih memilih “download” daripada “unduh”, aku menyukainya. Mengingat betapa aku tak terlalu peduli terhadap begitu banyak hal, fakta bahwa aku menyukai pola pikir perusahaan ini sangat kuhargai.
Dan aku serius saat bilang aku tak terlalu peduli terhadap begitu banyak hal. Contohnya sekarang. Sesaat setelah Nana berlalu, televisi plasma 45 inci agak jauh di sebelah kananku menayangkan berita penggerebekan kelompok ajaran sesat. Seperti biasa, Joko Jabrik, rekan di sebelah kiriku, yang terang-terangan mengaku ateis, mulai berkoar tentang kebebasan beragama dan omong kosong lain yang aku yakin bahkan tak dimengerti olehnya.
Persetan apa yang dianggapnya benar atau salah, tapi karena Joko sudah lumayan mengganggu dengan segala komentar tidak perlu itu, aku tanggapi saja. Untuk kesekian kalinya, kami berdebat.
Menurutnya kebebasan beragama harus dijunjung. Kutanggapi dengan argumen bahwa sebagai desainer grafis, dia juga tidak akan suka jika karyanya dicuri orang lalu dimodifikasi dan digunakan tanpa minta izin. Aku tekankan bahwa kelompok ajaran sesat itu pada dasarnya melakukan hal serupa: mencuri, memodifikasi dan menggunakan tanpa izin. Wajar jika pemilik atau pengguna asli marah-marah. Sang ateis terdiam, lalu menggumam tidak jelas dan kembali bekerja.
Debat barusan tidak akademis atau menarik, tapi sudahlah, toh kepandaian bersilat lidah bukan keahlian utama kami. Meski begitu, aku sedikit bertanya-tanya apa Joko bangga mengaku-aku ateis. Kalau iya, agak menyedihkan saja, setidaknya dari perspektifku.
Aku selalu merasa ateisme bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Dia hanya sebuah keyakinan, bukan prestasi. Seperti yang sudah kubilang, aku apatis, tapi tidak lantas berarti aku perlu menyiarkannya … sama seperti aku tak merasa perlu menyebarkan fakta bahwa aku tidak percaya atau peduli pada keberadaan Tuhan.
Jika kupikir lagi, apa peduliku? Seandainya Joko senang dengan statusnya, biarlah. Selama tidak merugikan, aku bisa menolerir nyaris apa pun … termasuk kasus mutilasi yang sekarang dibahas di TV.
Mataku melirik. Tampilan kardus bersimbah darah dan berisi potongan tubuh anak jalanan memenuhi layar. Hanya satu lagi bukti kebobrokan Jakarta yang sejak awal sudah sakit dan memuakkan. Si korban bodoh, si pelaku gila. Bagiku semuanya sesimpel itu. Dan selama bukan aku yang teronggok dalam kardus, peristiwa tersebut bukan urusanku.
Kembali bekerja, kembali ke rutinitas menjemukan. Harus kuakui, aku cukup pandai menulis. Itu sebabnya aku diterima di perusahaan ini. Kemampuan tersebut adalah satu lagi hal lain yang kupedulikan. Tentu, sudah sepantasnya aku memedulikan apa pun yang bisa membayar tagihan dan memberikan keinginanku, kan?
Selain menulis, pekerjaanku berkaitan erat dengan waktu. Semua tugas memiliki tenggat, umumnya paling lama sehari setelah surat perintah diberikan. Bayangkan menyusun Analisis dan Pembahasan Manajemen laporan tahunan sebuah perusahaan besar kurang dari 24 jam. Sedikit petunjuk, topik tersebut dipenuhi terminologi finansial dan bisnis serta harus disajikan dalam bahasa korporat, bilingual pula, yang berarti aku juga harus menerjemahkannya.
Itu pula sebabnya aku sangat menghargai waktu dan ketepatannya. Tanpa apresiasi tersebut, mustahil aku bisa menyelesaikan tugas. Aku sangat tepat waktu dan saat jam berdentang empat kali di sore hari, biasanya aku sudah meninggalkan kantor karena semua kewajiban telah tertunaikan. Biasanya ….
Kulirik jam digital di monitor komputerku. Di sana tertera 06.27 PM. Menghela napas, cuma itu yang bisa kulakukan. Tugas menyunting profil perusahaan klien yang diberikan Nana tadi memang tidak harus selesai hari ini karena dia menyerahkannya beberapa saat sebelum aku bersiap pulang. Kendati demikian, aku benci menunda-nunda dan ternyata butuh waktu lebih lama dari perkiraanku untuk menuntaskannya. Jauh. Lebih. Lama.
Sudahlah. Tiga menit kemudian, pekerjaan itu rampung dan aku telah mengenakan sepatu kets. Kuambil ransel yang tergantung di kursiku dan melemparkan pandangan ke penjuru ruangan.
Pada sembilan anjungan kerja yang berderet membentuk huruf U, para pekerja kreatif berjuang mencari ide, rancangan dan desain yang lebih unik dibandingkan perusahaan pesaing. Mulai fotografer hingga penata letak, hampir semuanya berpakaian kasual dan masih berada di tempat. Lembur atau bahkan menginap sudah menjadi kewajaran di Multimedia Wawa, mengingat studio produksi ini terletak di bangunan rumah, jadi tidak terikat jam kerja seperti pada bangunan perkantoran biasa.
Kuucapkan salam dan mereka membalasnya malas-malasan. Tidak masalah karena sekarang aku melangkah enteng keluar. Ya, saatnya pulang dan betapa aku menikmatinya.
Rute rumah-kantor sebenarnya ditempuh dengan dua kali naik angkot: bus Kopaja disambung mikrolet. Walau begitu, setelah mengetahui kondisi medan, aku otomatis mencoret mikrolet. Alasannya sederhana, jarak tempuh dari titik tempat turun Kopaja sampai ke kantor tidak terlalu jauh, paling cuma 3-4 kilometer. Terlebih lagi, jalanan di kawasan Tebet ini lebar dan tidak terlalu ramai, dengan barisan pepohonan rindang pada kedua sisinya. Itu sebabnya aku memilih berjalan kaki. Sehat, murah, menyenangkan.
Apalagi sekarang. Udara sejuk-sejuk hangat. Keremangan senja berpadu temaram cahaya oranye lampu jalan yang menyeruak menembus rimbunnya dedaunan, menghasilkan bayang misterius. Harus kuakui, keindahannya melebihi pancaran matahari sore seperti biasa kunikmati tiap kali pulang sesuai jadwal pukul 16.00. Ditambah lagu “Feel Good Inc” milik Gorillaz yang mengalun melalui peranti dengar kepala, satu kata menggambarkan kondisiku saat ini. Sempurna.
Sayang, begitu naik Kopaja, semuanya berubah. Jakarta kembali menampakkan wajah jeleknya. Pengamen melantunkan melodi penderitaan, kemacetan, polusi, dan tingkah polah pengguna jalan. Semuanya kuhadapi tiap pagi dan sore, mulai Senin sampai Jumat.
Saat-saat seperti inilah apati bermanfaat menjaga kewarasanku. Persetan pengamen teriak-teriak kelaparan. Apa peduliku terhadap polusi udara jika kota ini memiliki peluang lebih besar dari penyakit dalam hal membunuhku? Pengendara ugal-ugalan pun kupersilakan untuk saling bunuh dalam kecelakaan yang mungkin akan memberi selingan bagi kemacetan ini.
Itu juga alasanku memilih transportasi umum, untuk menghindari pengguna jalan. Mereka terlalu barbar. Jika memakai kendaraan pribadi, dan aku yakin aku pasti mematuhi peraturan lalu lintas, sopir angkot bisa saja menyerempetku saat kebut-kebutan mengejar setoran. Pengendara motor bisa saja mencelakaiku saat berbuat bodoh hanya demi menyerobot lampu merah. Ditambah tingginya tingkat pencurian kendaraan bermotor, aku paparkan diriku pada keburukan yang lebih rendah macam pengamen dan kemacetan. Setidaknya musik bisa menghaluskan semuanya.
Begitulah momenku di atas Kopaja. Menyebalkan, namun penuh berbagai jenis pemikiran. Kadang inspirasi menarik, tapi umumnya hanya sampah. Tidak masalah. Semua membantuku melewati lalu lintas metropolis nan menyesakkan.
Akhirnya tiba di rumah. Ukurannya 10 x 20 meter, satu tingkat, dilengkapi beranda serta taman kecil berisi bunga-bungaan warna-warni macam mawar, anggrek, dan matahari. Catnya kuning gading sedangkan gentingnya biru.
Seharusnya bangunan ini adalah surgaku. Secara keseluruhan memang demikianlah adanya. Segala kebutuhanku tersedia: video games, buku bacaan, akses internet, saluran televisi kabel, dan lain sebagainya. Sialnya, aku hidup bersama orang yang membuat kenikmatan memiliki fasilitas-fasilitas tersebut menurun drastis.
Kikik yang kudengar dari kamarnya sudah pertanda jelas, tapi aku harus memastikannya. Kubuka pintu dan mendapati dirinya telungkup bertopang dagu di ranjang, di hadapan laptop putih berlambang apel … milikku.
Betina berbusana kamisol dan celana pendek ketat ini adalah Erza, kembaranku. Ya, aku menyebutnya betina atas kegemarannya kawin. Ya, makhluk ini sangat senang kawin … dan pasangannya tak sebatas lawan jenis, tapi juga mencakup sesama jenis.
Harus kuakui, fisiknya mengakomodasi hobinya dengan sempurna. Tingginya 175 sentimeter, putih bersih dengan rambut kecokelatan panjang yang bergelombang indah, mata bulat bersinar berikut hidung mancung serta bibir tipis. Lekuk tubuh menawan dan payudara ranum juga membantu, kurasa.
Sifat acuh tak acuh umumnya menyelamatkanku dari beban memikirkan tabiatnya. Dia sudah dewasa dan tahu apa yang dilakukannya, jadi itu bukan urusanku. Tapi jelas urusanku jika dia menggunakan propertiku untuk memfasilitasi kebejatannya.
Sesuai dugaan, dialog kami singkat dan berakhir kurang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Aku memulainya cukup baik, menanyakan kenapa benda milikku dipergunakan tanpa sepengetahuan atau seizinku. Saudariku mengakhirinya dengan acungan jari tengah.
Cukup sampai di situ, aku mundur teratur. Tidak bijak berkeras hati menghadapinya. Erza impulsif dan beberapa hari lalu, ketidakstabilan mental membuatnya membanting laptopnya cuma karena obrolan jejaring pribadi membuatnya kesal. Mustahil aku mengizinkan hal serupa terjadi pada punyaku.
Kini, sendirian di kamarku, aku menghidupkan perangkat audio. Melodi “Life in Mono” karya Mono memenuhi ruangan. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur dan memejamkan mata. Satu lagi hari melelahkan berakhir.
Aku tahu, rutinitas ini membosankan. Senin sampai Jumat bekerja, Sabtu bercinta, Minggu berleha-leha. Cuma itu … dan selalu begitu ….
Tapi … apa peduliku?